POSTS
17
November 2019
Hidup Di Dalam Kristus
17
November 2019
Amsal 21:23
17
November 2019
DIBALIK KUASA SALIB
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
Karakter, Ragam

Malam kelam mencekam. Suasana itu tak seperti biasanya di Taman Getsemani. Nyala api obor menari-nari di tengah kegaduhan banyak orang. Mereka membawa pedang dan pentung mencari-cari Yesus, hendak menangkapNya. Lalu tampaklah Yudas menciumNya. Yudas, murid yang telah menyerahkan Dia. Serentak orang banyak mengepung dan menangkap Yesus. Akhirnya tragis. Yudas mati menggantung diri, bahkan sebelum Yesus disalibkan. Yudas menyesali kesalahannya, tetapi sayang responsnya sangat keliru. Ia menghakimi dan menghukum dirinya sendiri.

Kisah lain terjadi pada Petrus, seorang murid yang selalu bersama dengan Yesus. Petrus yang heroik dengan lantang berjanji bahwa ia tak akan mengkhianati guru yang dikasihinya. Tetapi apa daya, demi menyelamatkan diri ia tega mengutuk dan bersumpah menyangkali gurunya. Pada dini hari itu, kokok ayam segera mengingatkannya akan kata-kata Yesus. Dengan lunglai laki-laki dewasa itu menangis dengan pilu. Hancur semua yang dibanggakannya. Ia menyadari kesalahan besar yang telah dibuatnya. Namun kemudian pada hari setelah kebangkitanNya, di Danau Tiberias Yesus secara khusus berdialog dengan Petrus. Yesus mengetahui penyesalan hati Petrus. Ia memulihkan hati Petrus dan sekali lagi mengucapkan kata-kata yang dulu juga pernah diucapkanNya, “Ikutlah Aku!” Yesus mempercayakan jemaatNya kepada para rasul dan menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Akhir yang mulia.

Respons yang benar selalu mampu mengubah kesalahan menjadi sebuah pembelajaran untuk meraih kemenangan. Bagaimana dengan kita sendiri? Apa respons kita saat menghadapi kesalahan?

Respons yang tepat untuk memperbaiki kesalahan

Kesalahan bisa terjadi baik karena kelalaian diri sendiri ataupun karena faktor lain di luar diri pribadi, namun kesalahan selalu mendatangkan kerugian dan konsekuensi. Mungkin kita tidak punya pilihan lain ketika terlanjur melakukan kesalahan, tetapi selalu tersedia banyak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Sebenarnya, banyak hal yang fatal terjadi bukan ketika kesalahan dilakukan, tetapi justru karena respons kita yang keliru. Panik, takut, bingung, mencari kambing hitam atau berusaha untuk membela diri dan menutup-nutupi kesalahan, semuanya itu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, respons yang keliru membuat situasi menjadi lebih buruk lagi.

Diperlukan titik balik untuk mengubah pandangan kita terhadap sebuah kesalahan. Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan mungkin bisa menjadi suatu pijakan untuk permulaan yang baru. Kuncinya adalah kebesaran jiwa untuk mengakui kesalahan dan kerendahan hati untuk memperbaikinya. Bagaimana mengembangkan sikap seperti ini?

1. Mengakui kesalahan
Tak seorangpun yang luput dari sikap khilaf dan alpa. Kita pasti pernah membuat kesalahan. Sayangnya, tidak semua orang mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Padahal, menutupi kesalahan sama seperti menyimpan bara dalam sekam. Suatu ketika pasti terbakar. Menutupi kesalahan didorong oleh kepercayaan akan banyak mitos yang keliru tentang kesalahan. Ada orang yang menganggapnya sebagai aib, maka tabu jika ketahuan salah. Sebagian lain merasa takut dihukum atau dihakimi karena kesalahan itu. Sesungguhnya jika diakui secara terbuka dan obyektif, kesalahan dapat menjadi pembelajaran dan proses pengembangan karakter yang efektif.

2. Menerima koreksi
Kita mempunyai sepasang mata untuk melihat diri sendiri, tetapi semua tatapan orang lain pun tertuju pada diri kita, dan mereka akan melihat dengan lebih baik. Artinya, koreksi yang efektif berasal dari orang lain. Koreksi memang tidak selalu menyenangkan. Sering kali muka kita jadi merah saat dikoreksi. Namun seharusnya kita bersyukur karena ada orang yang mau peduli dan memberi masukan. Tiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda saat memberi koreksi atau masukan. Sebaiknya, koreksi atau masukan itu diterima dengan hati lapang, sambil kita juga tetap menyaring masing-masingnya, apakah benar relevan dan bermanfaat.

3. Menemukan titik kritis
Banyak pemicu yang membuat sebuah kesalahan bisa terjadi. Titik sering terjadinya kesalahan disebut sebagai titik kritis. Inilah titik tempat orang bisa berasumsi, seakan-akan seluruh situasinya serupa padahal tak sama. Banyak keputusan keliru atau kesalahpahaman terjadi karena asumsi. Titik kritis juga berarti kelemahan pribadi atau hal-hal yang perlu diwaspadai. Titik kritis setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Ada yang pelupa, suka nekat, ragu-ragu, kuatir, apatis, mudah bosan, kurang inisiatif, perfeksionis, ceroboh, dan lain-lain. Dengan menemukan titik kritis, kita bisa melakukan antisipasi untuk menghindari kesalahan.

4. Berkomitmen untuk perbaikan.
Pepatah berkata bahwa langkah terakhirlah yang menentukan. Tetapi sebenarnya, perbaikan perlu dilakukan sesegera mungkin, maka jangan tunggu saat terakhir baru mau berubah. Mungkin saja, kesempatan sudah berlalu tanpa menunggu kita.
Langkah perbaikan membutuhkan komitmen, karena kita cenderung mengulang kesalahan yang sama. Jika kita bisa belajar dan memperbaiki kekurangan yang ada, kita memiliki pengalaman untuk tidak jatuh pada kegagalan yang sama.

5. Melakukan restitusi
Restitusi biasanya kurang lazim dilakukan, meskipun sebenarnya ada proses pemulihan yang membutuhkan penggantian kerugian baik moral maupun material. Jika ada pihak-pihak yang telah dirugikan karena kesalahan yang terjadi, kita perlu melakukan restitusi. Namun, restitusi bukan berarti segalanya telah impas. Restitusi tidak menghapus kesalahan yang telah dibuat. Sebaliknya, restitusi merupakan penggantian kerugian yang sepatutnya sebagai konsekuensi atas sebuah kesalahan.

Word of Wisdom : Ketelitian menghindarkan kesalahan. Koreksi mencegah kesalahan-kesalahan berikutnya.

0

Karakter, Ragam

Sebuah perjalanan menentukan masa depan

Perjalanan selalu menyimpan banyak rahasia. Perjalanan identik dengan dinamika dan perubahan. Seringkali kita sulit menduga apa yang akan terjadi di depan. Sehingga banyak orang yang merasa ragu dengan masa depannya. Apa yang akan terjadi atau bagaimanakah nasib mereka kelak ? Ada orang yang menyukai tantangan dan selalu bersemangat dengan hal baru. Namun ia ceroboh dan kurang memperhitungkan resiko. Ada pula orang yang merasa ragu dengan perubahan sehingga ia selalu kuatir dan merasa tidak percaya diri. Siapapun kita atau bagaimana adanya diri kita, masa depan perlu untuk diantisipasi, dipersiapkan dan dikelola dengan baik.

Visi dan Nilai yang menyelamatkan
Sahabat saya mengirim anaknya yang taat dan lugu ke Amerika. Sebuah negara yang sangat liberal dan berazas demokrasi. Pergaulan bebas dan lingkungan pengaruh yang buruk sepertinya cukup mengancam pribadi sang anak. Setelah tiga tahun berlalu ternyata kehidupan sang anak tetap terjaga baik. Tetap bermoral baik, terjaga rohaninya, dan bertumbuh semakin kreatif, berani dan dewasa dalam berespon. Sewaktu saya bertanya, bagaimana ia mampu menjaga diri dari pengaruh yang negatif ? Anak tersebut lalu menjawab bahwa vision & values lah yang menyelamatkannya. Ayahnya telah membekalinya dengan kedua hal tersebut.

Mengapa Visi dan Nilai mampu menjamin suatu perjalanan ?
Suatu perjalanan pasti memiliki banyak kemungkinan dan pilihan. Untung atau rugi, sukses atau gagal, peluang atau resiko. Sehingga dalam perjalanan seringkali terjadi hal-hal yang dapat menghalangi keberhasilan atau kesuksesan kita.

  1. Distraksi – terjadi pengalihan fokus karena berbagai tawaran yang menarik.
  2. Keinginan yang tidak terkendali – akan mendorong kita untuk berubah tujuan.
  3. Kompromi – berbeda dengan toleransi, kompromi cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan atau target.

Dalam perjalanannya, rasul Petrus pernah berniat melarikan diri keluar kota Roma. Saat itu kaisar Nero membakar Roma dan menganiaya jemaat Kristen. Namun di tengah perjalanan ia bertemu seorang pria berjubah putih dengan tangan berlubang bekas paku.
Pria berjubah putih ini bertanya kepada Petrus : “ Quo vadis ?”. Yang artinya, hendak kemanakah engkau ? Atau lebih tepatnya, mengapa engkau lari dari panggilanmu? Mengapa engkau keluar dari jalan kebenaran ?

Istilah quo vadis hingga hari ini telah menjadi populer bagi orang yang berniat berbalik menjauhi jalan kebenaran. Akhirnya Petrus sadar dan berbalik kembali ke kota Roma yang sedang terbakar. Petrus menggenapi panggilannya sebagai seorang martir di kota Roma.

Determinasi adalah mesin penggerak Tujuan atau visi tanpa determinasi bagai mimpi tanpa realisasi. Determinasi adalah tekad bulat. Tekad merupakan mesin penggerak yang mendorong kita mencapai tujuan. Siapa yang memiliki ketetapan hati, dia akan mencapai yang dia rindukan.
Determinasi yang sesuai dengan kehendak Tuhan, bisa disebut iman, bukan sekedar pengharapan, tapi kekuatan yang menarik kita. Memfokuskan segenap syaraf, otot dan aliran dalam tubuh kita untuk bergerak ke arah visi. Putra saya yang ketiga bercita-cita menjadi seorang chef atau juru masak. Semula saya tidak setuju dengan rencananya, teman-temannyapun menertawakan keputusannya. Tapi karena determinasinya yang kuat, hari ini dia hampir menyelesaikan pendidikannya di bidang chef. Saya percaya suatu hari ia mampu menjadi seorang chef yang profesional. Hukum perjalanan bagi saya, seperti “jaminan” untuk mencapai impian kita. Juga diperlukan kualitas agar mampu menyelesaikan tujuan hingga akhir. Visi, determinasi dan nilai-nilai merupakan esensi hukum perjalanan untuk mewujudkan masa depan yang sukses dan tahan uji. Diatas segalanya kita perlu melibatkan Tuhan dalam perjalanan kita, karena Dialah yang menjadi jaminan keberhasilan kita.

The Word of Wisdom : ”Serahkanlah rencanamu kepada Tuhan, maka akan berhasillah perjalananmu ”

0

Karakter, Ragam

“Jawab Yesus kepadanya: ” Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Matius 22:37.

Akal budi dalam bahasa Yunani nya adalah Dianoia, yg artinya Pikiran Imajinatif kita.

Apakah berarti kita tidak boleh mengasihi Tuhan dengan logika (fungsi otak kiri) kita. Ya itu benar, walaupun sebenarnya bisa, namun kita akan menemukan banyak kendala jika memikirkan Tuhan dengan menggunakan otak kiri kita yang bekerja secara logika. Fungsi otak kiri di ciptakan untuk ‘kewaspadaan diri’, berpikir logis, sebab akibat, analitis, matematis, sistimatis, janganlah kita gunakan dengan cara yang salah fungsi walaupun hal itu bisa.

“Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing- masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki- Nya”. 1 Korintus 12:18, artinya setiap anggota tubuh punya fungsi yang berbeda-beda. Dalam hal ini, otak kiri berfungsi untuk berpikir secara alamiah, yang memampukan kita untuk menjaga diri sendiri agar waspada dan memiliki kesadaran diri, sedangkan fungsi otak kanan, diciptakan Tuhan untuk kita mampu memiliki respon akan Tuhan, sehingga dapat mengasihi Tuhan dan sesama, melalui pikiran imajinatif yang mampu membayangkan secara Dimensi 3 (Ruang)dan Dimensi 4 (roh). Adapun mengenai 4 dimensi adalah dimensi 1 adalah titik, dimensi 2 adalah garis, dimensi 3 adalah ruang, dimensi 4 adalah roh.


OTAK KIRI SULIT (TIDAK BISA) MENGASIHI TUHAN

Sesuai fungsi nya yg logis, maka otak kiri akan menuntut bukti, fakta, data, pengalaman, kenyataan, realitas. Itu sebabnya jika kita sering bertanya: dimana Tuhan ? Mana janjiNya ? Bahkan minta bukti dari Tuhan, menuntut Tuhan bekerja dengan cara kita. Itulah tanda bahwa kita telah salah menggunakan fungsi otak kiri kita untuk bergaul dengan Tuhan.

Pikiran logis akan selalu membawa kita kepada kenyataan alamiah yang wajar atau yang normal, tidak akan mampu berpikir abstrak, apalagi mukjizat. Otak kiri tidak akan pernah mampu memikirkan sesuatu yang mustahil. Semuanya harus nyata, terbukti, ada alasan dan ada analisa logikanya, harus yang masuk akal, harus yang ‘possible’.


PIKIRAN LOGIS KITA TIDAK MAMPU BERIMAN

Benar, logika kita terbatas, sedangkan iman adalah sesuatu yang tidak terlihat. Otak kiri tidak akan mempercayai yang tidak kelihatan. Pikiran analitis kita cenderung mengkalkulasi atau memperhitungkan segala kemungkinan secara terukur. Otak kiri tidak akan mampu mengerti mengapa kita dapat menerima keselamatan tanpa harus ada yang dibayarkan (cuma-cuma/gratis). Logika kita tidak akan pernah bisa memahami kasih karunia Allah, apalagi kasih Allah yang begitu besar dan tidak akan bisa diukur dengan kemampuan otak kiri kita yang terbatas. Mukizat adalah kemustahilan, hal yang supranatural, sedangkan otak kiri kita adalah otak yang natural dan wajar.

Jika demikian, apakah kita tidak perlu menggunakan otak kiri kita?

Tentu saja tidak demikian. Mari kita simak penjelasan berikut. Otak kiri kita bisa tetap digunakan utk membandingkan kuasa Tuhan dgn kekuatan manusia. Otak kiri bisa memberikan konfirmasi bahwa, ada hal-hal yang luar biasa, melebihi kapasitas manusia.


MANFAAT OTAK KIRI BAGI FIRMAN TUHAN.

Kosakata di tempatkan Tuhan pada fungsi otak kiri kita. Otak kiri kita mampu menampung bahasa dengan tidak terbatas. Karena itu, Firman Tuhan bisa kita hafal dan kita isikan pada ‘rak-rak’ kosakata di memori otak kiri kita. Semakin banyak ayat Firman Tuhan yang kita hafal, semakin bagus dan kuat fungsi kerja PFC (Pre Frontal Cortex) kita. Dimana keputusan, arah kuasa Roh Kudus juga bisa menggunakan ayat-ayat Firman yang kita pernah hafal sebelumnya. Oleh karena itu, isilah otak kiri kita dengan Firman Tuhan, perbendaharaan kata-kata yang membangun dan menguatkan. Kata kata apresiasi, pernyataan yang benar, nilai-nilai kebenaran. Hapuslah kata kata yang buruk dan pikiran-pikiran yang negatif.


OTAK KANAN YANG MENGASIHI TUHAN.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” Roma 12:2

Gunakan otak kanan untuk mengasihi Tuhan, karena otak kanan mampu mengimajinasikan apapun, termasuk hal-hal yang abstrak. Dunia roh adalah tempat dimana Tuhan berada. (Ibrani 8:10) (silahkan membaca ulasan saya bulan lalu, yang berjudul God’s Spot).

Iman, pengharapan dan kasih (I Kor 13:13). Ketiga hal tersebut bisa diaktivasi pada otak kanan kita. Fungsi memilih dan memutuskan akan di ‘triger’ dari pikiran imajinatif kita.


HATI KITA ADA PADA PIKIRAN KITA.

“Karena dari ‘hati’ timbul segala pikiran….”. Matius 15:19

Antara hati dan pikiran ada hubungan yang kuat. Yesus menjelaskan secara rinci segala keingingan jahat yang sebenarnya datang dari pikiran imajinatif yg jahat pula. Yesus menghubungkan antara hati dan pikiran adalah satu dampak.

jika pikiran imajinatif kita memikirkan perkara-perkara diatas dari Tuhan (rohani). Maka kitapun akan menjadi manusia yang rohani. Dan demikian pulalah sebaliknya.

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi”. Kolose 3:2.

Mari menggunakan pikiran kita dengan benar. Simpanlah Kebenaran Firman pada otak kiri kita, dan lakukanlah Firman dengan dorongan pilihan otak kanan kita. Demikianlah cara mengasihi Tuhan yang benar.

0

Karakter, Ragam

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi warga negara yang baik? Di masa sekarang ini, banyak sekali ucapan negatif kita dengar (atau kita keluarkan sendiri) tentang pemerintah kita; berbagai hujatan dan makian dengan dalih memberikan kritik atau mengingatkan demi reformasi dan pembangunan.

Kritik dan masukan yang sehat tentu baik, tetapi ada baiknya pula kita mulai mengevaluasi diri masing-masing sebagai warga masyarakat dan bangsa Indonesia: sejauh mana kita berperan dalam mewujudkan cita-cita bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Perkembangan dan kemajuan bangsa kita membutuhkan peran serta seluruh masyarakat dalam mewujudkannya, termasuk diri kita masing-masing.

Kewarganegaraan sebenarnya dapat kita pandang sebagai suatu bentuk loyalitas keanggotaan, tanggung jawab institusi, kontribusi terhadap komunitas, kepatuhan pada hukum atau peraturan, dan sikap patriotisme kepada bangsa dan negara. Hal terbaik yang dapat dilakukan dalam hal kewarganegaraan adalah dengan kita menjadi warga negara atau warga kota yang baik sehingga menjadi teladan. Ini pada akhirnya akan berdampak positif secara meluas. Kualitas karakter unggul yang ditanamkan dan dikembangkan dalam diri pribadi anggota masyarakat secara simultan dengan pembenahan pada sistem pemerintahan akan mampu untuk segera mewujudkan kemajuan dan transformasi bagi bangsa kita.

Lalu, untuk mewujudkan tujuan yang besar dan indah ini, apa yang dapat kita lakukan secara praktis? Mulailah dengan menjadi warga masyarakat dan warga negara yang berperilaku baik, dengan menghindari sikap-sikap yang kurang terpuji. Apa saja sikap yang kurang terpuji itu? Contohnya banyak sekali; seperti mengabaikan peraturan, baik itu undang-undang, peraturan pemerintah, aturan lalu lintas, dan banyak lagi lainnya; bersikap masa bodoh terhadap kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan; kehilangan jiwa patriotik dan conta bangsa serta mengabaikan nilai-nilai budaya dan etika masyarakat; kurang sungguh-sungguh dalam menggunakan hak pilih demokrasi atau bahkan sengaja mengabaikan hak demokrasinya; enggan bersosialisasi dalam lingkungan/komunitas dan cenderung bergaya ekslusif berdasarkan sukuisme/rasialisme, status sosial, pendidikan, agama, dll.

Selanjutnya, mulailah lakukan perilaku yang baik, yang pada akhirnya menciptakan teladan baik dan menjadikan kita sosok warga masyarakat dan warga negara yang terpuji. Apa artinya?

Mengusahakan kesejahteraan kota/negara tempat kita tinggal dan hidup

Yeremia menulis ayat ini ini secara khusus (Yer. 29:7) ketika bangsa Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel (ay. 4). Secara manusiawi, wajar jika kita berpikir untuk apa menyejahterakan kota dan negara musuh yang menawan kita. Apalagi, dalam ayat 10 disebutkan bahwa bangsa Israel baru akan diperhatikan oleh Tuhan dan dikembalikan ke Yerusalem 70 tahun berikutnya. Namun, ternyata pemikiran Tuhan berbeda. Daripada hidup sengsara sambil berpikir terus untuk kembali pulang, orang Israel saat itu diperintahkan Tuhan untuk “dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!” (ay. 5-6). Dengan kata lain, generasi bangsa Israel saat itu mau tidak mau harus tinggal di Babel! Tuhan mengarahkan bangsa-Nya untuk menjalani kehidupan di Babel sebaik-baiknya – sekalipun dalam masa penjajahan dan menjalani pembuangan. Mereka diminta untuk mengusahakan kesejahteraan kota Babel dan mendoakannya! Alasan Tuhan jelas, yaitu jika kota Babel sejahtera, maka mereka sebagai penduduk di situ juga akan sejahtera.

Cara berpikir ini merupakan cara berpikir bangsa pilihan Allah; kesejahteraan bukanlah semata kesejahteraan diri kita sendiri atau keluarga atau kelompok sendiri saja. Allah mengajarkan kita untuk melihat konteks yang lebih besar: kota dan negara! Dengan demikian, kita akan menjalani kehidupan kita dalam keluarga, pekerjaan, dan gereja dengan selalu berpikir apakah yang kita kerjakan akan membawa dampak yang baik, sedikitnya bagi lingkungan terdekat secara langsung. Kita juga tidak akan bertindak jahat atau merugikan lingkungan karena tahu persis hal tersebut akan mengurangi kesejahteraan lingkungan kita. Jika semua orang Kristen di Indonesia menghayati cara pandang Tuhan ini dan dapat menjadi teladan bagi warga lainnya, tentu dampaknya meluas bagi kesejahteraan kota dan negara kita. Hasilnya, kita sebagai bagian dari kota dan negara kita akan sejahtera juga. Sekali lagi: “usahakan dan doakan kesejahteraan kotamu, karena kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”!

Berdoa untuk kota dan negara dari hati yang peduli

Kepedulian kita terhadap kota dan negara harus kita mulai dari hati. Hati yang peduli melahirkan suatu panggilan untuk berdoa, demi terjadinya terobosan rohani dan terobosa jasmani. Kita harus berdoa kepada Tuhan, memohon ampun kepada Allah bagi penduduk kota kita dan negara kita. Di masa lalu mungkin pernah terjadi kekerasan, kerusuhan, penjarahan atau hal-hal buruk lainnya yang menyebabkan trauma dan ketakutan bagi sebagian dari kita; dan ini membutuhkan pengampunan dan pemulihan. Berdoalah pula supaya terjadi perdamaian dan pemulihan antar kelompok yang ada sehingga terbangun kerukunan antar penduduk. Berdoalah bagi mereka yang kekurangan dan yang lemah, yang mengalami masalah-masalah sosial yang menonjol. Doakan juga tempat-tempat yang secara khusus kecelakaan dan kriminalitas sering terjadi. Kita perlu berdoa juga untuk gereja-gereja supaya mengalami pertumbuhan dan agar pengaruh baiknya dapat dirasakan oleh komunitas masyarakat di sekitarnya. Berdoalah juga bagi pemerintahan dari tingkat teratas sampai tingkat paling bawah, aparat keamanan dan hakim, supaya mereka melakukan tugas dengan integritas dan keadilan dan mampu melaksanakan kebenaran. Ini semua akan membawa kita sendiri juga menjadi pribadi warga yang patut diteladani dan terpuji (a creditable citizen), dan hal ini perlu terus kita tumbuh-kembangkan.

Bagaimana mengembangkan sikap terpuji sebagai warga masyarakat?

  1. Jadilah warga yang peduli, berkontribusi, dan mematuhi hukum dan peraturan.
  2. Jadilah partisipan yang aktif dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
  3. Beranikan diri menyatakan sikap dan integritas terhadap masalah keadilan sosial dan hak-hak asasi manusia.
  4. Gunakan hak dan kewajiban sebagai warga yang baik dalam aspirasi politik dan pengembangan kota dan bangsa.
  5. Latihlah dan kembangkan karakter keteladanan, patriotisme, tanggung jawab, loyalitas dan kepedulian.

“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” – Amsal 14:34

0

Karakter, Ragam

George Muller adalah pendeta yang mendirikan panti asuhan Ashley Down di Bristol, Inggris, dan merawat 10.000 anak yatim piatu dengan mengandalkan pemeliharaan Tuhan. Ia dikenal dengan sebutan “bapak anak yatim piatu” karena karya pelayanannya ini. Misi pelayanannya bersama istri dimulai dengan rumah mereka sendiri yang dipakai untuk menampung kehidupan 30 anak perempuan. Tidak lama kemudian, ia membangun tiga rumah untuk menampung 130 anak. Pada tahun 1845, George Muller “memimpikan” untuk membangun suatu gedung terpisah yang dapat menampung 300 anak. Pada tahun 1849, mimpinya itu menjadi kenyataan. Di Ashley Down, kota Bristol, gedung itu dibangun. Pada tahun 1870, ia sudah memiliki lima gedung yang totalnya menampung lebih dari 2.000 anak. Bagi George Muller, iman dan melayani Tuhan tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya.

George Muller lahir di Prusia (sekarang negara Jerman) pada tanggal 17 September 1805. Pertobatan George Muller terjadi pada saat ia berusia 21 tahun di sebuah persekutuan doa, di rumah seorang saudagar Kristen. “Aku menyerahkan seluruh hidupku kepada Tuhan. Kehormatan, kesenangan, uang, kekuatan fisik, kekuatan mental, semuanya kupersembahkan kepada Yesus dan aku menjadi pecinta Firman Tuhan. Tuhan menjadi segala-galanya bagiku,” pernyataannya setelah bertobat.

Setelah mengenal Tuhan, ia pergi ke Inggris tanpa membawa surat-surat atau uang dalam jumlah berarti. Ia tak mengenal seorang pun di Inggris dan hanya mengandalkan Tuhan dan hanya sedikit menguasai bahasa Inggris. Di masa itu, ia menulis di buku hariannya, “Segenap hidup saya akan dipakai untuk melayani Tuhan yang hidup.” Ia memercayai Alkitab seumur hidupnya dan tidak pernah meminta apa pun kepada orang lain, karena percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidupnya. Dengan iman itulah, ia menerima kiriman uang sebesar 500.000 Poundsterling untuk mendirikan panti asuhan dan merawat 10.000 anak yatim piatu serta mendidik mereka dalam kebenaran. Ia mengabarkan Injil dan menyebarkan kebenaran Alkitab dengan bepergian ke lokasi-lokasi yang jauhnya ribuan kilometer menjangkau total 3.000.000 pendengar di 42 negara.

Ia menulis di buku hariannya pada tanggal 28 Juli 1874,

“Sudah berbulan-bulan saya merasa bahwa Tuhan membawa kami pada keadaan yang kami alami di Agustus 1838 sampai April 1849. Tiap hari, tidak putus-putusnya kami berharap, bersandar dan berdoa bagi keperluan kami, khususnya jam makan: baik makan pagi, siang atau malam. Kami mengalami kesukaran, karena panti asuhan kini 20 kali lebih besar dan butuh pengeluaran yang besar. Saya terhibur karena kami tahu bahwa Tuhan lebih dulu tahu segalanya.

Jika itu untuk kemuliaan nama-Nya dan kebahagiaan jemaat serta dunia yang belum bertobat, saya rela demi anugerah-Nya terlaksana hingga akhir hidup saya. Pengeluaran sehari-hari kami besar, tetapi Tuhan yang Mahakaya, memberi dengan berkelimpahan. Kepastian ini memberikan damai di hati saya. Melalui tantangan iman, saya menghadapi kesukaran keuangan, asalkan Tuhan dipermuliakan dan berguna bagi Jemaat.

Saya perlu:

  1. Memberi makan 2.100 orang dan mencukupkan keperluan mereka, padahal uangnya habis;
  2. Menyokong 189 pekabar lnjil, walau tidak ada uang sesen pun yang tersisa;
  3. Menyokong kira-kira 100 sekolah dan 9.000 murid, meski dana betul-betul nol;
  4. Membagikan kira-kira 4.000.000 traktat dan berpuluh-puluh ribu Alkitab dikirim ke mana-mana tiap tahun, padahal tidak ada lagi dananya.

Dengan iman, saya yakin bahwa Tuhan, yang memulai pekerjaan ini dengan memakai saya, yang setia memimpin dari tahun ke tahun, yang menyokong pekerjaan ini lebih dari 40 tahun, pasti menolong. Ia tidak akan membiarkan saya kecewa. Saya berharap kepada-Nya. Saya menyerahkan pekerjaan ini kepada-Nya; Ia mencukupkan segala keperluan saya, sekalipun saya tidak tahu dari mana Ia akan mengirimkan semua yang diperlukan.”

Selain catatan pribadi di buku harian itu, Samuel Chadwick, seorang pelayan Tuhan lainnya, menulis pula tentang suatu kejadian yang membuktikan iman George Muller, “Pada suatu malam, ketika semua petugas panti asuhan sudah tidur, George Muller mengajak Pierson berdoa bersama, karena persediaan makanan sudah habis dan tidak ada makanan untuk keesokan harinya. DR. A.T. Pierson mengingatkan bahwa semua toko sudah tutup. Akan tetapi, ia tetap berdoa. Lalu setelah berdoa, mereka tidur, dan keesokan harinya… makan pagi untuk 2.000 anak yatim piatu telah tersedia dengan limpahnya. Mereka tidak tahu dari mana dan bagaimana makanan itu datang. Ternyata Tuhan menggerakkan hati seseorang di tengah malam dan menyuruhnya untuk mengirimkan makan pagi ke panti asuhan selama satu bulan. Itulah kebajikan Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.”

Demikian pula, Charles Inglis, seorang pemberita Injil yang lain, menuliskan kesaksiannya ketika pertama kali datang ke Amerika 31 tahun sebelumnya dengan menyeberangi lautan Atlantika dan berkenalan dengan kapten kapal. Waktu berlayar, kapten kapal itu bercerita kepada dirinya, “Pak Charles Inglis, waktu saya terakhir kali berlayar di samudera ini lima minggu lalu, terjadilah satu hal yang ajaib. Hal itu mengubah hidup saya. Waktu itu, ada seorang hamba Tuhan bernama George Muller, dari Bristol, Inggris. 22 jam saya berjaga di dermaga tanpa meninggalkannya. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang yang menepuk bahu saya, yakni George Muller, yang memberitahukan bahwa ia harus berada di Quebec, Kanada, pada hari Sabtu sore, yang sudah terlalu dekat dengan hari peristiwa itu, hari Rabu. Sang kapten merasa jadwal dan tujuan itu mustahil, karena jarak yang masih terlampau jauh. Tetapi ternyata George Muller hanya berkata tegas, “Baik. Kalau kapal ini tidak dapat membawa saya, Tuhan akan mengambil kendaraan lain untuk membawa saya. Sebab belum pernah Tuhan membuat saya tidak menepati satu janji pun selama 57 tahun ini.”

Kisah sang kapten kepada Charles Inglis berlanjut. “Saya bersedia menolong Bapak, tetapi apa yang harus saya perbuat? Saya tidak berdaya,” katanya kepada George Muller. George Muller pun mengajak sang kapten masuk ke kamar peta dan berdoa. Kapten itu menatap George Muller dan berpikir dari rumah sakit jiwa manakah orang itu, karena belum pernah ia mendengar ajakan seaneh itu. Ketika kapten mengingatkan George Muller tentang betapa tebalnya kabut saat itu yang menghambat laju perjalanan mereka, George tetap mantap menjawab, “Mata saya tidak memandang kepada betapa tebalnya kabut ini, melainkan kepada Tuhan yang hidup, yang senantiasa mengatur tiap-tiap segi hidup saya.”

Selanjutnya, kapten mengisahkan bahwa George Muller langsung berlutut dan berdoa, mengucapkan satu doa yang sangat sederhana, yang menurut sang kapten cocok untuk anak-anak yang berumur tidak lebih dari 8 atau 9 tahun, “Ya Tuhan, jikalau Engkau setuju dengan keberangkatan hamba, hilangkanlah kabut ini dalam waktu 5 menit. Tuhan tahu janji hamba, yaitu hamba harus berada di Quebec pada hari Sabtu. Hamba percaya bahwa inilah kehendak-Mu. Amin.” Setelah George Muller selesai berdoa, kapten itu pun hendak berdoa juga, tetapi George Muller justru meletakkan tangannya ke atas bahu kapten dan berkata, “Pertama-tama, Anda tidak percaya bahwa Tuhan mau mengabulkan doa kita. Kedua, saya percaya bahwa Ia sudah melaksanakan itu. Jadi tidak perlu lagi Pak Kapten berdoa untuk itu.”

Kapten itu mengaku kaget menyadari bahwa George Muller tahu isi hatinya! George Muller dikisahkan berkata kemudian, “Pak Kapten, saya sudah mengenal Tuhan saya selama 57 tahun, dan belum pernah satu hari pun Ia menolak saya datang menghadap kepada-Nya, Raja saya itu. Sekarang berdirilah, Pak Kapten, dan bukalah pintu, maka Bapak akan melihat, bahwa kabut sudah hilang.” Sang kapten berdiri dan membuka pintu kamar peta. Benarlah, kabut itu sudah hilang. Perjalanan pun melaju lancar tanpa hambatan dan pada hari Sabtu sorenya George Muller benar-benar sudah berada di Quebec dan siap melakukan pelayanannya.

Potongan demi potongan kisah hidup George Muller yang diceritakan banyak orang menunjukkan betapa ia total menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan dan orang-orang yang belum mengenal Yesus. Iman dan hatinya untuk melayani Tuhan sangat luar biasa. Tuhan menghargai iman dan ketulusan hati George Muller yang polos tetapi kokoh ini, sehingga apa yang dimintanya dalam doa, Tuhan jawab. Bagaimana dengan kita sendiri? Seberapa besar iman kita ketika ada kabut tantangan di dalam hidup kita? Seberapa Firman Tuhan telah kita izinkan memelihara dan membangun iman kita?

0

Karakter, Ragam

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi warga negara yang baik? Di masa sekarang ini, banyak sekali ucapan negatif kita dengar (atau kita keluarkan sendiri) tentang pemerintah kita; berbagai hujatan dan makian dengan dalih memberikan kritik atau mengingatkan demi reformasi dan pembangunan.

Kritik dan masukan yang sehat tentu baik, tetapi ada baiknya pula kita mulai mengevaluasi diri masing-masing sebagai warga masyarakat dan bangsa Indonesia: sejauh mana kita berperan dalam mewujudkan cita-cita bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Perkembangan dan kemajuan bangsa kita membutuhkan peran serta seluruh masyarakat dalam mewujudkannya, termasuk diri kita masing-masing.

Kewarganegaraan sebenarnya dapat kita pandang sebagai suatu bentuk loyalitas keanggotaan, tanggung jawab institusi, kontribusi terhadap komunitas, kepatuhan pada hukum atau peraturan, dan sikap patriotisme kepada bangsa dan negara. Hal terbaik yang dapat dilakukan dalam hal kewarganegaraan adalah dengan kita menjadi warga negara atau warga kota yang baik sehingga menjadi teladan. Ini pada akhirnya akan berdampak positif secara meluas. Kualitas karakter unggul yang ditanamkan dan dikembangkan dalam diri pribadi anggota masyarakat secara simultan dengan pembenahan pada sistem pemerintahan akan mampu untuk segera mewujudkan kemajuan dan transformasi bagi bangsa kita.

Lalu, untuk mewujudkan tujuan yang besar dan indah ini, apa yang dapat kita lakukan secara praktis? Mulailah dengan menjadi warga masyarakat dan warga negara yang berperilaku baik, dengan menghindari sikap-sikap yang kurang terpuji. Apa saja sikap yang kurang terpuji itu? Contohnya banyak sekali; seperti mengabaikan peraturan, baik itu undang-undang, peraturan pemerintah, aturan lalu lintas, dan banyak lagi lainnya; bersikap masa bodoh terhadap kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan; kehilangan jiwa patriotik dan conta bangsa serta mengabaikan nilai-nilai budaya dan etika masyarakat; kurang sungguh-sungguh dalam menggunakan hak pilih demokrasi atau bahkan sengaja mengabaikan hak demokrasinya; enggan bersosialisasi dalam lingkungan/komunitas dan cenderung bergaya ekslusif berdasarkan sukuisme/rasialisme, status sosial, pendidikan, agama, dll.

Selanjutnya, mulailah lakukan perilaku yang baik, yang pada akhirnya menciptakan teladan baik dan menjadikan kita sosok warga masyarakat dan warga negara yang terpuji. Apa artinya?

Mengusahakan kesejahteraan kota/negara tempat kita tinggal dan hidup

Yeremia menulis ayat ini ini secara khusus (Yer. 29:7) ketika bangsa Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel (ay. 4). Secara manusiawi, wajar jika kita berpikir untuk apa menyejahterakan kota dan negara musuh yang menawan kita. Apalagi, dalam ayat 10 disebutkan bahwa bangsa Israel baru akan diperhatikan oleh Tuhan dan dikembalikan ke Yerusalem 70 tahun berikutnya. Namun, ternyata pemikiran Tuhan berbeda. Daripada hidup sengsara sambil berpikir terus untuk kembali pulang, orang Israel saat itu diperintahkan Tuhan untuk “dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!” (ay. 5-6). Dengan kata lain, generasi bangsa Israel saat itu mau tidak mau harus tinggal di Babel! Tuhan mengarahkan bangsa-Nya untuk menjalani kehidupan di Babel sebaik-baiknya – sekalipun dalam masa penjajahan dan menjalani pembuangan. Mereka diminta untuk mengusahakan kesejahteraan kota Babel dan mendoakannya! Alasan Tuhan jelas, yaitu jika kota Babel sejahtera, maka mereka sebagai penduduk di situ juga akan sejahtera.

Cara berpikir ini merupakan cara berpikir bangsa pilihan Allah; kesejahteraan bukanlah semata kesejahteraan diri kita sendiri atau keluarga atau kelompok sendiri saja. Allah mengajarkan kita untuk melihat konteks yang lebih besar: kota dan negara! Dengan demikian, kita akan menjalani kehidupan kita dalam keluarga, pekerjaan, dan gereja dengan selalu berpikir apakah yang kita kerjakan akan membawa dampak yang baik, sedikitnya bagi lingkungan terdekat secara langsung. Kita juga tidak akan bertindak jahat atau merugikan lingkungan karena tahu persis hal tersebut akan mengurangi kesejahteraan lingkungan kita. Jika semua orang Kristen di Indonesia menghayati cara pandang Tuhan ini dan dapat menjadi teladan bagi warga lainnya, tentu dampaknya meluas bagi kesejahteraan kota dan negara kita. Hasilnya, kita sebagai bagian dari kota dan negara kita akan sejahtera juga. Sekali lagi: “usahakan dan doakan kesejahteraan kotamu, karena kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”!

Berdoa untuk kota dan negara dari hati yang peduli

Kepedulian kita terhadap kota dan negara harus kita mulai dari hati. Hati yang peduli melahirkan suatu panggilan untuk berdoa, demi terjadinya terobosan rohani dan terobosa jasmani. Kita harus berdoa kepada Tuhan, memohon ampun kepada Allah bagi penduduk kota kita dan negara kita. Di masa lalu mungkin pernah terjadi kekerasan, kerusuhan, penjarahan atau hal-hal buruk lainnya yang menyebabkan trauma dan ketakutan bagi sebagian dari kita; dan ini membutuhkan pengampunan dan pemulihan. Berdoalah pula supaya terjadi perdamaian dan pemulihan antar kelompok yang ada sehingga terbangun kerukunan antar penduduk. Berdoalah bagi mereka yang kekurangan dan yang lemah, yang mengalami masalah-masalah sosial yang menonjol. Doakan juga tempat-tempat yang secara khusus kecelakaan dan kriminalitas sering terjadi. Kita perlu berdoa juga untuk gereja-gereja supaya mengalami pertumbuhan dan agar pengaruh baiknya dapat dirasakan oleh komunitas masyarakat di sekitarnya. Berdoalah juga bagi pemerintahan dari tingkat teratas sampai tingkat paling bawah, aparat keamanan dan hakim, supaya mereka melakukan tugas dengan integritas dan keadilan dan mampu melaksanakan kebenaran. Ini semua akan membawa kita sendiri juga menjadi pribadi warga yang patut diteladani dan terpuji (a creditable citizen), dan hal ini perlu terus kita tumbuh-kembangkan.

Bagaimana mengembangkan sikap terpuji sebagai warga masyarakat?

  1. Jadilah warga yang peduli, berkontribusi, dan mematuhi hukum dan peraturan.
  2. Jadilah partisipan yang aktif dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
  3. Beranikan diri menyatakan sikap dan integritas terhadap masalah keadilan sosial dan hak-hak asasi manusia.
  4. Gunakan hak dan kewajiban sebagai warga yang baik dalam aspirasi politik dan pengembangan kota dan bangsa.
  5. Latihlah dan kembangkan karakter keteladanan, patriotisme, tanggung jawab, loyalitas dan kepedulian.

“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” – Amsal 14:34

0

Karakter, Ragam

Sebuah perumpamaan berkata seorang bayi yang lahir bagaikan kertas yang putih; dan memang manusia tidak pernah terlahir punya pengalaman tentang hari esok. Namun, sebenarnya kita semua dapat belajar dari hari kemarin dan dari pengalaman orang lain. Kita meninggalkan jejak di belakang kita dan bisa menilai tapak kaki di depan dengan melihat kehidupan orang lain. Kehidupan seseorang dinilai bukan dari apa yang dimilikinya di tampilan luar, tetapi dari sikap dan nilai-nilai yang terpancar dari dalam dirinya.

“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”
(1 Timotius 4:12b)

Arti Keteladanan
Keteladanan adalah kesanggupan untuk memberi pengaruh dan dampak positif pada orang-orang sekitar melalui sikap, tingkah laku, tutur kata, kasih, loyalitas, dan komitmen. Keteladanan melibatkan kemampuan untuk memancarkan karisma dan menularkan karakter secara positif. Keteladanan juga merupakan kualitas hidup yang menunjukkan nilai-nilai universal, yang didasarkan atas kasih dan kebenaran. Menjadi teladan berarti memberi contoh yang patut diikuti, dengan meninggalkan petunjuk/rambu-rambu yang memudahkan orang lain untuk mencapai kondisi hasil yang serupa, atau bahkan lebih baik.

Mengapa Keteladanan Diperlukan?
Keteladanan diperlukan agar generasi selanjutnya, orang-orang yang dipimpin atau di sekitar kita dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keteladanan diperlukan demi terciptanya lingkungan jemaat dan masyarakat yang sehat, positif dan inovatif.

Bagaimana Caranya Menjadi Teladan?

Menjaga perkataan
Tutur kata yang baik menunjukan kedewasaan iman. Apa yang keluar dari mulut mencerminkan isi hati. Kalau hati kita baik, dari mulut kita akan keluar kata-kata yang baik; begitu juga sebaliknya, hati yang buruk akan menghasilkan perkataan yang buruk.

Bagaimana cara menjaga perkataan kita, supaya perkataan kita menjadi teladan?

  1. Berdoa meminta pertolongan Tuhan (Mzm. 141:3); seperti pemazmur, yang meminta pertolongan Tuhan untuk menjaga mulut dan bibirnya.
  2. Tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara (Mzm. 39:2). Lidah seperti api yang dapat membakar, maka sebaiknya kita diam saja daripada berkata-kata yang sia-sia. Berpikir dahulu sebelum berbicara akan menolong kita terhindar dari perkataan yang tidak bermakna.
  3. Tidak menyebarkan gosip, berita hoaks, fitnah, dan tidak berkata kotor serta tidak berkata-kata yang membangkitkan kemarahan bagi orang lain (menjadi provokator).


Menjaga tingkah laku
Kita tidak hanya belajar pandai dalam memahami Firman Tuhan, tetapi juga wajib rajin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu diwujudkan dalam setiap tingkah laku yang menyerupai Yesus, mengampuni, tidak mendendam, rendah hati, tidak egois, selalu penuh sukacita, selalu menyapa orang lain dengan ramah, tidak merampas hak orang lain, dan hal-hal lain yang Yesus lakukan/hidupi. Ketika Firman Tuhan benar-benar menjadi gaya hidup kita, Firman itu akan menarik banyak orang untuk meneladani hidup kita.

Membangun kasih
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Meningkatkan kesetiaan
Kata “kesetiaan” dalam bahasa Yunani ialah “pistis”- yang berarti kepercayaan, iman, kesetiaan. Secara umum, kata ini menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepada-Nya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama, ”pistis”; iman kepada Tuhan memang selalu membawa kepada kesetiaan mengikut dan melayani Dia

Menjaga kesucian
Kesucian berasal dari kata “suci” yang berarti keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia atau tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hati yang suci terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, tetapi terutama kesucian batiniah. Ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang tampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan diri kita dan sesama kita itu tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14)

0

Karakter, Ragam

Tak seorang pun benar-benar bisa jadi superman
Almarhum Christopher Reeve menjadi sangat terkenal ketika ia memerankan tokoh Superman. Superman menjadi tokoh fantasi idola anak-anak sedunia karena kehebatan dan kekuatannya yang tak terkalahkan. Ia digambarkan senang menolong dan selalu menang atas berbagai kejahatan. Namun, di akhir hidupnya Reeve mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan ia lumpuh total. Tetapi, semangatnya tak terpadamkan, dan dengan bantuan istri, keluarga, rekan-rekan dan peralatan medis, ia sanggup menjadi seorang sutradara film. Apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini? Tak seorang pun benar-benar bisa menjadi superman. Kita semua ternyata saling membutuhkan. Kekuatan dan kehebatan terletak dari kerja sama dan sinergi yang harmonis.



Kegagalan si lone ranger
Memang benar, ada orang yang memiliki banyak talenta dan sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan sekaligus (multi tasking), namun orang seperti ini pun tidak memiliki segalanya. Ia tetap membutuhkan orang lain. Untuk sementara ia mungkin kelihatan unggul, tetapi sesungguhnya ia tak akan mampu bersaing menghadapi kekuatan sebuah tim.

Pernah ada seorang pemilik perusahaan yang bermaksud mencari rekanan untuk jasa pelatihan di kantornya. Ia menghubungi sebuah perusahaan pelatihan dan melakukan wawancara pada sang kandidat trainer. Si pengusaha menanyakan perihal kompetensi sang trainer. Dengan bangga sang trainer menjawab bahwa ia sanggup mengajarkan semua bidang keahlian yang diinginkan pemilik perusahaan. Harapannya, ia pasti memperoleh pekerjaan tersebut. Tetapi ternyata ia harus kecewa, karena ternyata si bos mencari trainer yang expert (pakar) pada bidang tertentu dan bukan yang “bisa segalanya”.



Di era globalisasi, kita memerlukan spesialisasi.
Apa yang dilakukan Yesus ketika Ia siap memulai pelayanan? Yesus tidak sekadar berkhotbah, melakukan mujizat dan mengajar orang banyak, tetapi Ia juga memanggil murid-muridNya yang pertama. Yesus membangun timNya. Ia menyadari tugas mahapenting yang harus dilakukan dan dilanjutkan nantinya, karena tidak untuk selama-lamanya Ia berada di dunia ini.

Ada hal yang menarik ketika Yesus memanggil para rasulNya, yang merupakan prinsip-prinsip utama dari team work:



# 1. Spesifik – Mereka berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda.
Yesus secara spesifik memanggil nelayan, pemungut cukai, dokter, pejuang kaum Zelot dan lain-lainnya untuk menjadi rasul-rasul. Keragaman memperkaya khazanah dan kompetensi teamwork.



# 2. Network – Mereka dipanggil untuk menjadi penjala bukan pemancing.
Sebuah jala berbeda dengan pancing. Pancing adalah usaha perorangan. Sedangkan jala berbicara tentang kerja sama. Saling mengisi, mendukung dan menolong satu sama lain.



# 3. Delegasi – Mereka dipercayai melakukan tanggung jawab masing-masing.
Secara mendadak murid-murid pernah diperintahkan untuk memberi makan 5.000 orang. Filipus segera menghitung anggaran biaya. Andreas bagian humas menemukan seorang anak dengan bekal roti dan ikan. Yesus memberkati makanan itu dan murid-murid membagikannya. Mujizat dan kuasa ada pada Yesus, namun teamwork yang ada selalu berfungsi sebagai pelaksana andal.



Membiasakan diri bekerja secara teamwork
Tidak banyak orang memiliki bakat alamiah sebagai pemimpin, dan sebagian besar pemimpin sulit mendelegasikan atau bekerja sama dengan orang lain. Ego yang kuat dan sulit memercayai orang lain merupakan halangan terbesar dalam teamwork. Syukurlah, hal ini dapat dikelola dan dilatih agar kita tidak terjebak dalam kegagalan si lone ranger.

Seperti halnya seorang pemimpin tidak dilahirkan, melainkan dibentuk, demikian pula sebuah teamwork harus dibangun dengan melewati berbagai proses pembentukan. Diawali dengan tahap pengenalan pribadi dan sesama anggota, selanjutnya ada tahap konflik dan perbedaan pendapat, kemudian terjadi proses saling memahami dan penyesuaian pribadi yang dilanjutkan dengan kemampuan untuk saling mengisi dan sinergi. Ketika seseorang merasa lemah, anggota tim yang lain akan menolong. Itulah keunggulan sebuah sinergi teamwork.



Word of Wisdom
Teamwork yang solid mampu melewati masa-masa yang sulit, sekaligus akan bersama-sama menikmati sukacita keberhasilan.

0

Karakter, Ragam

Sebuah perumpamaan berkata seorang bayi yang lahir bagaikan kertas yang putih; dan memang manusia tidak pernah terlahir punya pengalaman tentang hari esok. Namun, sebenarnya kita semua dapat belajar dari hari kemarin dan dari pengalaman orang lain. Kita meninggalkan jejak di belakang kita dan bisa menilai tapak kaki di depan dengan melihat kehidupan orang lain. Kehidupan seseorang dinilai bukan dari apa yang dimilikinya di tampilan luar, tetapi dari sikap dan nilai-nilai yang terpancar dari dalam dirinya.

“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” – (1 Timotius 4:12b)

Arti Keteladanan
Keteladanan adalah kesanggupan untuk memberi pengaruh dan dampak positif pada orang-orang sekitar melalui sikap, tingkah laku, tutur kata, kasih, loyalitas, dan komitmen. Keteladanan melibatkan kemampuan untuk memancarkan karisma dan menularkan karakter secara positif. Keteladanan juga merupakan kualitas hidup yang menunjukkan nilai-nilai universal, yang didasarkan atas kasih dan kebenaran. Menjadi teladan berarti memberi contoh yang patut diikuti, dengan meninggalkan petunjuk/rambu-rambu yang memudahkan orang lain untuk mencapai kondisi hasil yang serupa, atau bahkan lebih baik.

Mengapa Keteladanan Diperlukan?
Keteladanan diperlukan agar generasi selanjutnya, orang-orang yang dipimpin atau di sekitar kita dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keteladanan diperlukan demi terciptanya lingkungan jemaat dan masyarakat yang sehat, positif dan inovatif.

Bagaimana Caranya Menjadi Teladan?

Menjaga perkataan
Tutur kata yang baik menunjukan kedewasaan iman. Apa yang keluar dari mulut mencerminkan isi hati. Kalau hati kita baik, dari mulut kita akan keluar kata-kata yang baik; begitu juga sebaliknya, hati yang buruk akan menghasilkan perkataan yang buruk.

Bagaimana cara menjaga perkataan kita, supaya perkataan kita menjadi teladan?

Berdoa meminta pertolongan Tuhan (Mzm. 141:3); seperti pemazmur, yang meminta pertolongan Tuhan untuk menjaga mulut dan bibirnya. Tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara (Mzm. 39:2). Lidah seperti api yang dapat membakar, maka sebaiknya kita diam saja daripada berkata-kata yang sia-sia. Berpikir dahulu sebelum berbicara akan menolong kita terhindar dari perkataan yang tidak bermakna. Tidak menyebarkan gosip, berita hoaks, fitnah, dan tidak berkata kotor serta tidak berkata-kata yang membangkitkan kemarahan bagi orang lain (menjadi provokator).

Menjaga tingkah laku
Kita tidak hanya belajar pandai dalam memahami Firman Tuhan, tetapi juga wajib rajin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu diwujudkan dalam setiap tingkah laku yang menyerupai Yesus, mengampuni, tidak mendendam, rendah hati, tidak egois, selalu penuh sukacita, selalu menyapa orang lain dengan ramah, tidak merampas hak orang lain, dan hal-hal lain yang Yesus lakukan/hidupi. Ketika Firman Tuhan benar-benar menjadi gaya hidup kita, Firman itu akan menarik banyak orang untuk meneladani hidup kita.

Membangun kasih
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Meningkatkan kesetiaan
Kata “kesetiaan” dalam bahasa Yunani ialah “pistis”- yang berarti kepercayaan, iman, kesetiaan. Secara umum, kata ini menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepada-Nya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama, ”pistis”; iman kepada Tuhan memang selalu membawa kepada kesetiaan mengikut dan melayani Dia

Menjaga kesucian
Kesucian berasal dari kata “suci” yang berarti keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia atau tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hati yang suci terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, tetapi terutama kesucian batiniah. Ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang tampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan diri kita dan sesama kita itu tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14)

0

Karakter, Ragam

Memasuki tahun yang baru, manusia pada umumnya selalu membawa harapan dan semangat yang baru. Dengan berbekal sebuah resolusi yang baru saja dibuat atau diperbaharui di akhir tahun sebelumnya, kita semua berharap bahwa resolusi itu akan terwujud nyata di tahun yang baru kita masuki ini.

“Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah–yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.” (Roma 12:2, BIS-1985)

Memasuki tahun yang baru, manusia pada umumnya selalu membawa harapan dan semangat yang baru. Dengan berbekal sebuah resolusi yang baru saja dibuat atau diperbaharui di akhir tahun sebelumnya, kita semua berharap bahwa resolusi itu akan terwujud nyata di tahun yang baru kita masuki ini. Mungkin ini adalah sebuah resolusi yang benar-benar baru, atau tidak sedikit juga yang merupakan pengulangan atau pembaharuan dari resolusi tahun lalu yang belum terwujud. Apa pun isi resolusi itu, tahun baru menjadi waktu yang terbaik, yang tepat, yang kita yakini sebagai momentum untuk terwujudnya harapan menjadi kenyataan.

Spirit is a strength – Semangat adalah sebuah kekuatan

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Ams. 18:14). Firman Tuhan menunjukkan kepada kita betapa pentingnya “semangat”. “Semangat” ialah sebuah kekuatan yang dahsyat; bahkan penderitaan pun bisa ditanggung oleh orang yang bersemangat. Kita pun harus memiliki “semangat” yang menjadi kekuatan ini, dan setelah memilikinya kita harus tetap menjaganya.

“Semangat” menjadi modal awal dalam mewujudkan resolusi yang sudah kita buat. “semangat” bagaikan pasokan daya listrik bagi lampu agar tetap menyala dan mengalahkan kegelapan, atau bagi barang-barang elektronik untuk tetap berfungsi sebagaimana rancangannya. “Semangat” bagaikan baterai bagi sebuah ponsel agar tetap bisa menerima panggilan telepon maupun melakukan fungsi-fungsi lainnya. Seperti sebuah ponsel mahal dan canggih yang kehilangan segala kemampuannya ketika daya di baterai habis, demikianlah kehidupan kita tanpa “semangat”.

Mindset is the drive – Pola pikirlah yang menggerakkan kita

Pola pikir kita (atau kadang-kadang disebut paradigma kita) adalah gabungan dari seluruh keyakinan, nilai, identitas, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, pendapat, dan pemikiran kita — tentang diri kita sendiri, orang lain, dan bagaimana kehidupan berjalan. Pola pikir ialah saringan kita gunakan untuk menafsirkan segala sesuatu yang kita lihat dan alami. Pola pikir kita membentuk kehidupan kita dan menarik kepada diri kita hasil-hasil yang merupakan refleksi pasti dari pola pikir itu. Bagaimana pola pikir kita menentukan ke mana kehidupan kita bergerak. Pola pikir menggerakkan kehidupan kita.

Kita menyikapi, bereaksi terhadap, dan pada kenyataannya menciptakan “dunia” atau “alam kehidupan” kita berdasarkan pola pikir individual kita sendiri. Pola pikir kitalah yang memberi tahu kita bagaimana permainan hidup ini harus dimainkan, serta mengatur apakah kita memainkannya secara berhasil atau tidak. Contohnya, kita mungkin memiliki pola pikir (karena berbagai pengalaman sebelumnya) yang memberi tahu kita, “Kehidupan ini sangat keras; kita harus berjuang bahkan sekadar untuk hidup pas-pasan.” atau kita mungkin memiliki pola pikir yang “lebih positif” seperti, “Aku punya kemampuan yang hebat. Aku pasti berhasil, apa pun rintangan dan kesulitannya!” Hasil dari masing-masing pola pikir terlihat dari kehidupan masing-masing individu.

Pikiran adalah magnet yang sangat kuat. Apa pun yang diberitahukan pola pikir kita kepada kita adalah apa yang kita tarik, baik kita menyadarinya atau tidak. Setiap pola pikir menggerakkan cara hidup tertentu dan membuahkan hasil yang nyata, entah kita menyadari pola pikir itu maupun tidak. Pola pikir bahwa kehidupan ini sangat keras dan kita harus berjuang bahkan sekadar untuk hidup pas-pasan akan menggerakkan cara hidup biasa berjuang dan bekerja keras; tetapi juga yang serba kesulitan dan merasa tak mungkin lepas dari perjuangan serta kondisi pas-pasan. Di sisi lain, pola pikir bahwa diri sendiri punya kemampuan hebat dan pasti berhasil apa pun rintangan atau kesulitannya akan menggerakkan cara hidup yang pantang menyerah dan percaya diri; tetapi juga yang alergi terhadap kegagalan dan cenderung berani melakukan segala cara demi keberhasilan. Kita tidak perlu menyadari keberadaan sebuah pola pikir; kita hanya perlu melihat cara hidup kita dan hasil-hasilnya. Hasil yang kita alami dan peroleh dalam kehidupan kita pasti sesuai dengan pola pikir yang kita yakini.

Pola pikir menggerakkan perilaku dan kehidupan kita. Maka, kita harus memiliki pola pikir yang benar untuk menghasilkan perilaku yang benar dan kehidupan yang maksimal.

New mindset creates changes – Pola pikir yang baru menciptakan perubahan

Bagaimana kita dapat memiliki pola pikir yang baru, yang menciptakan perubahan perilaku dan cara hidup?

1. Think out the box
(berpikir secara kreatif di luar kebiasaan)

Umumnya, kita terbiasa berpikir lazim dan logis, dengan pola “belajar” atau pemahaman yang sistematis dan runut, sehingga tanpa sadar kita menciptakan sebuah kotak pemikiran yang rapi dan teratur lalu kita terus-menerus berdiam di dalam kotak itu. Perubahan pemikiran menjadi “out of the box” berarti berpikir di luar kebiasaan, di luar kelaziman dan rutinitas, dengan pikiran yang kreatif dan ide-ide baru.

2. Be up to date at the moment
(sesuai dengan waktu dan momentum)

Titik awal juga berarti momentum untuk melakukan sesuatu. Konsep waktu memiliki dua pengertian dalam bahasa Yunani: “kronos”, artinya dimensi rutin waktu, dan “kairos”, yaitu momentum waktu. Pembaharuan pikiran juga berarti kesesuaian dengan momentum ini, saat ini, dan tepat peluang.

3. Stay in target
(berada dalam target sasaran)

Tujuan yang jelas mendorong kita untuk segera bergerak mencapainya. Pemikiran yang diarahkan tetap pada sasaran akan mengembangkan imajinasi dan ide-ide baru untuk mengambil langkah awal yang sukses.

4. Keep it under control
(tidak lepas kendali)

Pikiran tidak dapat dibatasi; bisa mengembara ke mana saja sementara tubuh kita diam di tempat. Tanpa pengendalian pikiran yang sehat, kita akan terjebak dalam fantasi belaka. Pembaharuan budi juga berarti tetap dalam penguasaan diri, tidak membiarkan pikiran kita menjadi lepas kendali.

5. Walk on the way of truth
(berjalan dalam kebenaran)

Masing-masing orang bisa saja memiliki persepsi yang berbeda, tetapi kebenaran adalah tetap. Hakikat pembaharuan budi adalah perubahan sikap berpikir ke arah yang lurus, benar, adil, suci, dan mulia sesuai dengan Firman Tuhan. Tetap berjalan dalam jalur kebenaran memastikan kita tiba pada tujuan akhir setelah segala prosesnya.

Dengan pola pikir yang telah diubahkan menjadi baru sesuai Firman Tuhan, kita akan semakin mengerti kehendak Tuhan, yaitu mana yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Inilah yang dimaksud dalam perkataan Firman Tuhan tentang pembaharuan budi dan mengetahui kehendak Allah.

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 5NO NEW POSTS
Skip to toolbar