POSTS
9
February 2020
ZAKHARIA
9
February 2020
SURGA DI BUMI (7)
8
February 2020
Setia dalam Iman
8
February 2020
SURGA DI BUMI (6)
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
Marketplace, Ragam

Sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan sesama, kita tidak pernah bisa menghindari kritik. Setiap orang memiliki penilaian tentang orang lain, dan penilaian yang disuarakan itu berwujud pujian dan kritik. Pujian mengandung penilaian positif, sedangkan kritik mengandung penilaian negatif. Itu sebabnya, orang cenderung bereaksi negatif pula terhadap kritik. Padahal sebenarnya, kritik yang disikapi dengan respons yang positif justru akan menjadi keuntungan tersendiri, karena melaluinya kita akan berintrospeksi dan berbenah diri. Artikel ini akan memperlengkapi kita semua untuk bersikap cerdas terhadap kritik, dengan respons yang positif.

Secara umum, semua kritik memang mengandung penilaian negatif, namun tujuannya dapat dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, kritik yang konstruktif (membangun). Kritik yang konstruktif menyampaikan penilaian negatif dengan tujuan untuk membangun si sasaran kritik agar memperbaiki diri dalam hal topik penilaian negatif itu. Yang kedua adalah kritik yang destruktif (menghancurkan). Jelas, kritik yang destruktif melontarkan penilaian negatif hanya demi kepuasan si pengkritik karena si sasaran kritik hancur mentalnya, hingga bahkan mungkin tidak mampu bangkit kembali dan topik penilaian negatif itu menjadi sesuatu yang permanen pada dirinya.

Contoh perbedaan antara kedua kategori kritik ini kira-kira dapat kita lihat dalam situasi berikut: si A yang baru bekerja selama dua bulan dikritik oleh dua orang karena tak kunjung mahir menggunakan mesin faksimili di kantor. Pengkritik pertama adalah pengawas dari bagian SDM, yang memang melakukan evaluasi bulanan terhadap kinerja setiap karyawan baru selama masa percobaan. Pengawas SDM ini berkata, “Saya perhatikan kamu belum mahir menggunakan mesin faksimili. Sebenarnya kamu sudah bekerja selama dua bulan, dan itu adalah waktu yang cukup untuk menguasai cara penggunaan mesin itu. Saya sangat berharap kamu bisa menyelesaikan masa percobaan di akhir bulan depan dalam posisi sudah menguasai hal ini. Apakah menurutmu kamu perlu bantuan untuk mempelajarinya secara khusus dari rekan lain yang rutin menggunakannya? Saya bisa mengatur supaya si B lembur sebentar, mungkin setengah jam saja, selama beberapa hari untuk keperluan ini.” Sementara itu, pengkritik kedua adalah si C, yaitu rekan kerja yang merasa terancam posisinya dengan munculnya si A. Si C berkata, “Hmmm… Rupanya kamu belum bisa menggunakan mesin faksimili dengan benar, ya. Padahal kamu sudah bekerja dua bulan. Rata-rata staf di sini biasanya berhasil menguasainya dalam waktu satu-dua minggu saja. Mungkin kamu memang tidak cocok bekerja di kantor ini, apalagi kalau di akhir bulan depan kamu tetap belum lancar menggunakan mesin itu.” Kita dapat melihat dengan jelas bahwa kritik pertama dari si pengawas adalah kritik yang konstruktif, sedangkan kritik kedua dari si C adalah kritik yang destruktif.

Nah, dalam situasi contoh di atas, si A sebenarnya bisa memilih untuk berespons secara positif atau negatif terhadap kedua kritik. Kedua kritik itu memang bisa menjadi pemacu semangat bagi si A untuk berlatih serius menggunakan mesin faksimili, agar menunjukkan kemajuan berarti di akhir masa percobaan dan bertahan dalam pekerjaannya. Di kemudian hari, jika si A tetap bertahan, bukan tidak mungkin ia akan mengalami peningkatan karir karena sikapnya yang mau belajar itu. Jadi, entah itu adalah kritik yang konstruktif atau destruktif, selalu ada pilihan untuk berespons dengan cerdas dan positif. Berikut adalah beberapa kiatnya:

Pertama, pahamilah bahwa sebagian orang secara alami memang suka mengkritik. Orang-orang seperti ini mudah menemukan kesalahan serta jarang menyadari bahwa mereka mungkin menyakiti perasaan orang lain, dan memang biasanya tidak bermaksud untuk melukai perasaan orang lain yang dikritiknya. Jika Anda bekerja bersama si pengkritik, cobalah untuk tidak menanggapi komentarnya terlalu serius. Selalu “memasukkannya ke dalam hati” sama saja dengan menciptakan monster kebencian dan kemarahan. Monster tersebut bisa merusak hubungan Anda dengan atasan atau rekan kerja itu.

Kedua, hindari amarah. Memang, reaksi kita secara fisik terhadap kritik sangat tergantung pada sifat kritik, situasi yang berlangsung, dan pihak yang mengkritik. Namun, hal utama yang harus diingat adalah bahwa dalam keadaan apa pun, jangan merespons kritik dengan kemarahan. Kemarahan hanya akan menimbulkan suasana tak nyaman dan memicu keributan. Selain itu, kemarahan juga cenderung memperburuk citra diri Anda. Karena itu, cobalah untuk tetap tenang dan perlakukan si pengkritk dengan hormat dan pengertian. Ini akan membantu meredakan situasi. Tunjukkan bahwa Anda adalah orang yang kuat dan cobalah untuk tidak terpancing.

Ketiga, menyingkirlah sejenak. Jika Anda merasa mulai kehilangan kendali diri dan tersulut untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang berpotensi merusak, menjauhlah. Ketika Anda dikritik dalam suatu forum pertemuan di tempat kerja, mintalah izin dengan sopan untuk meninggalkan ruangan, untuk menenangkan diri. Ingatlah, komentar negatif dari seseorang memang bisa saja melukai, tetapi lebih berbahaya lagi jika Anda membiarkan kritik tersebut merusak diri Anda sendiri.

Keempat, gunakan sudut pandang si pengkritik. Kadang-kadang, kritik yang ditujukan kepada Anda mungkin terasa tidak masuk akal pada saat itu. Namun saat sudah tenang, biasanya Anda akan menemukan kebenaran di dalam sebuah kritik, karena itu adalah refleksi jujur tentang sudut pandang orang lain terhadap Anda. Mundurlah sejenak dari sudut pandang Anda, dan cobalah gunakan sudut pandang orang lain, mungkin dengan cara meminta pendapat jujur dari seorang teman lainnya. Dengan demikian, Anda akan mampu bersyukur bahwa sudut pandang si pengkritik itu memperkaya pemahaman Anda akan diri sendiri, dan kritiknya adalah pertanda bahwa ia peduli terhadap kemajuan Anda.

Kelima, temukan pelajarannya. Manusia memang tidak pernah luput dari berbuat salah. Itu sebabnya, kita memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Maka, tidak peduli apa pun kritik yang ditujukan kepada Anda, temukan sesuatu yang dapat Anda pelajari. Tingkatkan diri Anda menjadi lebih baik melalui pelajaran-pelajaran berharga di balik setiap kritik. Inilah yang akan mengubah perasaan “sakit” saat dikritik menjadi keuntungan tersendiri.

Belajar menghadapi kritik secara positif adalah bentuk peningkatan keterampilan berhubungan dengan orang lain. Kritik dari orang lain adalah ruang kelas untuk pembelajaran itu. Walau demikian, kenali pula kalau-kalau kritik itu sebenarnya hanyalah cercaan atau cacian yang “menyamar” sebagai kritik, dari orang yang tidak memiliki penilaian yang valid namun cenderung suka bermulut besar saja. Jika demikian, abaikan saja kritik itu. Tetapi sebaliknya, jika kritik itu memang mengandung penilaian yang valid, lakukan kelima kiat yang telah dijelaskan tadi, dan nikmati proses pembelajaran Anda. Tentu saja, jika Andalah yang menjadi si pengkritik, pastikan pula bahwa penilaian Anda memang valid dan Anda bebas dari tujuan-tujuan yang destruktif.

“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.” (Ams. 12:15)

“Seorang kawan memukul dengan maksud baik,…” (Ams. 27:6)

0

Karakter, Ragam

Biblical Mindset

Alkitab bahasa Inggris versi terjemahan Contemporary English Version (CEV) menuliskan Roma 12:2 sebagai berikut: “Don’t be like the people of this world, but let God change the way you think. Then you will know how to do everything that is good and pleasing to him.”

Ketika saya merenungkan ayat ini, saya terkesima karena Alkitab mengatakan bahwa agar kita dapat mengerti bagaimana melakukan segala sesuatu yang baik, semuanya dimulai dengan dan ditentukan oleh cara berpikir kita. Lebih jauh lagi, Alkitab juga mengatakan agar kita dapat mengerti bagaimana melakukan segala sesuatu yang dapat menyenangkan Tuhan, semuanya juga ditentukan oleh cara berpikir kita. Dengan kata lain, transformasi pertama yang terjadi ketika kita mengaku Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi kita seharusnya adalah transformasi pikiran (mindset).

Mindset Ilahi: Kemampuan Melihat Potensi Ilahi Ketika Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi salah satu anak Isai sebagai pengganti Saul, ia bertemu dengan kakak-kakak Daud terlebih dahulu. Pada awalnya, Samuel menyangka bahwa karena postur tubuh, keahlian, dan karisma kakak-kakak Daud tampak begitu menonjol, tentu merekalah yang akan dipilih Tuhan sebagai pengganti Raja Saul yang juga memiliki kualitas yang mirip itu. Namun, Tuhan memilih Daud yang masih muda.

Beberapa ayat setelah kejadian itu, Alkitab menceritakan bahwa Tuhan tidak salah pilih. Ketika semua kakak-kakaknya merasa ketakutan menghadapi Goliat, Daud justru dengan berani berkata kepada Goliat, “Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau kepadaku; engkau akan kukalahkan … Maka seluruh dunia akan tahu bahwa … TUHAN tidak memerlukan pedang atau tombak untuk menyelamatkan umat-Nya. Dialah yang menentukan jalan peperangan ini dan Dia akan menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” Di akhir cerita, kita tahu bahwa keyakinan Daud bukan gertakan kosong. Ia menang dan kisah kemenangannya dikenang hingga saat ini. Mindset ilahi membuat Anda dapat melihat potensi ilahi yang Tuhan sediakan di dalam diri Anda, di dalam diri orang lain, dan di dalam situasi-situasi yang ada di sekitar Anda. Mindset ilahi akan membuat Anda mampu melihat peluang di dalam sebuah tantangan, harapan di tengah kesulitan, dan potensi kemenangan di dalam kegagalan.

Bagaimana Mengembangkan Kemampuan untuk Melihat Potensi Ilahi

1. Akui ketidakmampuan kita.
Jika kita merasa kuat, kita akan cenderung menggunakan pengalaman, pengetahuan, keberanian, jejaring atau kenalan, dan ketekunan atau kesabaran diri sendiri dalam menghadapi tantangan. Namun, ketika kita menyadari keterbatasan kita dan berharap sepenuhnya kepada Tuhan, sebenarnya kita sedang berusaha mengintegrasikan pengalaman, pengetahuan, keberanian, jejaring, dan ketekunan kita dengan kuasa Allah. Mengakui ketidakmampuan kita di hadapan Allah tidak sama dengan sikap pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, ini adalah sikap aktif yang mengizinkan Allah mentransformasi pikiran, perasaan, komunikasi, dan tindakan kita sehingga memiliki kualitas dan kuasa Ilahi.

2. Akui kemahakuasaan Allah.
Apa yang kita rasakan jika kita sedang mengalami kesulitan finansial dan presiden direktur sebuah bank internasional mengatakan kepada kita bahwa ia akan membantu kita mengatasi kesulitan itu? Saya yakin kita akan merasa sangat tenang, bahkan sebelum bantuan itu direalisasikan dan masalah kita benar-benar selesai. Mengapa? Kita yakin kita sedang berada di tangan orang yang ahli di bidangnya. Kita akan berpikir bahwa yang perlu kita lakukan hanyalah menaati semua instruksinya dan kita akan terbebas dari masalah kita. Hal yang sama juga berlaku dalam mindset ilahi. Kita tidak bisa hanya membuat pernyataan iman sebagai jargon-jargon yang palsu. Kita harus benar-benar percaya bahwa kemahakuasaan Allah pencipta alam semesta ini mampu menolong hidup kita. Kita harus benar-benar memercayai kredibilitas Allah sampai pikiran kita dapat berkata, “Yang perlu saya lakukan hanyalah menjalankan semua instruksi Tuhan, maka hidup saya akan sejahtera di dalam kuasa-Nya.”

3. Berikan yang terbaik melalui ketaatan.
Mengembangkan mindset ilahi tidak cukup hanya dengan mengakui ketidakmampuan kita dan mengakui kemahakuasaan Allah. Kita harus benar-benar melakukan aturan main Tuhan dengan taat. Hanya ketika kita telah melakukan yang terbaik dalam ketaatan terhadap Firman Tuhan, Tuhan akan menjamin hasil akhir yang gemilang bagi kita.

RESPONDING TIP :
“Di dalam kelemahanmulah kuasa-Ku menjadi nyata.”

0

Alkitab dan Pengetahuan, Ragam

Mengapakah penting untuk mengetahui umur Bumi?
Di sepanjang sejarah Alkitab sampai ke abad 19, hampir semua orang di seluruh dunia percaya bahwa bumi dan alam semesta adalah muda, yaitu di bawah umur 20.000 tahun. Namun dengan munculnya dua teori penting pada abad 19, dunia ilmu pengetahuan dan dunia teologia Gereja telah mengalami suatu revolusi dan tantangan besar berkaitan dengan asal usul kosmos, kehidupan dan umur alam.

* Tantangan pertama muncul di dunia geologi, yang dinamakan uniformitarianisme dan dipopulerkan oleh Sir Charles Lyell. Lyell mengajarkan bahwa ada kolom geologis yang terdiri dari jutaan lapis tanah dan batu yang diletakkan secara perlahan-lahan selama milyaran tahun satu di atas yang lain secara uniform (seragam/sama persis).

* Tantangan kedua muncul di dunia biologi, yang dinamakan teori evolusi dan dipopulerkan oleh Dr. Charles Darwin. Darwin telah mengajarkan bahwa makhluk-makhluk telah mengalami perubahan-perubahan, secara kecil-kecilan, selama milyaran tahun, dari yang sederhana sampai kepada yang rumit, lewat proses seleksi alam. Buktinya, kata Darwin, adalah fosil-fosil yang dapat ditemukan dalam lapisan-lapisan batu di kolom geologis yang menunjukkan perubahan dari spesis satu kepada spesis lain.

Kedua teori pada pertengahan abad 19 itu telah bersama-sama menggoncangkan dunia Gereja yang tidak tahu bagaimana menghadapi dampak dari pengajaran yang menyatakan bahwa semua kehidupan di bumi ada sebagai hasil proses yang terjadi secara acak, secara kimiawi dan biologis tanpa adanya campur tangan Tuhan. Bahkan proses itu telah berlangsung selama milyaran tahun, secara kebetulan, sehingga umur bumi dinyatakan bukan puluhan ribu tahun seperti yang diajarkan dalam Alkitab, melainkan milyaran tahun.

Perlawanan antara falsafah Darwinisme dan Alkitab itu menyebabkan ratusan juta orang Kristen, khususnya kaum muda, meninggalkan imannya. Mereka memilih untuk percaya ilmuwan atheis daripada ilmuwan yang percaya Alkitab. Inilah sebabnya terjadi penghancuran dalam iman Kristiani dan moralitas masyarakat di Dunia Barat selama 100 tahun belakangan ini.

Mengamati seluruh situasi dan sejarah ini, sangatlah penting untuk kita mengetahui umur bumi dan alam semesta yang sebenarnya. Kita melihat bahwa kebenaran Alkitab sedang dipertaruhkan, ditantang dan dilawan. Itu sebabnya, memahami bukti-bukti ilmiah yang sesungguhnya mendukung bahwa bumi adalah muda akan menjadikan pondasi iman kita lebih kuat dan kita bisa mulai merebut kembali jiwa-jiwa yang dibelenggu oleh “orang yang kuat” karena kita di pihak Dia “yang lebih kuat” (Luk. 11:21-22).

Evolusi-Mikro dan Evolusi-Makro
Beberapa bulan depan kita akan memeriksa dengan lebih teliti tentang perbedaan evolusi-mikro dan evolusi-makro, namun penting untuk kita mengerti perbedaannya secara singkat dalam diskusi bulan ini.
Evolusi-mikro adalah perubahan kecil-kecilan berdasarkan kapasitas variasi menurut isi DNA dalam sel-sel kita. Evolusi-mikro muncul secara nyata di mana-mana, misalnya, manusia. Manusia memiliki banyak sekali variasi, suku, corak, warna kulit, mata dan rambut, ukuran ketebalan tulang, tinggi dsb. Namun manusia selalu menghasilkan manusia sebagai keturunannya. Demikian halnya dengan segala jenis (genera) makhluk hidup lainnya. Banyak variasi anjing, tetapi anjing selalu menghasilkan anjing. Banyak variasi kucing, tetapi kucing selalu menghasilkan kucing. Kucing tidak pernah melahirkan anjing atau tikus. Kucing hanya menghasilkan kucing. Inilah evolusi-mikro. Di seluruh kolom geologis dan catatan fosil, evolusi-mikro sangat nyata sebagaimana dalam dunia nyata masa kini. Evolusi-mikro ini sejalan/konsisten dengan pernyataan Firman Tuhan.

Evolusi-makro adalah falsafah dan teori bahwa dalam jangka waktu yang cukup panjang, atau dengan kata lain, perubahan-perubahan kecil selama milyaran tahun dapat menghasilkan jenis (genera) yang baru. Misalnya, ikan berubah menjadi amfibi (salamander), yang berubah menjadi reptilia (kadal), yang berubah menjadi mamalia (babi), yang berubah menjadi mamalia air (ikan paus). Evolusi-makro tidak pernah diamati ataupun terbukti dalam dunia fosil atau dunia hidup. Evolusi-makro yang biasa disebut evolusi atau Darwinisme sebenarnya hanya ada dalam alam pikiran manusia, yang diwarnai penolakan akan adanya Pribadi Pencipta.

Hukum Probabilitas
Oleh karena paham evolusi-makro hanya dapat diterima jika memang umur bumi adalah sangat-sangat tua (milyaran tahun), maka ilmuwan-ilmuwan yang anti-Allah, anti-Alkitab, harus mencari bukti bahwa bumi adalah tua sekali. Tanpa membuktikan jangka waktu milyaran tahun ini, teori mereka gagal, karena tanpa milyaran tahun proses evolusi yang menghasilkan jenis makhluk hidup yang baru tidak mungkin terjadi. Prof. Chandra Wickramasinghe dan Prof. Sir Fred Hoyle, keduanya pemenang Nobel dalam bidang matematika, berkata bahwa kemungkinan evolusi telah terjadi dalam milyaran tahun adalah sama mungkin seorang buta ditugaskan menemukan bola kecil berwarna kuning di dalam alam semesta yang penuh dengan milyaran bola kecil berwarna putih. Si buta diberi waktu 5 menit saja untuk menemukan satu bola kuning tersebut. Wickramasinghe dan Hoyle juga mengadakan perhitungan tentang kemungkinan satu perubahan sel terjadi (kemungkinan yang dapat membuktikan teori tentang proses seleksi alam dan evolusi-makro) sehingga terjadi perubahan dari satu makhluk kepada makhluk yang lain, dan hasilnya adalah satu dari 1040.000. Apa artinya?

Mari kita lihat angka 10 dengan 40.000 x 0 di belakangnya:

1000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000……….

Ini baru 10100 – harus ada 400x lebih banyak “0” baru lengkap sebagai satu kemungkinan dalam 1040.000! Inilah kemungkinan satu perubahan sel saja, yang setelah jangka waktu sekian lama, menurut teori Darwinisme akan menghasilkan perubahan jenis makhluk hidup. Artinya, untuk satu makhluk berubah dari satu makhluk kepada makhluk yang lain akan diperlukan milyaran perubahan yang masing-masing sama mustahil! Wickramasinghe dan Hoyle, kedua pemenang Nobel itu, menegaskan bahwa tidak ada cukup waktu untuk teori evolusi dapat menghasilkan kehidupan di bumi. Hukum Probabilitas menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan yang realistis sedikit pun bagi evolusi untuk dapat menghasilkan kehidupan yang paling sederhana sekalipun, apa lagi makhluk kehidupan yang lebih rumit. Ternyata manusia akan memerlukan iman luar biasa untuk percaya paham evolusi yang mustahil ini!

Evolusi Memerlukan Milyaran Tahun
Karena segala kemustahilan proses evolusi ini, maka sahabat terdekat paham evolusi-makro adalah waktu, yaitu waktu yang panjang sekali! Oleh karena itu, ilmuwan-ilmuwan anti-Allah dan anti-Alkitab berupaya menghasilkan umur-umur dalam metode penanggalan yang sangat panjang supaya teori mereka dapat diterima. Selalu nyata bahwa usaha mereka adalah anti-Allah dan anti-kebenaran. Rasul Paulus (1Timotius 6:20-21), telah menasihati kita agar menghindari:

“…omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman.”

Paham evolusi-makro adalah salah satu usaha Iblis untuk merusak iman kita supaya kita juga menyimpang dari iman. Syukulah bahwa kebenaran adalah kebenaran dan kita tidak perlu takut terhadap kebenaran. Kebenaran akan memerdekakan kita dan kebenaran dalam ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa bumi adalah muda dan tidak tua. Namun, kita berhadapan dengan tipu daya kuasa kegelapan yang berusaha meyakinkan dunia bahwa bumi ini adalah sangat tua. Mari kita melihat beberapa metode yang dipakai para ilmuwan untuk membuktikan bahwa alam semesta berusia sangat tua bahkan milyaran tahun.

Metode Carbon-14 atau Radiocarbon
Metode yang paling umum dikenal adalah metode Carbon-14 yang biasa ditulis 14C. Metode ini sebenarnya tidak dapat dipakai untuk mengukur umur batu-batuan atau lapisan-lapisan sedimen. Metode 14C hanya dapat dipakai untuk menghitung umur bahan organik mulai dari meninggalnya bahan organik tersebut. Ada beberapa hal yang kita perlu ketahui:

* 14C terus-menerus diciptakan dalam lapisan atas atmosfer bumi melalui masuknya sinar kosmik 14N (Nitrogen-14). Oleh karenanya ratio 14C dan 14N di atmosfer bumi adalah stabil.

* Organisme-organisme yang hidup terus-menerus menukarkan zat Carbon dan Nitrogen dengan atmosfer melalui proses bernafas, makan, dan fotosintesis. Selama organisme itu hidup, dia akan memiliki ratio 14C ke 14N yang sama dengan yang ada di atmosfer.

* Ketika suatu organisme meninggal, 14C merosot kembali menjadi 14N, dengan proses setengah-umur 5.730 tahun, yaitu lamanya 50% bahannya merosot. Dengan mengukur kadar 14C dalam bahan organik yang sudah mati kita dapat menghitung berapa lama organisme itu sudah mati, asalkan tidak ada kontaminasi data.

* Penanggalan Radiocarbon biasa dikalkulasi dari bahan organik seperti tulang-tulang, gigi, batubara, kayu yang difosilkan, dan kerang-kerang.

* Karena setengah-umur 14C sangatlah pendek, dan kemungkinan terjadi pencucian bahannya atau pencemaran proses itu sangatlah tinggi, maka ada ilmuwan-ilmuwan yang mengemukakan bahwa metode 14C ini hanya dapat diandalkan untuk bahan organik yang di bawah umur 3.000 tahun.

Penyelidikan oleh berbagai ilmuwan seperti W.F. Libby (Radio Carbon Dating), R. E. Lingenfelter (Reviews of Geophysics, Vol. 1), H. E. Seuss (Journal of Geophysical Research, Vol. 70), V. R. Switzur (Science, Vol. 157) dan Melvin Cook (Creation Research Society Quarterly, Vol. 5) telah membuktikan bahwa ratio 14C/12C belum mencapai kestabilan (steady-rate) dan sesungguhnya masih meningkat kecepatannya sehingga ukuran lewat 3.000 tahun adalah tidak stabil dan tidak dapat diandalkan. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa untuk kembali kepada saat kadar karbon mencapai nol maka hanya diperlukan waktu 10.000 tahun saja. Artinya proses penghancuran, kematian dan pemerosotan 14C/12C di bumi dengan kuat menunjukkan bahwa tidak pernah terjadi kematian sebelum 10.000 tahun lalu di bumi!! Ini sangat bertentangan dengan paham evolusi-makro, namun justru persis sesuai dengan data yang ada di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa kematian pertama yang terjadi di bumi, yaitu di zaman Adam dan Hawa, adalah sekitar 6.000 tahun lalu (Rm. 5:12), “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”

Kejanggalan perhitungan umur-umur fosil dengan sistem 14C/12C ini terlihat jelas dari contoh berikut ini yang menunjukkan perbedaan umur bila metode-metode yang lain dipakai. Kerangka manusia yang ditemukan di Sunnyvale, California, diperkirakan berumur 70.000 tahun dengan metode aspartic acid racemization (World Archaeology, Vol.7,1975,p.160). Umur itu direvisi pada tahun 1981 ketika metode isotop Uranium-Timah (U-Pb) menghasilkan umur antara 8.300-9.000 tahun (Science, Vol.213, 28 August,1981,p.1003), lalu direvisi kembali pada tahun 1983 dengan menggunakan metode 14C dengan empat contoh dari kerangka yang sama yang menghasilkan umur antara 3.500-5.000 years (Science, Vol.220,17June,1983,p.1271)

Metode 14C justru, akhirnya, lebih meneguhkan kebenaran bahwa catatan sejarah Alkitab adalah metode penghitungan umur yang paling akurat!

Banyak orang tertipu karena penggunaan Metode 14C
Sebelum metode-metode Radiometrik ditemukan dan menjadi populer, metode andalan ilmuwan adalah 14C. Walaupun ilmuwan-ilmuwan sudah tahu bahwa metode itu adalah cacat, namun sistem itu dipakai dengan penyeleksian data yang sangat cermat, sehingga sebenarnya penelitian ini menjadi tidak valid dan tidak dapat dipercaya hasilnya. Semua data yang tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan dibuang dan dianggap cacat, sedangkan hasil yang sesuai dengan apa yang dicari dan diinginkan dikemukakan seolah-olah sudah pasti.

Akibatnya adalah umur-umur muda dibuang dan hanya data umur tua yang dipertahankan. Sistem selektif seperti ini telah menipu banyak sekali orang, hingga mereka yakin bahwa ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa umur-umur fosil, lapisan batu-batuan dsb sudah berumur ratusan juta, bahkan milyaran tahun.

Dulu kita diberitahu bahwa fossil fuel seperti minyak bumi (fosil-fosil makhluk laut) dan batubara (fosil-fosil tanamana darat) adalah hasil proses pembentukan yang memakan waktu selama ratusan juta tahun. Ini adalah salah satu hasil perhitungan 14C yang telah menipu begitu banyak orang selama seratus tahun. Kini kita tahu bahwa minyak dan batubara dapat dibentuk dalam waktu yang sangat pendek, misalnya sampah rumah tangga dapat diproses menjadi minyak yang dipakai dalam alat pemanas rumah. Ilmuwan Inggris, sejak 30 tahun yang lalu dapat mengubah sampah rumah tangga menjadi bahan bakar. “Kami sedang lakukan dalam 10 menit apa yang dikerjakan alam dalam 150 juta tahun”, kata Noel McAuliffe dari Universitas Manchester (Sentinel Star, 2/26/1982).

The Petroleum Exploration Society of Australia Nov.24,1996, hal.6-12 setelah melakukan berbagai uji-coba melaporkan, “Dasarnya – akumulasi dalam jumlah ekonomik dari minyak dan gas dapat dihasilkan dalam ribuan tahun saja dalam lembah sedimenter yang telah mengalami cairan panas selama masa yang sama.” Discover Magazine, 4/6/2006, hal.46 dalam artikel yang berjudul Anything Into Oil menemukan bahwa “isi perut kalkun, bagian-bagian mobil yang hancur, bahkan kotoran wc dapat saja dimasukkan ke dalam ujung yang satu mesin pengolah lalu keluar di ujung yang lain sebagai emas hitam (minyak) … dua jam kemudian.” Saat ini, hasil olahan semacam ini dinamakan biofuel.

Air Bah penyebab Fosil, Minyak dan Batubara


Kini sudah terbukti bahwa kita tidak memerlukan ratusan ribu atau jutaan tahun untuk menghasilkan kolom geologis dengan fosil-fosilnya, atau minyak dan batubara. Yang lebih menentukan adalah bencana, tekanan, panas dan penguburan dengan mendadak atau dengan cepat sekali. Ada banyak sekali contoh tentang minyak dan batubara yang dihasilkan dalam hanya puluhan tahun saja secara alam.

Suatu pertanyaan penting adalah mekanisme apa yang dapat menguburkan begitu banyak makhluk laut secara mendadak dan bersamaan, sehingga kemudian ditemukan sebagai minyak bumi, dan peristiwa apa yang menguburkan begitu banyak tanaman secara mendadak dan bersamaan, sehingga kemudian ditemukan sebagai batubara? Fenomena itu terjadi secara global di setiap benua. Hanya ada satu peristiwa dalam sejarah bumi yang dapat menghasilkan semuanya itu, dan itulah air bah dan bencana global yang terjadi di zaman Nuh pada 4.500 tahun yang lalu.

Makin banyak hal yang ditemukan dalam ilmu pengetahuan, dan sesungguhnya, ini berarti Alkitab makin terbukti sebagai benar dan tidak salah. Alkitab adalah andalan kita karena isinya sungguh sesuai dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan, dan sejarahnya ditulis oleh saksi mata segala peristiwa sejak penciptaan alam semesta hingga hari ini.

0

Marketplace, Ragam

Sebagai seorang pemimpin di lingkungan kerja, agar bisa selalu terhubung dengan staf dan rekan kerja, Anda perlu “turun ke lapangan” untuk bertemu dan berbicara dengan tim Anda, mengajukan pertanyaan, dan berada di sana untuk membantu bila diperlukan. Praktek ini di dunia kerja disebut dengan istilah management by wandering around. Gaya kepemimpinan seperti ini sedang dipopulerkan oleh Presiden Indonesia, Bp. Joko Widodo, yang terkenal dengan blusukan-nya.

Sebetulnya gaya kepemimpinan blusukan atau management by wandering around sudah dikenal sejak jaman kehidupan Yesus, namun kembali populer diperbincangkan di masa kini. Yesus selalu turun ke pasar-pasar, ke pesisir pantai, ke bukit-bukit, semuanya demi berjumpa dengan banyak orang, berdialog dengan mereka dan menolong mereka secara on-the-spot ketika diperlukan. William Hewlett dan David Packard, pendiri Hewlett Packard (HP), juga sering menggunakan pendekatan ini di perusahaan mereka. Tom Peters, dalam bukunya “In Search of Excellence” yang sangat sukses pada tahun 1982, mengutip cerita gaya kepemimpinan blusukan di perusahaan HP dan perusahaan lain yang menggunakan gaya yang sama – dan sejak saat itu, istilah management by wandering around (MBWA ) segera menjadi populer.

Apa manfaat dari blusukan di dalam perusahaan?
Jika Anda mempraktekkan gaya kepemimpinan blusukan di dalam perusahaan, Anda dapat menuai hal-hal positif sebagai berikut:

  1. Mendekatkan diri dengan staf dan tim kerja
    Ketika staf atau tim melihat Anda sebagai sosok yang rendah hati dan bukan hanya sebagai bos yang main perintah, mereka akan lebih terbuka dan memberitahu Anda apa yang tengah terjadi. Anda akan mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang masalah sebelum hal itu benar-benar menjadi masalah yang tidak tertangani.
  2. Menanamkan kepercayaan
    Staf dan tim yang mengenal Anda dengan lebih baik, akan lebih mempercayai Anda pula. Anda pun akan secara alami berbagi berbagai informasi, sekaligus meruntuhkan penghalang komunikasi dengan staf dan tim.
  3. Mempelajari berbagai pengetahuan dalam keseluruhan proses usaha
    Berdiri dari kursi Anda dan belajar apa yang terjadi setiap hari di lapangan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang fungsi dan proses kerja di perusahaan Anda.
  4. Mendapatkan akuntabilitas
    Ketika berinteraksi setiap hari dengan tim Anda, berbagai tugas kepada tim akan lebih cepat selesai, karena semua orang menjadi lebih termotivasi untuk menindaklanjuti instruksi kerja dari Anda. Mereka akan lebih bertanggung jawab karena mengetahui bahwa Anda akan selalu berada di samping mereka ketika dibutuhkan
  5. Meningkatkan semangat kerja staf dan tim
    Staf dan tim akan merasa lebih nyaman melakukan pekerjaan mereka ketika merasa diperhatikan, didengar, diberikan solusi dan diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide-ide. Hal ini tidak akan pernah terwujud bila Anda sering “bersembunyi” di belakang meja kerja Anda saja.
  6. Meningkatkan produktivitas
    Banyak ide-ide kreatif akan datang dari gaya kepemimpinan blusukan, karena ketika Anda turun ke lapangan, orang-orang merasa lebih santai untuk berkomunikasi. Ini memancing peningkatan produktivitas, karena staf dan tim lebih bersemangat untuk berkontribusi lebih besar. Hal ini tidak akan tercapai jika Anda sekedar memanggil mereka ke dalam ruang kerja Anda sebagai pimpinan, yang seringkali bagi mereka dapat terkesan menegangkan dan menyeramkan.

Bagaimana menerapkan blusukan di perusahaan?
Gaya kepemimpinan blusukan adalah suatu upaya untuk memahami berbagai masalah yang dihadapi oleh staf Anda, apa yang mereka lakukan, dan apa yang dapat Anda dukung untuk membuat pekerjaan mereka lebih efektif. Dengan berbagai manfaat yang sudah dijelaskan tadi, berikut adalah beberapa tips untuk menerapkannya:

  1. Bersikaplah santai dan informal ketika turun ke lapangan
    Karyawan Anda akan merasakan santai juga ketika Anda menunjukan sikap santai. Jangan bersikap terlalu formal atau kaku walau Anda adalah pimpinan, agar mereka tidak merasa tegang dan dapat merespon sesuai berbagai pertanyaan Anda dengan tepat.
  2. Banyak mendengarkan dan mengamati ketimbang berbicara
    Gunakan kesempatan ini untuk mendengarkan secara aktif. Ketika orang mendapati bahwa Anda tulus mendengarkan mereka, mereka akan mengungkapkan berbagai hal dengan lebih terbuka pula.
  3. Mintalah umpan balik
    Biarkan semua karyawan tahu bahwa Anda mengharapkan ide-ide mereka untuk membuat situasi kerja yang lebih baik. Tahan diri agar tidak menggurui dan memerintahkan apa yang Anda pikirkan, supaya Anda benar-benar dapat melihat apa yang orang lain katakan.
  4. Blusukanlah secara merata
    Jangan menghabiskan lebih banyak waktu hanya pada orang tertentu saja, atau bagian tertentu saja, karena hal ini akan menciptakan kecemburuan atau kecurigaan. Anda harus bersikap adil dalam berdialog dengan berbagai tingkat atau bagian.
  5. Berikan penghargaan secara spontan
    Jika Anda melihat sesuatu yang baik, tunjukkan apresiasi atau berikan pujian pada orang tersebut. Ini adalah cara yang efektif untuk menunjukkan rasa terima kasih Anda, sekaligus memotivasi orang tersebut untuk mencapai hal yang lebih besar/tinggi lagi.
  6. Gunakan blusukan sebagai bentuk meeting yang baru
    Ketimbang selalu melakukan rapat-rapat di ruang rapat tertutup, sekali-kali lakukanlah rapat dengan orang-orang di tempat kerja mereka dan di “kandang” mereka. Hal ini dapat membuat mereka merasa lebih nyaman. Komunikasikan harapan dan kebutuhan kepemimpinan/perusahaan saat blusukan, sehingga semua orang tahu apa yang dianggap penting oleh perusahaan.
  7. Jangan gunakan waktu blusukan untuk menilai atau mengkritik
    Ketika Anda ada di sekitar staf dan tim untuk mengkritik, marah atau mencela, ini bisa membuat mereka gugup atau bahkan takut, sehingga mereka akan bekerja dengan keraguan dan cenderung melakukan kesalahan yang tidak perlu. Namun tetaplah bersikap tegas, karena teguran tetap diperlukan apabila terjadi pelanggaran berat misalnya korupsi, kriminalitas, perbuatan amoral,dsb.
  8. Menjawab pertanyaan secara terbuka dan jujur
    Jika Anda tidak tahu jawaban dari pertanyaan mereka, katakan dengan jujur lalu tindak lanjuti dengan mencari tahu jawabannya. Jangan mengarang jawaban, karena menceritakan setengah kebenaran atau ketidakbenaran dapat menghancurkan kepercayaan staf dan tim kepada Anda sebagai pimpinannya.
  9. Berkomunikasilah dengan aktif
    Gunakan kesempatan blusukan untuk mengkomunikasikan hal-hal terpenting dari perusahaan, yaitu tujuan, nilai-nilai dan visi perusahaan. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk saling berbagi informasi, demi membantu staf dan tim untuk lebih memahami perusahaan, sehingga mereka melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik karena mengerti alasan di balik pekerjaan yang harus dilakukan.
  10. Gunakan blusukan sebagai sarana membangun hubungan personal
    Blusukan tidak selalu membahas tentang pekerjaan-pekerjaan-pekerjaan. Gunakan kesempatan ini juga untuk membangun hubungan. Kenalilah nama-nama istri dan anak-anak staf Anda. Cari tahu apa yang mereka suka lakukan atau di mana mereka akan pergi berlibur. Humor, tertawa dan bersenang-senang boleh disisipkan di tengah-tengah blusukan. Anda mungkin akan terkejut melihat betapa luar biasanya berhubungan secara pribadi dengan orang-orang di kantor Anda.

0

Karakter, Ragam

Malam kelam mencekam. Suasana itu tak seperti biasanya di Taman Getsemani. Nyala api obor menari-nari di tengah kegaduhan banyak orang. Mereka membawa pedang dan pentung mencari-cari Yesus, hendak menangkapNya. Lalu tampaklah Yudas menciumNya. Yudas, murid yang telah menyerahkan Dia. Serentak orang banyak mengepung dan menangkap Yesus. Akhirnya tragis. Yudas mati menggantung diri, bahkan sebelum Yesus disalibkan. Yudas menyesali kesalahannya, tetapi sayang responsnya sangat keliru. Ia menghakimi dan menghukum dirinya sendiri.

Kisah lain terjadi pada Petrus, seorang murid yang selalu bersama dengan Yesus. Petrus yang heroik dengan lantang berjanji bahwa ia tak akan mengkhianati guru yang dikasihinya. Tetapi apa daya, demi menyelamatkan diri ia tega mengutuk dan bersumpah menyangkali gurunya. Pada dini hari itu, kokok ayam segera mengingatkannya akan kata-kata Yesus. Dengan lunglai laki-laki dewasa itu menangis dengan pilu. Hancur semua yang dibanggakannya. Ia menyadari kesalahan besar yang telah dibuatnya. Namun kemudian pada hari setelah kebangkitanNya, di Danau Tiberias Yesus secara khusus berdialog dengan Petrus. Yesus mengetahui penyesalan hati Petrus. Ia memulihkan hati Petrus dan sekali lagi mengucapkan kata-kata yang dulu juga pernah diucapkanNya, “Ikutlah Aku!” Yesus mempercayakan jemaatNya kepada para rasul dan menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Akhir yang mulia.

Respons yang benar selalu mampu mengubah kesalahan menjadi sebuah pembelajaran untuk meraih kemenangan. Bagaimana dengan kita sendiri? Apa respons kita saat menghadapi kesalahan?

Respons yang tepat untuk memperbaiki kesalahan

Kesalahan bisa terjadi baik karena kelalaian diri sendiri ataupun karena faktor lain di luar diri pribadi, namun kesalahan selalu mendatangkan kerugian dan konsekuensi. Mungkin kita tidak punya pilihan lain ketika terlanjur melakukan kesalahan, tetapi selalu tersedia banyak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Sebenarnya, banyak hal yang fatal terjadi bukan ketika kesalahan dilakukan, tetapi justru karena respons kita yang keliru. Panik, takut, bingung, mencari kambing hitam atau berusaha untuk membela diri dan menutup-nutupi kesalahan, semuanya itu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, respons yang keliru membuat situasi menjadi lebih buruk lagi.

Diperlukan titik balik untuk mengubah pandangan kita terhadap sebuah kesalahan. Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan mungkin bisa menjadi suatu pijakan untuk permulaan yang baru. Kuncinya adalah kebesaran jiwa untuk mengakui kesalahan dan kerendahan hati untuk memperbaikinya. Bagaimana mengembangkan sikap seperti ini?

1. Mengakui kesalahan
Tak seorangpun yang luput dari sikap khilaf dan alpa. Kita pasti pernah membuat kesalahan. Sayangnya, tidak semua orang mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Padahal, menutupi kesalahan sama seperti menyimpan bara dalam sekam. Suatu ketika pasti terbakar. Menutupi kesalahan didorong oleh kepercayaan akan banyak mitos yang keliru tentang kesalahan. Ada orang yang menganggapnya sebagai aib, maka tabu jika ketahuan salah. Sebagian lain merasa takut dihukum atau dihakimi karena kesalahan itu. Sesungguhnya jika diakui secara terbuka dan obyektif, kesalahan dapat menjadi pembelajaran dan proses pengembangan karakter yang efektif.

2. Menerima koreksi
Kita mempunyai sepasang mata untuk melihat diri sendiri, tetapi semua tatapan orang lain pun tertuju pada diri kita, dan mereka akan melihat dengan lebih baik. Artinya, koreksi yang efektif berasal dari orang lain. Koreksi memang tidak selalu menyenangkan. Sering kali muka kita jadi merah saat dikoreksi. Namun seharusnya kita bersyukur karena ada orang yang mau peduli dan memberi masukan. Tiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda saat memberi koreksi atau masukan. Sebaiknya, koreksi atau masukan itu diterima dengan hati lapang, sambil kita juga tetap menyaring masing-masingnya, apakah benar relevan dan bermanfaat.

3. Menemukan titik kritis
Banyak pemicu yang membuat sebuah kesalahan bisa terjadi. Titik sering terjadinya kesalahan disebut sebagai titik kritis. Inilah titik tempat orang bisa berasumsi, seakan-akan seluruh situasinya serupa padahal tak sama. Banyak keputusan keliru atau kesalahpahaman terjadi karena asumsi. Titik kritis juga berarti kelemahan pribadi atau hal-hal yang perlu diwaspadai. Titik kritis setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Ada yang pelupa, suka nekat, ragu-ragu, kuatir, apatis, mudah bosan, kurang inisiatif, perfeksionis, ceroboh, dan lain-lain. Dengan menemukan titik kritis, kita bisa melakukan antisipasi untuk menghindari kesalahan.

4. Berkomitmen untuk perbaikan.
Pepatah berkata bahwa langkah terakhirlah yang menentukan. Tetapi sebenarnya, perbaikan perlu dilakukan sesegera mungkin, maka jangan tunggu saat terakhir baru mau berubah. Mungkin saja, kesempatan sudah berlalu tanpa menunggu kita.
Langkah perbaikan membutuhkan komitmen, karena kita cenderung mengulang kesalahan yang sama. Jika kita bisa belajar dan memperbaiki kekurangan yang ada, kita memiliki pengalaman untuk tidak jatuh pada kegagalan yang sama.

5. Melakukan restitusi
Restitusi biasanya kurang lazim dilakukan, meskipun sebenarnya ada proses pemulihan yang membutuhkan penggantian kerugian baik moral maupun material. Jika ada pihak-pihak yang telah dirugikan karena kesalahan yang terjadi, kita perlu melakukan restitusi. Namun, restitusi bukan berarti segalanya telah impas. Restitusi tidak menghapus kesalahan yang telah dibuat. Sebaliknya, restitusi merupakan penggantian kerugian yang sepatutnya sebagai konsekuensi atas sebuah kesalahan.

Word of Wisdom : Ketelitian menghindarkan kesalahan. Koreksi mencegah kesalahan-kesalahan berikutnya.

0

Marketplace, Ragam

Bisa dikatakan, hampir setiap orang di dunia kerja pasti mengalami kekecewaan. Tiga alasan kekecewaan yang paling sering menghinggapi para pekerja, diurutkan berdasarkan seberapa sering terjadinya, adalah: kecewa pada atasan langsung, kecewa pada lingkungan kerja atau rekan kerja, dan kecewa dengan tidak sebandingnya beban kerja dengan gaji. Memang, pekerjaan di tempat yang menyenangkan, yang dikelola dengan manajemen profesional, dengan orang-orang di dalamnya yang gampang bergaul, atasan yang penuh pengertian, gaji besar, fasilitas kerja lengkap, insentif dan komisi menggiurkan, serta tantangan kerja yang tidak terlalu sulit merupakan impian setiap pekerja. Sayangnya, impian itu amat sangat jarang terwujud. Boro-boro menyenangkan, Anda justru bekerja di kantor yang penuh tekanan dan intrik politik sana-sini, atasan yang menyebalkan, rekan kerja yang tidak peduli, sehingga Anda tak betah berlama-lama bekerja di situ.

Biasanya, berbagai kekecewaan tersebut masih mudah dikelola dalam masa kerja satu atau dua tahun awal. Tetapi menginjak tahun ketiga dan seterusnya, kekecewaan tersebut mulai menjelma menjadi patah semangat, masa bodoh, dan bahkan mati rasa. Nah, tahap inilah yang akan membahayakan karier Anda. Patah semangat akan membunuh waktu yang selama ini diinvestasikan untuk membangun karier dan kesuksesan Anda. Karena itu, kelola kekecewaan Anda sebelum terlambat. Bagaimana caranya?

1. Tetap berfokus melakukan yang terbaik
Anda harus ingat, fokus Anda dalam bekerja adalah membangun karier, kesuksesan, dan masa depan. Jangan izinkan berbagai kekecewaan membunuh masa depan Anda. Tetaplah berfokus pada bekerja dengan baik. Selalu lakukan yang terbaik dan tetap maksimalkan potensi Anda. Jika kekecewaan mulai menggangu hati dan pikiran, kembali alihkan perhatian Anda kepada fokus yang benar. Kalau perlu, katakan kepada diri sendiri, “Fokus saya dalam bekerja bukanlah mengurusi perasaan kecewa, tetapi mengumpulkan semangat untuk berjuang menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan.”

2. Mengucap syukur
Ketika kekecewaan mulai menerpa, latihlah respons otomatis Anda dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan karena Anda masih diberi kesempatan bekerja, mendapat gaji bulanan, dan m berkarya. Salah satu cara yang baik untuk melakukannya adalah memejamkan mata dan mengakui dalam ketenangan, “Terima kasih Tuhan, saya masih bisa bekerja. Saya mau berfokus pada apa yang masih saya bisa lakukan, bukan pada apa yang tidak bisa saya lakukan; pada apa yang sudah saya miliki, bukan pada harapan yang tidak terwujud.” Ucapan syukur semacam ini akan mengalirkan energi positif di dalam tubuh, pikiran, dan hati Anda. Hasilnya, Anda mampu kembali bekerja dengan kesegaran yang baru!

3. Latihan karakter
Tidak selamanya orang yang dikecewakan harus berkubang dalam kesedihan. Begitu juga di tempat kerja. Bila Anda benar-benar dikecewakan karena sistem manajemen yang kurang adil, misalnya, segera ambil hikmahnya. Di balik kejadian ini, Anda mendapatkan kesempatan latihan karakter, pengendalian emosi, dan pengendalian pikiran. Mungkin, Anda dituntun Tuhan untuk lebih tangguh menyikapi permasalahan di lingkungan kerja, atau Anda diajariNya untuk bekerja dengan maksimal di setiap suasana, baik itu suasana baik maupun yang kurang menyenangkan. Berbagai bentuk latihan karakter ini akan berguna suatu hari kelak. Misalnya, ketika Anda sendiri dipercaya memimpin orang lain, Anda akan menjadi lebih profesional. Jadi, jangan kecewa berkepanjangan, karena melalui berbagai situasi ini, Anda belajar dan berlatih lagi.

4. Pengendalian emosi
Kekecewaan yang tidak dilepaskan dan tumpuk-menumpuk akan membuat Anda rawan meledak, sehingga terlibat konflik, adu mulut, atau bahkan pertikaian. Yang harus Anda lakukan adalah berhati-hati dalam bekerja dan mengendalikan emosi. Jangan terjebak dalam konflik-konflik yang justru akan menghambat Anda. Memang hal ini tak selalu mudah, apalagi jika Anda terkait langsung dalam konflik tersebut. Namun dengan pengendalian emosi, Anda akan lebih tenang menjalankan tugas pekerjaan dan hasilnya pun akan jauh lebih baik.

5. Detoksifikasi
Istilah “detoks” (detoksifikasi) berarti proses membuang racun dari dalam tubuh kita. Kekecewaan adalah seperti racun dalam pikiran dan perasaan Anda. Racun ini harus dibuang setiap saat. Salah satu caranya adalah mencari seseorang untuk Anda mengungkapkan perasaan dan pemikiran ketidakpuasan Anda. Mintalah nasihat dan motivasi, atau juga koreksi, dari orang tersebut. Setelah melakukan “detoks”, Anda akan mendapatkan energi baru untuk berfokus membangun karier.

6. Mempraktikkan Firman Tuhan
Kita sering mendengar dan membahas berbagai Firman Tuhan dengan topik-topik berpikir benar, misalnya mengenakan pikiran dan perasaan Kristus, memikul salib dan menyangkal diri, mengampuni dan diampuni, dan sebagainya. Ketika kita mengalami situasi yang mengecewakan, inilah saatnya mempraktikkan berbagai bagian Firman yang sudah kita tahu untuk mengalami kuasanya. Seperti kiasan dalam bahasa Inggris, inilah saatnya “dancing in the rain” bersama dengan Tuhan! Di saat inilah, Anda perlu mengandalkan Firman Tuhan sepenuhnya dan meninggalkan pengertian Anda sendiri (Ams. 3:5-8).

Mengelola kekecewaan memang tidak mudah dan membutuhkan komitmen yang kuat. Kegagalan mengelola kekecewaan pun bisa berakibat pada hancurnya semangat, dan hancurnya karier atau bahkan hidup Anda. Tetapi, pertanyaan yang terpenting yang dapat membantu membangkitkan kita semua adalah: Siapa yang paling bertanggung jawab menjaga semangat hidup Anda? Siapa yang bertanggung jawab untuk memutuskan untuk tetap kecewa atau bangkit melawan kekecewaan ini? Siapa yang memiliki otoritas bagi hidup Anda untuk memilih respons yang benar atau yang salah?

Tentu Anda dan saya sama-sama tahu jawabannya. Maka, bagi kita yang sedang mengalami kekecewaan atau bahkan patah semangat dengan pekerjaan, mari bangkit. Renungkan Filipi 4:8 dan praktikkan enam kiat yang baru saja kita pelajari ini. Demi hidup kita sendiri.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci 1 , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)

0

Karakter, Ragam

Sebuah perjalanan menentukan masa depan

Perjalanan selalu menyimpan banyak rahasia. Perjalanan identik dengan dinamika dan perubahan. Seringkali kita sulit menduga apa yang akan terjadi di depan. Sehingga banyak orang yang merasa ragu dengan masa depannya. Apa yang akan terjadi atau bagaimanakah nasib mereka kelak ? Ada orang yang menyukai tantangan dan selalu bersemangat dengan hal baru. Namun ia ceroboh dan kurang memperhitungkan resiko. Ada pula orang yang merasa ragu dengan perubahan sehingga ia selalu kuatir dan merasa tidak percaya diri. Siapapun kita atau bagaimana adanya diri kita, masa depan perlu untuk diantisipasi, dipersiapkan dan dikelola dengan baik.

Visi dan Nilai yang menyelamatkan
Sahabat saya mengirim anaknya yang taat dan lugu ke Amerika. Sebuah negara yang sangat liberal dan berazas demokrasi. Pergaulan bebas dan lingkungan pengaruh yang buruk sepertinya cukup mengancam pribadi sang anak. Setelah tiga tahun berlalu ternyata kehidupan sang anak tetap terjaga baik. Tetap bermoral baik, terjaga rohaninya, dan bertumbuh semakin kreatif, berani dan dewasa dalam berespon. Sewaktu saya bertanya, bagaimana ia mampu menjaga diri dari pengaruh yang negatif ? Anak tersebut lalu menjawab bahwa vision & values lah yang menyelamatkannya. Ayahnya telah membekalinya dengan kedua hal tersebut.

Mengapa Visi dan Nilai mampu menjamin suatu perjalanan ?
Suatu perjalanan pasti memiliki banyak kemungkinan dan pilihan. Untung atau rugi, sukses atau gagal, peluang atau resiko. Sehingga dalam perjalanan seringkali terjadi hal-hal yang dapat menghalangi keberhasilan atau kesuksesan kita.

  1. Distraksi – terjadi pengalihan fokus karena berbagai tawaran yang menarik.
  2. Keinginan yang tidak terkendali – akan mendorong kita untuk berubah tujuan.
  3. Kompromi – berbeda dengan toleransi, kompromi cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan atau target.

Dalam perjalanannya, rasul Petrus pernah berniat melarikan diri keluar kota Roma. Saat itu kaisar Nero membakar Roma dan menganiaya jemaat Kristen. Namun di tengah perjalanan ia bertemu seorang pria berjubah putih dengan tangan berlubang bekas paku.
Pria berjubah putih ini bertanya kepada Petrus : “ Quo vadis ?”. Yang artinya, hendak kemanakah engkau ? Atau lebih tepatnya, mengapa engkau lari dari panggilanmu? Mengapa engkau keluar dari jalan kebenaran ?

Istilah quo vadis hingga hari ini telah menjadi populer bagi orang yang berniat berbalik menjauhi jalan kebenaran. Akhirnya Petrus sadar dan berbalik kembali ke kota Roma yang sedang terbakar. Petrus menggenapi panggilannya sebagai seorang martir di kota Roma.

Determinasi adalah mesin penggerak Tujuan atau visi tanpa determinasi bagai mimpi tanpa realisasi. Determinasi adalah tekad bulat. Tekad merupakan mesin penggerak yang mendorong kita mencapai tujuan. Siapa yang memiliki ketetapan hati, dia akan mencapai yang dia rindukan.
Determinasi yang sesuai dengan kehendak Tuhan, bisa disebut iman, bukan sekedar pengharapan, tapi kekuatan yang menarik kita. Memfokuskan segenap syaraf, otot dan aliran dalam tubuh kita untuk bergerak ke arah visi. Putra saya yang ketiga bercita-cita menjadi seorang chef atau juru masak. Semula saya tidak setuju dengan rencananya, teman-temannyapun menertawakan keputusannya. Tapi karena determinasinya yang kuat, hari ini dia hampir menyelesaikan pendidikannya di bidang chef. Saya percaya suatu hari ia mampu menjadi seorang chef yang profesional. Hukum perjalanan bagi saya, seperti “jaminan” untuk mencapai impian kita. Juga diperlukan kualitas agar mampu menyelesaikan tujuan hingga akhir. Visi, determinasi dan nilai-nilai merupakan esensi hukum perjalanan untuk mewujudkan masa depan yang sukses dan tahan uji. Diatas segalanya kita perlu melibatkan Tuhan dalam perjalanan kita, karena Dialah yang menjadi jaminan keberhasilan kita.

The Word of Wisdom : ”Serahkanlah rencanamu kepada Tuhan, maka akan berhasillah perjalananmu ”

0

Alkitab dan Pengetahuan, Ragam

Oleh karena itu, sudahlah jelas bahwa jika perpindahan argon dari udara ke dalam fosil itu akan menyebabkan perkiraan umur batu-batuan dan fosil itu, yang sesungguhnya hanya beberapa ribu tahun saja menjadi berjuta-jutaan tahun umurnya. Hal-hal seperti ini sering sekali terjadi sehingga adalah mustahil untuk memastikan tidak terjadinya kontaminasi.

Pencatatan data tentang kerangka manusia yang ditemukan dalam sebuah gua kuburan, dengan tulang-tulang yang belum mengalami mineralisasi, akan menghasilkan ketidakcocokan umur yang diukur dengan umur yang sesungguhnya. Perhatikan bebarapa contoh berikut:

– Kerangka manusia yang ditemukan di Sunnyvale, California, diperkirakan berusia 70.000 tahun berdasarkan teknik aspartic acid racemization (Lihat di World Archeology, jilid 7, 1975, hal.160). Pada tahun 1981, umurnya ditinjau kembali dengan metode uranium-lead yang menghasilkan umur hanya 8300-9000 tahun (Lihat di Science, jilid 213, 28 Agustus 1981, hal.1003). Kemudian pada tahun 1983 lagi ditinjau kembali ketika metode carbon-14 memeriksa empat kerangka lain dari lapisan batu yang sama yang menghasilkan umur 3500-5000 tahun saja (Lihat Science, jilid 220, 17 Juni 1983, hal.1271).

– Batu-batuan yang terbentuk dalam letusan gunung berapi dan meluappnya lahar pada tahun 1801 di Hawaii hanya berumur 213 tahun, padahal pengukuran radiometrik menghasilkan umur antara 160 juta tahun sampai 3 milyar tahun. (Baca Science, jilid 162, hal.265; Journal of Geophysical Research, jilid 73, hal.4601; American Journal of Science, jilid 262, hal.154).

Sayang sekali, terlalu sering kita menemukan hasil janggal seperti ini. Namun, karena “iman” para ilmuwan pada paham Darwinisme, maka mereka lebih bersedia percaya pada data yang cacat daripada kesaksian saksi mata, Sang Pencipta, yang menyatakan bahwa semuanya muda. Ternyata perkiraan umur secara radiometrik sangat tidak dapat diandalkan, namun, metode ini masih dipakai dan masih diandalkan oleh ilmuwan pengikut Darwinisme.

Bagaimana dengan metode Radiocarbon C-14 / C-12?

Metode Carbon-14 sering dianggap metode paling akurat dalam penentuan umur fosil namun metode ini sangat peka terhadap pengaruh kontaminasi. Oleh karenanya hasilnya sering keliru. Misalnya, bahan kayu yang ditanam di dalam tanah yang mengandung zat-zat dari akar-akar lain atau yang mengandung mikro-organisme, dapat mengurangi jumlah umur dalam perhitungan. Atau jika radiasi kosmik, pengaruh yang menentukan kadar C-14 di udara, dan ratio C-14/C-=12 di udara ternyata tidak memperlihatkan keadaan yang konstan, maka usia bahan yang diukur dapat diperkirakan dengan umur secara berlebihan atau sebaliknya dapat diukur terlalu muda. Oleh karena itu, besar kemungkinan para ahli ilmu pengetahuan hanya akan memilih data dengan ukuran yang cocok dengan praduga awal mereka sehingga mereka menolak data yang menyimpang dari hasil yang mereka cari.

Berdasarkan alasan ini maka metode C-14 sangat tidak dapat diandalkan kalau melampaui 3000 tahun. Penelitian yang dilakukan Dr. W.F. Libby (Radio Carbon Dating), Dr. R.E.Lingenfelter (Reviews of Geophysics, jilid 1), Dr. H.E. Seuss (Journal of Geophysical Research, jilid 70), Dr. V.R. Switzur (Science, jilid 157) dan Dr. Melvin Cook (Creation Research Society Quarterly, jilid 5) telah berhasil memperagakan bahwa ratio C-14/C-12 tidak mencapai keadaan yang mantap dan pada hakekatnya masih terus mengalami pertambahan, sehingga dianggap kurang cocok untuk dapat diandalkan dalam perhitungan umur lebih dari 3000 tahun. Penelitian mereka juga menunjukkan bahwa dengan membuat perhitungan penelusuran kembali kepada saat kadar logam berada pada tingkat nol menyatakan bahwa umur bumi hanya sekitar 10.000 tahun dan tidak mungkin lebih dari 30.000 tahun.

Apa artinya?

Jangan kita tertipu dengan ucapan-ucapan seperti “menurut para ilmuwan, …” Hal itu tidak terbukti. Banyak ilmuwan mempunyai tujuan khusus, justru karena tidak percaya adanya Tuhan. Kita harus belajar menggali dan memahami metode-metode dan praduga-praduga yang dipakainya. Apa sesungguhnya terbukti atau hanya merupakan teori atau hanya dugaan saja?

Kesimpulan yang kami kemukakan kepada para pembaca adalah bahwa yang disebut “bukti” seringkali bukanlah bukti, melainkan dugaan yang sesuai dengan keyakinan. Sesungguhnya, bukti-bukti yang sesungguhnya, lebih banyak mendukung bahwa umur bumi masih relatif muda dan bukan tua, dan bahwa manusia adalah ciptaan khusus Tuhan dan bahwa kita tetap bertanggungjawab kepada Tuhan.

0

Marketplace, Ragam

Saat ini, dunia usaha bergerak begitu cepat; dan angkatan kerja yang ada belum siap mengejar perubahan. Di mana-mana di berbagai negara, kita melihat fenomena “capacity gap”, yaitu perusahaan/bisnis tidak memiliki SDM yang siap melanjutkan kinerja dan keahlian para senior yang sudah tak lagi hadir (karena pensiun atau meninggal dunia atau sebab-sebab lainnya), sehingga kinerja dan produktivitas menurun drastis. Dalam perjalanan saya selama ini memberikan pelatihan dalam format kelas, seminar, atau apa pun, memang saya menemukan bahwa banyak pemimpin kecewa dan putus asa dengan kualitas pekerja, sedangkan banyak pula di antara pemimpin-pemimpin itu tidak rela berusaha melatih pekerja (atau hanya meyakini bahwa atasan langsung dari si pekerja-lah yang bertanggung jawab untuk melatih pekerja, sedangkan perusahaan/pemimpin/departemen SDM sekadar memfasilitasi).

Pertanyaannya, apakah sikap malas dan pelit melatih pekerja masih tepat untuk kita pertahankan sebagai pemimpin? Apakah perusahaan/bisnis masih perlu melajutkan budaya “feodalisme” yang “menjajah” para pekerja sebagai pesuruh yang tetap “bodoh”, tidak terampil, dan tidak kunjung berkembang, demi agar mereka tidak berpindah ke perusahaan/bisnis pesaing? Bagaimana perusahaan/bisnis sesungguhnya memandang biaya dan waktu untuk mengembangkan SDM-nya; sebagai biaya (potensi kerugian) atau sebagai investasi (potensi keuntungan)?

Sebagian dari banyak fungsi penting seorang pemimpin di dalam pekerjaan atau bisnis ialah memengaruhi pekerja melakukan aktivitas untuk mencapai target tertentu serta mengembangkan kualitas pekerja agar mereka terampil melakukan tugas-tugas dalam upaya pencapaian tujuan itu. Dua hal yang menjadi kata kunci di sini ialah memengaruhi dan mengembangkan pekerja yang dipimpin. Namun sayangnya dalam praktik, tidak banyak pemimpin yang bersedia untuk mengembangkan pekerjanya. Banyak pemimpin justru cenderung memimpin dengan pendekatan “3M”, yaitu menyuruh + mengontrol + mengomel. Akibatnya, banyak pekerja tidak berkembang dalam berbagai hal: keterampilan kerja, paradigma dan perilaku kerja, serta kualitas kinerja

Ada banyak alasan klasik mengapa pemimpin enggan mementor, mengembangkan, atau melatih pekerjanya, antara lain:

  • “Nanti posisi saya jadi tersaingi dan terancam…” (yang berarti: “biarkan saja pekerja tetap bodoh, supaya saya tetap menikmati menjadi pemimpin mereka”)
  • “Kalau setelah dilatih mereka pindah ke perusahaan lain, kita akan rugi…” (yang berarti: “tidak perlu mengambil risiko mengeluarkan waktu, biaya, dan usaha untuk pekerja yang tidak terjamin seumur hidup berguna untuk kita”)
  • “Saya sendiri dulu juga susah payah belajar sendiri tanpa ada yang melatih…” (yang berarti: “pekerja pun harus merasakan penderitaan berat yang dulu saya alami”)

Kita pun mungkin termasuk pemimpin yang enggan atau malas mengembangkan pekerja, dengan alasan-alasan ini atau alasan lainnya. Sebenarnya, ini terjadi karena kita cenderung memandang pelatihan pekerja sebagai beban atau biaya yang merugikan bagi perusahaan/bisnis, bukan sebagai investasi yang menguntungkan. Ketahuilah bahwa tidak mengembangkan atau melatih pekerja justru merupakan kesalahan dan kerugian besar, karena kita akan kehilangan beberapa keuntungan luar biasa sebagai berikut:

Keuntungan bagi diri kita sebagai pemimpin:

  1. Memperoleh pekerja yang terampil dan mandiri dalam melakukan tugas-tugasnya;
  2. Tidak terikat dengan kewajiban kehadiran, karena tugas dan pekerjaan tetap berjalan lancar dengan proses delegasi kepada pekerja yang telah terlatih;
  3. Dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting dan strategis, karena terlepas dari kewajiban menangani dan/atau mengawasi hal-hal operasional yang lebih mendetail yang kini sudah bisa didelegasikan kepada pekerja yang telah terlatih;
  4. Mendapatkan respek dari pekerja dalam hubungan kerja saat ini, karena berinvestasi sesuatu bagi kehidupan professional pekerja;
  5. Membangun rekam jejak kualitas kepemimpinan yang baik untuk jangka panjang, karena mampu “mencetak” pekerja yang andal dan unggul.

Keuntungan bagi perusahaan/bisnis:

  1. Menghasilkan tenaga kerja yang ahli, terampil, dan mandiri;
  2. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja;
  3. Meningkatkan kualitas kinerja dan kualitas hasil kerja;
  4. Menghemat biaya karena waktu yang terbuang akibat kesalahan-kesalahan kerja oleh pekerja yang tidak/kurang terlatih;
  5. Meningkatkan produktivitas kerja dan angka capaian penjualan dan/atau laba.

Nah, sambil membandingkan alasan-alasan tadi dengan keuntungan-keuntungan ini, mari kita amati pandangan para pakar di dunia kerja dan usaha.

William Craig dari Forbes menyatakan bahwa pelatihan pekerja (“mentorship”) bukanlah hal baru, tetapi kini menjadi semakin populer sebagai cara untuk membangun rekam jejak yang baik, menciptakan hubungan jangka panjang yang produktif, dan mentransfer keterampilan kerja secara praktis. Demikian pula, ia meyakini bahwa melatih pekerja bukan hanya baik untuk keuntungan perusahaan/bisnis kita saat ini, tetapi juga untuk keberlangsungan usaha dalam jangka panjang sampai masa depan. Semua orang ahli dalam perusahaan/bisnis kita tidak akan tetap ada selamanya. Ketika mereka tidak lagi bersama kita, yang menggantikan adalah para pekerja yang dilatih oleh mereka itu. Seberapa siap para pekerja untuk mengambil peran para ahli itu ketika waktunya tiba tergantung pada pelatihan yang dilakukan oleh para ahli sejak saat ini. Jika mereka tidak segera siap, terjadilah yang disebut dengan “capacity gap”. Sudah seharusnya setiap pemimpin melakukan pelatihan dan pengembangan pekerja, apalagi ini bisa dilakukan sambil melakukan pekerjaan/bisnis itu sendiri sehari-hari. Sebagai hasil sampingannya, pelatihan membuat pekerja merasa lebih betah dalam lebih aman dalam peran kerjanya, sehingga tidak terpicu untuk segera mencari-cari lingkungan kerja yang lain. (Six Learning And Development Trends To Embrace For Maximum ROI, William Craig, https://www.forbes.com/sites/williamcraig/2019/04/23/six-learning-and-development-trends-to-embrace-for-maximum-roi/#1349a1e8993f, 23 April 2019)

Contoh lain yang menunjukkan pandangan yang mendukung pentingnya pelatihan pekerja oleh pemimpin ialah budaya pengembangan SDM yang diterapkan oleh perusahaan General Electric (GE). GE memiliki sebuah program unik, “mid-career leadership program”, yang pada intinya berkisar pada pertumbuhan talent pool (perhatian khusus dan kesempatan bagi sekelompok pekerja yang paling potensial), perluasan skill set (diversifikasi dan pengembangan keterampilan kerja), serta peringkasan promotion cycle (pekerja dari tingkat jabatan bawah menjadi lebih cepat dan mudah untuk naik ke tingkat jabatan yang lebih tinggi, jika memang terbukti potensial dan tepat). Melalui mid-career leadership program, misalnya, GE bisa saja merekrut seseorang dari kalangan militer Angkatan Udara, dengan keterampilan dan pengalamannya, untuk dipersiapkan menjadi manajer, khususnya karena orang itu belum punya pengalaman dalam dunia pekerjaan profesional atau bisnis. Dalam mid-career leadership program, selama 1.5 tahun pertama orang itu dilatih secara khusus oleh pemimpin senior yang tepat, misalnya Sales Leader yang sudah berpengalaman lama dan dibimbing dalam lapangan kerja; lalu selama 1 tahun berikutnya ia dirotasi untuk belajar tentang pengembangan produk di bawah pelatihan pemimpin di bidang produksi; lalu dilatih khusus sebagai pemimpin operasional; dan seterusnya. Di sepanjang program ini, ia akan mendapat masukan secara konsisten tentang perkembangannya dan bagaimana menutup capacity gap yang mungkin akan terjadi. 3 tahun kemudian, jika orang itu lulus dari seluruh rangkaian mid-career leadership program ini, ia bisa langsung ditempatkan pada posisi manajer atau bahkan lebih tinggi lagi.

McGinnis, seorang penulis ternama di Amerika Serikat, berkata, “There is no more noble occupation in the world than to assist another human being – to help someone succeed.” (Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia selain membimbing orang lain, yaitu membantu mereka untuk meraih sukses.) Dan perkataan ini sungguh tepat. Alkitab pun meneguhkannya: ketika Anda menabur hal baik kepada pekerja Anda, Anda juga akan menuai buah yang baik dari produktivitas mereka.

“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui ia akan mengalami kekurangan.” – Amsal 28:22 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38 Selamat menabur dan menuai!

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 17NO NEW POSTS