POSTS
17
November 2019
Hidup Di Dalam Kristus
17
November 2019
Amsal 21:23
17
November 2019
DIBALIK KUASA SALIB
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
Karakter, Ragam

Sebuah perumpamaan berkata seorang bayi yang lahir bagaikan kertas yang putih; dan memang manusia tidak pernah terlahir punya pengalaman tentang hari esok. Namun, sebenarnya kita semua dapat belajar dari hari kemarin dan dari pengalaman orang lain. Kita meninggalkan jejak di belakang kita dan bisa menilai tapak kaki di depan dengan melihat kehidupan orang lain. Kehidupan seseorang dinilai bukan dari apa yang dimilikinya di tampilan luar, tetapi dari sikap dan nilai-nilai yang terpancar dari dalam dirinya.

“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” – (1 Timotius 4:12b)

Arti Keteladanan
Keteladanan adalah kesanggupan untuk memberi pengaruh dan dampak positif pada orang-orang sekitar melalui sikap, tingkah laku, tutur kata, kasih, loyalitas, dan komitmen. Keteladanan melibatkan kemampuan untuk memancarkan karisma dan menularkan karakter secara positif. Keteladanan juga merupakan kualitas hidup yang menunjukkan nilai-nilai universal, yang didasarkan atas kasih dan kebenaran. Menjadi teladan berarti memberi contoh yang patut diikuti, dengan meninggalkan petunjuk/rambu-rambu yang memudahkan orang lain untuk mencapai kondisi hasil yang serupa, atau bahkan lebih baik.

Mengapa Keteladanan Diperlukan?
Keteladanan diperlukan agar generasi selanjutnya, orang-orang yang dipimpin atau di sekitar kita dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keteladanan diperlukan demi terciptanya lingkungan jemaat dan masyarakat yang sehat, positif dan inovatif.

Bagaimana Caranya Menjadi Teladan?

Menjaga perkataan
Tutur kata yang baik menunjukan kedewasaan iman. Apa yang keluar dari mulut mencerminkan isi hati. Kalau hati kita baik, dari mulut kita akan keluar kata-kata yang baik; begitu juga sebaliknya, hati yang buruk akan menghasilkan perkataan yang buruk.

Bagaimana cara menjaga perkataan kita, supaya perkataan kita menjadi teladan?

Berdoa meminta pertolongan Tuhan (Mzm. 141:3); seperti pemazmur, yang meminta pertolongan Tuhan untuk menjaga mulut dan bibirnya. Tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara (Mzm. 39:2). Lidah seperti api yang dapat membakar, maka sebaiknya kita diam saja daripada berkata-kata yang sia-sia. Berpikir dahulu sebelum berbicara akan menolong kita terhindar dari perkataan yang tidak bermakna. Tidak menyebarkan gosip, berita hoaks, fitnah, dan tidak berkata kotor serta tidak berkata-kata yang membangkitkan kemarahan bagi orang lain (menjadi provokator).

Menjaga tingkah laku
Kita tidak hanya belajar pandai dalam memahami Firman Tuhan, tetapi juga wajib rajin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu diwujudkan dalam setiap tingkah laku yang menyerupai Yesus, mengampuni, tidak mendendam, rendah hati, tidak egois, selalu penuh sukacita, selalu menyapa orang lain dengan ramah, tidak merampas hak orang lain, dan hal-hal lain yang Yesus lakukan/hidupi. Ketika Firman Tuhan benar-benar menjadi gaya hidup kita, Firman itu akan menarik banyak orang untuk meneladani hidup kita.

Membangun kasih
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Meningkatkan kesetiaan
Kata “kesetiaan” dalam bahasa Yunani ialah “pistis”- yang berarti kepercayaan, iman, kesetiaan. Secara umum, kata ini menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepada-Nya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama, ”pistis”; iman kepada Tuhan memang selalu membawa kepada kesetiaan mengikut dan melayani Dia

Menjaga kesucian
Kesucian berasal dari kata “suci” yang berarti keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia atau tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hati yang suci terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, tetapi terutama kesucian batiniah. Ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang tampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan diri kita dan sesama kita itu tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14)

0

07/2019 Juli, 2019 KEGA Anak, KEGA, KEGA Anak, Minggu ke-2, RENUNGAN

Hidup menurut daging atau Roh

5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Galatia 5: 16-26

Penjelasan :

Kita memiliki dua pilihan: dipimpin oleh Roh atau dipimpin oleh daging. Kita tidak bisa tidak memilih keduanya. Jika kita tidak hidup dipimpin oleh Roh, pasti hidup kita dipimpin oleh daging. Tapi ketika kita mengikuti pimpinan Roh, secara otomatis kita meninggalkan kedagingan kita. Pilihannya ada di tangan kita, apakah kita mau hidup oleh Roh, atau oleh daging. Dan pilihan kita akan menentukan buah apa yang akan dilihat dan dinikmati orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu kita perlu terus membangun manusia roh kita. Jika kita tidak membangun manusia roh kita, sebenarnya kita sedang hidup dalam daging.

Pertanyaan :

  1. Apa yang harus dilakukan supaya kita tidak menuruti keinginan daging?
  2. Apakah buah dari mengikuti pimpinan Roh?
  3. Apakah buah dari tidak mengikuti pimpinan Roh?
  4. Apakah selama ini kamu sudah hidup didalam pimpinan Roh?
0

07/2019 Juli, 2019 KEGA Baby, KEGA, KEGA Baby, Minggu ke-2, RENUNGAN
Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.
Yesaya 5:20

Penjelasan :

Jika ada Yesus dalam hidup kita pastilah kita engga akan tahan jika kita terus berbohong, suka mengambil barang yang bukan milik kita, dll. Namun pastilah kita akan suka menolong orang, saling berbagi dengan teman-teman, dan saling mengasihi…

Aktivitas :

Bermain Yesus berkata

Gerak & Lagu :

Bila Roh Allah ada didalamku

Doa :

Tuhan, aku mau bertumbuh dalam pengenalanku akan Engkau. Sehingga buah

0

07/2019 Juli, 2019 Toga, Daily Devotion, Minggu ke-2, RENUNGAN, TOGA

God gives us things to share; God doesn’t give us things to hold

Mother Theresa

M1

MENERIMA FIRMAN

Berdoalah supaya hari ini kita dapat mengerti isi hati dan pemikiran Allah dalam diri kita melalui Firman-Nya!

M2

MERENUNGKAN FIRMAN

Hal memberi sedekah

6:1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Matius 6:1-4

REFLECTION

  1. Apakah yang Yesus ajarkan kepada kita dalam melakukan kewajiban agama kita? (Ayat 1)
  2. Hal apakah yang dilarang Yesus sewaktu kita memberi? Mengapa? (Ayat 2)
  3. Bagaimanakah seharusnya sikap hati kita kita sewaktu memberi? Mengapa? (Ayat 3-4)

DEVOTION

Yesus mengajarkan kita untuk memiliki sikap hati yang murah hati untuk kita memberi. Seringkali kita memberi bukan dengan dorongan Roh Kudus melain- kan dengan dorongan jiwa kita sehingga kita ingin dipuji, dihargai dan dibalas sebagai ganti ketika kita memberi kepada orang lain. Roh Kudus ingin kita terus menjadi berkat lewat memberi. Bukan hanya uang yang dapat kita beri melainkan bisa juga waktu, tenaga, pertolongan, kesabaran dan masih banyak bentuk pemberian lain yang dapat kita berikan kepada orang untuk menjadi berkat. Allah rindu kita memberi dengan segenap hati dengan tuntunan Roh Kudus yang ada di dalam kita. Ketika kita memberi dengan segenap kemurah- an hati, ada suatu berkat yang Allah berikan di alam yang tidak terlihat, inilah yang Yesus katakan dengan “upah di tempat yang tersembunyi”. Ketika kita memberi dengan segenap hati untuk memberkati orang lain, Allah telah menyiapkan upah balasan yang terbaik di alam roh bagi kita. Upah balasan di alam roh akan diberikan ke dunia yang nyata pada saat yang tepat bagi kita. Ingat, Allah yang membalasnya untuk kita, sehingga pastilah upah balasan dari Allah adalah yang terbaik bagi kita! Orang yang hidup dipimpin oleh Roh akan mampu memberi dengan kemurahan hati sehingga ia juga akan meneri- ma berkat dari Tuhan!

M3

MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN
  1. Ceritakan dalam jurnalmu suara Roh Tuhan yang berbicara kepadamu hari ini! (rhema/ perintah/ dosa/ janji)
  2. Lakukanlah pemberian kepada orang lain berdasarkan tuntunan Roh Tuhan yang ada di dalam kamu meskipun sulit rasanya, percayalah dengan iman bahwa Allah akan membalas kepadamu apa yang terbaik bagimu!

M4

MEMBAGIKAN FIRMAN KRISTUS

Ceritakanlah insight yang kamu dapatkan hari ini kepada teman kompakmu dan memberilah sesuai dengan tuntunan Roh Kudus!

0

07/2019 Juli, 2019 – Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Ibrani 11:6

Tanpa iman kita tidak mungkin berkenan kepada Allah. Dengan perbuatan kita, kita tidak bisa menyenangkan Tuhan. Hanya dengan percaya saja. Dalam hal ini, hanya dengan percaya kepada karya Kristus, yang sudah menyelesaikan segala sesuatunya melalui salib.

Dengan iman, yang percaya akan Yesus yang memberikan jalan, kebenaran, dan hidup kita dapat mengenal Allah. Kita dapat belajar mengikuti pimpinan Roh Kudus yang tidak kelihatan. Kita dapat belajar menang terhadap keinginan kita karena percaya Yesus yang menjadikan kita baru, yang menjadi kekuatan dan pertolongan kita.

Mari kita dengan iman, percaya bahwa penebusan-Nya yang sempurna akan menolong kita hidup dalam kebenaran dan berkenan kepada Dia! Mari kita sungguh-sungguh mencari Dia dengan iman!

Pertanyaan :

(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
    1. Apakah hal yang membuat kita tidak berkenan kepada Allah?
    2. Apa yang harus kita lakukan jika kita sedang melihat hal-hal duniawi dan bukan Allah?
    3. Apakah yang akan kita terima jika kita sungguh-sungguh mencari Allah?
    1. Apakah selama ini saudara beriman kepada Allah yang hidup?
    2. Menurut saudara, kepada siapakah hari-hari ini saudara mengarahkan pandangan dan hati saudara?
    3. Bagaimana hari-hari ini saudara mencari Allah?
    1. Apakah yang akan saudara lakukan saat ini kepada Allah?
    2. Hal apakah yang akan saudara lakukan bagi keluarga dan komunitas agar mereka pun mengalami dan hidup dalam kebenaran ini?
    3. Datanglah kepada Tuhan, berdialoglah kepada-Nya. Katakan : Bapa, apa yang Engkau mau dari hidupku ini? Tulis dan lakukanlah!

Topik Doa:

Doakan bagi saudara-saudara kita yang berada di ladang misi. Agar iman mereka semakin bertumbuh dan apapun yang mereka lakukan sungguh-sungguh mereka melihat Allah hadir dan nyata bagi mereka.
0

Skip to toolbar