PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
Karakter, Ragam

Sebuah perumpamaan berkata seorang bayi yang lahir bagaikan kertas yang putih; dan memang manusia tidak pernah terlahir punya pengalaman tentang hari esok. Namun, sebenarnya kita semua dapat belajar dari hari kemarin dan dari pengalaman orang lain. Kita meninggalkan jejak di belakang kita dan bisa menilai tapak kaki di depan dengan melihat kehidupan orang lain. Kehidupan seseorang dinilai bukan dari apa yang dimilikinya di tampilan luar, tetapi dari sikap dan nilai-nilai yang terpancar dari dalam dirinya.

“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” – (1 Timotius 4:12b)

Arti Keteladanan
Keteladanan adalah kesanggupan untuk memberi pengaruh dan dampak positif pada orang-orang sekitar melalui sikap, tingkah laku, tutur kata, kasih, loyalitas, dan komitmen. Keteladanan melibatkan kemampuan untuk memancarkan karisma dan menularkan karakter secara positif. Keteladanan juga merupakan kualitas hidup yang menunjukkan nilai-nilai universal, yang didasarkan atas kasih dan kebenaran. Menjadi teladan berarti memberi contoh yang patut diikuti, dengan meninggalkan petunjuk/rambu-rambu yang memudahkan orang lain untuk mencapai kondisi hasil yang serupa, atau bahkan lebih baik.

Mengapa Keteladanan Diperlukan?
Keteladanan diperlukan agar generasi selanjutnya, orang-orang yang dipimpin atau di sekitar kita dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keteladanan diperlukan demi terciptanya lingkungan jemaat dan masyarakat yang sehat, positif dan inovatif.

Bagaimana Caranya Menjadi Teladan?

Menjaga perkataan
Tutur kata yang baik menunjukan kedewasaan iman. Apa yang keluar dari mulut mencerminkan isi hati. Kalau hati kita baik, dari mulut kita akan keluar kata-kata yang baik; begitu juga sebaliknya, hati yang buruk akan menghasilkan perkataan yang buruk.

Bagaimana cara menjaga perkataan kita, supaya perkataan kita menjadi teladan?

Berdoa meminta pertolongan Tuhan (Mzm. 141:3); seperti pemazmur, yang meminta pertolongan Tuhan untuk menjaga mulut dan bibirnya. Tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara (Mzm. 39:2). Lidah seperti api yang dapat membakar, maka sebaiknya kita diam saja daripada berkata-kata yang sia-sia. Berpikir dahulu sebelum berbicara akan menolong kita terhindar dari perkataan yang tidak bermakna. Tidak menyebarkan gosip, berita hoaks, fitnah, dan tidak berkata kotor serta tidak berkata-kata yang membangkitkan kemarahan bagi orang lain (menjadi provokator).

Menjaga tingkah laku
Kita tidak hanya belajar pandai dalam memahami Firman Tuhan, tetapi juga wajib rajin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu diwujudkan dalam setiap tingkah laku yang menyerupai Yesus, mengampuni, tidak mendendam, rendah hati, tidak egois, selalu penuh sukacita, selalu menyapa orang lain dengan ramah, tidak merampas hak orang lain, dan hal-hal lain yang Yesus lakukan/hidupi. Ketika Firman Tuhan benar-benar menjadi gaya hidup kita, Firman itu akan menarik banyak orang untuk meneladani hidup kita.

Membangun kasih
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Meningkatkan kesetiaan
Kata “kesetiaan” dalam bahasa Yunani ialah “pistis”- yang berarti kepercayaan, iman, kesetiaan. Secara umum, kata ini menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepada-Nya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama, ”pistis”; iman kepada Tuhan memang selalu membawa kepada kesetiaan mengikut dan melayani Dia

Menjaga kesucian
Kesucian berasal dari kata “suci” yang berarti keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia atau tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hati yang suci terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, tetapi terutama kesucian batiniah. Ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang tampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan diri kita dan sesama kita itu tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14)

0

Karakter, Ragam

Memasuki tahun yang baru, manusia pada umumnya selalu membawa harapan dan semangat yang baru. Dengan berbekal sebuah resolusi yang baru saja dibuat atau diperbaharui di akhir tahun sebelumnya, kita semua berharap bahwa resolusi itu akan terwujud nyata di tahun yang baru kita masuki ini.

“Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah–yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.” (Roma 12:2, BIS-1985)

Memasuki tahun yang baru, manusia pada umumnya selalu membawa harapan dan semangat yang baru. Dengan berbekal sebuah resolusi yang baru saja dibuat atau diperbaharui di akhir tahun sebelumnya, kita semua berharap bahwa resolusi itu akan terwujud nyata di tahun yang baru kita masuki ini. Mungkin ini adalah sebuah resolusi yang benar-benar baru, atau tidak sedikit juga yang merupakan pengulangan atau pembaharuan dari resolusi tahun lalu yang belum terwujud. Apa pun isi resolusi itu, tahun baru menjadi waktu yang terbaik, yang tepat, yang kita yakini sebagai momentum untuk terwujudnya harapan menjadi kenyataan.

Spirit is a strength – Semangat adalah sebuah kekuatan

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Ams. 18:14). Firman Tuhan menunjukkan kepada kita betapa pentingnya “semangat”. “Semangat” ialah sebuah kekuatan yang dahsyat; bahkan penderitaan pun bisa ditanggung oleh orang yang bersemangat. Kita pun harus memiliki “semangat” yang menjadi kekuatan ini, dan setelah memilikinya kita harus tetap menjaganya.

“Semangat” menjadi modal awal dalam mewujudkan resolusi yang sudah kita buat. “semangat” bagaikan pasokan daya listrik bagi lampu agar tetap menyala dan mengalahkan kegelapan, atau bagi barang-barang elektronik untuk tetap berfungsi sebagaimana rancangannya. “Semangat” bagaikan baterai bagi sebuah ponsel agar tetap bisa menerima panggilan telepon maupun melakukan fungsi-fungsi lainnya. Seperti sebuah ponsel mahal dan canggih yang kehilangan segala kemampuannya ketika daya di baterai habis, demikianlah kehidupan kita tanpa “semangat”.

Mindset is the drive – Pola pikirlah yang menggerakkan kita

Pola pikir kita (atau kadang-kadang disebut paradigma kita) adalah gabungan dari seluruh keyakinan, nilai, identitas, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, pendapat, dan pemikiran kita — tentang diri kita sendiri, orang lain, dan bagaimana kehidupan berjalan. Pola pikir ialah saringan kita gunakan untuk menafsirkan segala sesuatu yang kita lihat dan alami. Pola pikir kita membentuk kehidupan kita dan menarik kepada diri kita hasil-hasil yang merupakan refleksi pasti dari pola pikir itu. Bagaimana pola pikir kita menentukan ke mana kehidupan kita bergerak. Pola pikir menggerakkan kehidupan kita.

Kita menyikapi, bereaksi terhadap, dan pada kenyataannya menciptakan “dunia” atau “alam kehidupan” kita berdasarkan pola pikir individual kita sendiri. Pola pikir kitalah yang memberi tahu kita bagaimana permainan hidup ini harus dimainkan, serta mengatur apakah kita memainkannya secara berhasil atau tidak. Contohnya, kita mungkin memiliki pola pikir (karena berbagai pengalaman sebelumnya) yang memberi tahu kita, “Kehidupan ini sangat keras; kita harus berjuang bahkan sekadar untuk hidup pas-pasan.” atau kita mungkin memiliki pola pikir yang “lebih positif” seperti, “Aku punya kemampuan yang hebat. Aku pasti berhasil, apa pun rintangan dan kesulitannya!” Hasil dari masing-masing pola pikir terlihat dari kehidupan masing-masing individu.

Pikiran adalah magnet yang sangat kuat. Apa pun yang diberitahukan pola pikir kita kepada kita adalah apa yang kita tarik, baik kita menyadarinya atau tidak. Setiap pola pikir menggerakkan cara hidup tertentu dan membuahkan hasil yang nyata, entah kita menyadari pola pikir itu maupun tidak. Pola pikir bahwa kehidupan ini sangat keras dan kita harus berjuang bahkan sekadar untuk hidup pas-pasan akan menggerakkan cara hidup biasa berjuang dan bekerja keras; tetapi juga yang serba kesulitan dan merasa tak mungkin lepas dari perjuangan serta kondisi pas-pasan. Di sisi lain, pola pikir bahwa diri sendiri punya kemampuan hebat dan pasti berhasil apa pun rintangan atau kesulitannya akan menggerakkan cara hidup yang pantang menyerah dan percaya diri; tetapi juga yang alergi terhadap kegagalan dan cenderung berani melakukan segala cara demi keberhasilan. Kita tidak perlu menyadari keberadaan sebuah pola pikir; kita hanya perlu melihat cara hidup kita dan hasil-hasilnya. Hasil yang kita alami dan peroleh dalam kehidupan kita pasti sesuai dengan pola pikir yang kita yakini.

Pola pikir menggerakkan perilaku dan kehidupan kita. Maka, kita harus memiliki pola pikir yang benar untuk menghasilkan perilaku yang benar dan kehidupan yang maksimal.

New mindset creates changes – Pola pikir yang baru menciptakan perubahan

Bagaimana kita dapat memiliki pola pikir yang baru, yang menciptakan perubahan perilaku dan cara hidup?

1. Think out the box
(berpikir secara kreatif di luar kebiasaan)

Umumnya, kita terbiasa berpikir lazim dan logis, dengan pola “belajar” atau pemahaman yang sistematis dan runut, sehingga tanpa sadar kita menciptakan sebuah kotak pemikiran yang rapi dan teratur lalu kita terus-menerus berdiam di dalam kotak itu. Perubahan pemikiran menjadi “out of the box” berarti berpikir di luar kebiasaan, di luar kelaziman dan rutinitas, dengan pikiran yang kreatif dan ide-ide baru.

2. Be up to date at the moment
(sesuai dengan waktu dan momentum)

Titik awal juga berarti momentum untuk melakukan sesuatu. Konsep waktu memiliki dua pengertian dalam bahasa Yunani: “kronos”, artinya dimensi rutin waktu, dan “kairos”, yaitu momentum waktu. Pembaharuan pikiran juga berarti kesesuaian dengan momentum ini, saat ini, dan tepat peluang.

3. Stay in target
(berada dalam target sasaran)

Tujuan yang jelas mendorong kita untuk segera bergerak mencapainya. Pemikiran yang diarahkan tetap pada sasaran akan mengembangkan imajinasi dan ide-ide baru untuk mengambil langkah awal yang sukses.

4. Keep it under control
(tidak lepas kendali)

Pikiran tidak dapat dibatasi; bisa mengembara ke mana saja sementara tubuh kita diam di tempat. Tanpa pengendalian pikiran yang sehat, kita akan terjebak dalam fantasi belaka. Pembaharuan budi juga berarti tetap dalam penguasaan diri, tidak membiarkan pikiran kita menjadi lepas kendali.

5. Walk on the way of truth
(berjalan dalam kebenaran)

Masing-masing orang bisa saja memiliki persepsi yang berbeda, tetapi kebenaran adalah tetap. Hakikat pembaharuan budi adalah perubahan sikap berpikir ke arah yang lurus, benar, adil, suci, dan mulia sesuai dengan Firman Tuhan. Tetap berjalan dalam jalur kebenaran memastikan kita tiba pada tujuan akhir setelah segala prosesnya.

Dengan pola pikir yang telah diubahkan menjadi baru sesuai Firman Tuhan, kita akan semakin mengerti kehendak Tuhan, yaitu mana yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Inilah yang dimaksud dalam perkataan Firman Tuhan tentang pembaharuan budi dan mengetahui kehendak Allah.

0

Karakter, Ragam

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yakobus 1:2-4)

Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan atau masalah. Tidak ada orang yang kebal terhadap kesusahan atau penderitaan. Sikap kita masing-masing saat menghadapi kesukaran akan menentukan hasil atau manfaat di balik semua penderitaan yang dialami.

Kesulitan bisa terjadi karena dosa atau kesalahan pribadi, tetapi juga bisa muncul sebagai akibat dari situasi, orang lain, atau karena barang/peralatan yang bersifat di luar diri atau kendali kita. Bagaimana respons kita menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindarkan? Pada situasi semacam ini, respons yang terbaik adalah menemukan kekuatan positif dari ketekunan atau membangun ketabahan di balik semua penderitaan. Jangan sampai kita kehilangan pengharapan pada saat-saat yang berat dan menekan seperti ini. Jika kita dapat menemukan hikmah dari penderitaan yang dialami, kita akan mampu membangun kualitas karakter yang unggul. Karakter unggul inilah yang akan membuat kita mampu bertahan dan menjadi pemenang.

Memahami makna perseverance
Ketekunan diambil dari kata kerja Yunani hy•po•meʹno, yang secara harfiah berarti “tetap tinggal di bawah”. Kata ini diterjemahkan menjadi “masih tinggal” di Lukas 2:43 dan “tetap tinggal” di Kisah Para Rasul 17:14. Kata ini juga mempunyai makna “bertahan pada posisi”, “bertahan”, dan “tetap teguh atau berkukuh”, dan karena itu sering pula diterjemahkan menjadi “bertekun” (contohnya, di Mat. 24:13). Bentuk kata bendanya, hy•po•mo•neʹ, biasanya mengandung makna “keberanian”, “keteguhan hati”, atau “ketekunan”, yang disertai kualitas kesabaran dan tidak hilang harapan sewaktu menghadapi rintangan, penindasan, cobaan, atau godaan.

Dari pembelajaran ini, ternyata makna ketekunan adalah kemampuan untuk melewati kesukaran atau penderitaan sambil tetap memiliki kekuatan positif dalam mengatasi keputusasaan, ketekunan untuk bertahan menghadapi tekanan dan kesulitan, ketabahan karena memiliki pengharapan serta kemampuan mengelola penderitaan yang dialami menjadi suatu kekuatan karakter. Ketekunan juga merupakan keputusan atau ketetapan hati yang kuat (teguh) untuk bersungguh-sungguh, rajin, dan tuntas dalam melakukan apa pun. Orang yang tekun adalah orang yang berfokus, konsisten, dan tidak cepat atau mudah putus asa terhadap apa yang sedang dikerjakannya, meskipun sulit atau berat. Firman Tuhan menjelaskan bahwa, orang yang tekun sajalah yang akan menghasilkan buah (Luk. 8:15).

Mengapa kita perlu ketekunan?
Banyak orang sangat merindukan agar janji-janji Tuhan dalam hidupnya dapat terjadi dan mereka peroleh. Mereka bahkan mengatakan telah “melakukan kehendak Tuhan” sebagai syarat janji-janji itu. Padahal, sekalipun kita telah melakukan kehendak Tuhan, jika tidak disertai ketekunan, janji-janji-Nya tidak akan kita peroleh (“…Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu,” – Ibr. 10:36). Ketekunan adalah unsur terpenting dalam setiap keberhasilan.

Zaman modern yang serba instan telah memudarkan arti ketekunan. Orang di zaman sekarang ingin cepat behasil tanpa kerja keras dan ketekunan. Di masa-masa tekanan yang berat bagi gereja, Tuhan memberi instruksi kepada setiap orang kudus (orang percaya) agar tetap tekun (Why. 14:11-12).

Kita perlu ketekunan karena kita menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, agar kita menang menghadapi kesulitan atau penderitaan. Kita harus bertekun karena ketekunan menghasilkan karakter yang akan membawa kita menang melewati semuanya itu.

Bagaimana mengembangkan ketekunan?
1. Melalui penderitaan dari situasi Dalam proses ketekunan selama penderitaan, kita memahami hikmah dari penderitaan/kesengsaraan yang kita alami. Itulah sebabnya Tuhan kadang kala memakai situasi sengsara dengan tujuan agar Ia dapat membentuk ketekunan di dalam diri kita. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,” (Roma 5:3).

2. Melalui ujian iman yang Tuhan izinkan “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan,” (Yak. 1:3). Karena itulah, Tuhan sering kali mengizinkan berbagai pencobaan menimpa hidup kita dengan maksud agar ketekunan muncul dan terlatih di dalam diri kita.

3. Melalui latihan dalam ketetapan niat hati kita Ketekunan dapat dilatih, karena hal itu adalah ketetapan hati. Sekalipun istri Ayub mendesak Ayub agar tidak bertekun lagi dalam kesalehannya, Ayub tetap memutuskan dan menetapkan untuk bertekun dalam kesalehannya (Ayub 2:9-10). Latihan dalam ketetapan hati seperti ini dapat kita lakukan dengan cara mengembangkan pengharapan dan optimisme, membangun kekuatan positif dan motivasi pribadi. Pencobaan dan masalah yang dihadapi tidak akan melebihi kekuatan kita untuk menanggungnya.

0

Karakter, Ragam

Memaafkan dan melupakan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, banyak kerugian yang kita alami jika kita tidak mau mengampuni dan melupakan kegagalan orang lain, yaitu:

1. Hidup dalam kepahitan
Kita akan selalu membenci orang yang berbuat salah pada kita, karena rasa benci dan dendam akan tetap melekat di dalam hati kita seumur hidup.

2. Cepat tersinggung
Kita akan menjadi orang yang sensitif; setiap kali orang melakukan kesalahan atau ada situasi yang memicu, kita akan mudah marah-marah dan menghakimi.

3. Hidup dalam prasangka
Kita senantiasa curiga dan berpikiran negatif terhadap orang lain dan situasi.

4. Kehilangan sukacita
Pikiran dan perasaan kita semakin dipenuhi oleh kenangan buruk/pahit dan dukacita, yang akhirnya dapat menutup rasa terhadap kegembiraan hidup.

5. Kehilangan kepercayaan
Kita menjadi lebih skeptis dan apatis; tidak mau percaya atau peduli terhadap sesama atau situasi, hanya memaknai segala sesuatu dari sudut pandang kita sendiri yang negatif.

Meski banyak orang memahami dampak buruk dari tidak mau mengampuni dan melupakan, faktanya banyak pula orang yang tetap bertahan tidak mengampuni dan melupakan. Mengapa demikian?

1. Kita tidak dapat menerima kegagalan orang lain
Tuntutan yang semakin tinggi membuat kita selalu berpacu untuk menjadi yang terbaik dan tidak dapat menoleransi segala kegagalan yang ada. Kita terobsesi untuk menjadi sempurna, maka ketika orang lain gagal kita akan langsung menyalahkan dan menghakimi kegagalan orang lain, yang akhirnya berujung pada frustrasi dan kepahitan yang menghancurkan diri kita sendiri.

2. Kita dipenuhi oleh pikiran negatif dan selalu mengingat kesalahan orang lain
Manusia cenderung mudah mengingat kesalahan orang lain daripada kebaikannya. Sekali saja orang berbuat salah kita akan cenderung berpikiran negatif bahwa dia telah menyakiti kita dan pasti akan berbuat salah menyakiti kita lagi. Akibatnya, apa pun yang dilakukan oleh orang tersebut akan tetap salah di mata kita.

3. Kita masih mempertahankan ego
Rasul Petrus pernah bertanya kepada Yesus harus berapa kali mengampuni orang lain. Bagi Petrus, mengampuni sampai 7 kali sudah cukup, tetapi Yesus menyatakan jauh lebih dari itu, 7 dikalikan 77 kali. Betapa banyaknya kesalahan berulang yang dilakukan orang lain yang Yesus mau kita tetap ampuni! Sebenarnya bukan kuantitas yang dimaksud Yesus, tetapi kita diajarkan kualitas kasih, yaitu kesabaran yang tidak menuntut syarat batas. Yesus ingin mengajarkan bahwa dengan kesabaran hati kita tidak akan dipenuhi dengan dendam dan kebencian. Sebaliknya, dengan mempertahankan ego kita cenderung sulit untuk mengampuni karena masih menyimpan gengsi yang tinggi di di dalam hati. Ego atau gengsi akan membuat kita memandang orang lain lebih rendah dan tidak layak untuk mengusik atau menyakiti kita sama sekali.

Lalu, bagaimana cara mengembangkan karakter mengampuni dan melupakan?

1. Menyadari bahwa setiap orang pernah berbuat salah, termasuk diri kita sendiri
Kita memang dituntut untuk mengerjakan segala hal dengan baik. Dalam proses tersebut kita harus belajar dan proses pembelajaran termasuk melakukan kesalahan dan latihan yang lebih baik lagi. Karena itu, setiap orang perlu “ruang gagal” untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain.

2. Berlatih mengendalikan amarah dan menerapkan pikiran positif dalam setiap aspek kehidupan
Amarah dapat dikendalikan bila kita mau untuk bersabar dalam melakukan kegiatan. Menenangkan diri kita secara emosional akan membuat kita dapat berpikir jernih. Dalam setiap peristiwa dalam hidup kita, ada hikmah yang dapat dipetik dan di sanalah kita belajar untuk berpikiran positif dengan belajar untuk melihat permasalahan dari sisi yang lain. Semuanya dimulai dari percaya pada diri kita sendiri dahulu sehingga kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain pula.

3. Belajar berbagi kebahagiaan dengan orang lain
Rasanya sulit berbagi kebahagiaan dengan orang lain jika kita sendiri belum mendapatkan kebahagiaan tersebut; kita memang tidak mungkin berbagi sesuatu yang kita sendiri tidak miliki. Maka, mulailah dengan hal-hal sederhana yang sudah kita miliki. Contohnya, berbagi tertawa dengan orang lain, maka beban yang kita rasakan akan sedikit terangkat dan kita terdorong untuk lebih mudah mengesampingkan ingatan tentang kesalahan orang lain. Hasilnya, kita tidak memupuk sakit hati dan kebencian di dalam hati. Hal-hal praktis lain yang bisa dilakukan juga misalnya ialah berbagi waktu, berbagi informasi yang bermanfaat, berbagi kesenangan dalam bentuk hobi atau makanan, dan banyak lagi lainnya. Dengan berbagi, kita belajar menurunkan ego dan meningkatkan, bahkan melipatgandakan, kebahagiaan.

Responding Tips

”Hidup akan jauh lebih indah dan berarti jika kita mau belajar mengampuni dan memaafkan orang lain.”

”Mengampuni dan melupakan adalah sebuah keputusan, dilakukan atau tidak terserah pada pilihan kita”

(Power Character)
0

Karakter, Ragam

Kekhawatiran adalah jebakan sangat mematikan yang dapat dengan mudah disusupkan ke dalam diri setiap orang oleh iblis. Kristus mengatakan bahwa kekhawatiran akan menghambat kehidupan seseorang (Mat. 6:27-28).

Para dokter bahkan telah mengakui bahwa orang-orang yang sering dikuasai kekhawatiran akan cenderung mengalami masalah pada organ-organ perut atau pencernaannya. Namun, apa sebenarnya kekhawatiran itu?

Kita akan kesulitan mendefinisikan kekhawatiran dengan jelas dan spesifik, tetapi kita dapat melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekhawatiran. Orang-orang yang dikuasai kekhawatiran cenderung:

  1. Tidak dapat melangkah maju dan dikendalikan pengalaman masa lalu
  2. Tidak yakin dengan bakat dan potensi dirinya
  3. Sering merasa dikuasai kebimbangan
  4. Sulit benar-benar memercayai janji Tuhan
  5. Meski memiliki banyak bakat, tetap menjadi orang kebanyakan (average people)

Dalam seri artikel Menaklukkan Kekhawatiran ini, saya akan membongkar sumber kekuatan kekhawatiran sesuai dengan keunikan karakter setiap kelompok orang yang memengaruhi jenis/bentuk penyebab kekhawatirannya, serta menyajikan saran-saran praktis untuk menaklukkan kekhawatiran. Sama seperti sekelompok penjahat yang tinggal dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan, jika kita berhasil memutus aliran listrik dan air ke bangunan tersebut, para penjahat yang ada di dalam bangunan itu cepat atau lambat akan keluar dengan sendirinya. Demikian juga jika kita berhasil menguasai sumber kekuatan di dalam diri kita, kita akan lebih mudah menang atas kekhawatiran yang disusupkan iblis di dalam diri kita.

Kelompok 3: Bimbang dan ragu karena terlalu peduli dan takut menghadapi konflik relasi Pernahkah kita merasa dikuasai kebimbangan? Bingung menentukan pilihan karena pasangan kita menganjurkan kita memilih pilihan yang satu, sedangkan orang tua atau saudara kandung yang dekat dengan kita menganjurkan kita memilih yang lain, padahal sahabat-sahabat terbaik kita menganjurkan kita memilih yang lain lagi? Ragu karena merasa orang-orang di sekitar kita seolah-olah menarik-narik diri kita ke arah yang berlainan melalui pendapat dan harapan mereka masing-masing yang diungkapkan atau ditujukan kepada kita?
Banyak perusahaan hingga pada skala nasional maupun internasional menunjukkan bahwa kebimbangan dapat terjadi kepada siapa pun, tanpa memandang status sosial maupun tingkat jabatan yang dimilikinya. Kami terus-menerus menemukan bahwa kelompok orang yang memiliki karakter dengan kecenderungan tertentu rawan mengalami kekhawatiran yang menurut mereka dipicu dan diakibatkan oleh derasnya arus pendapat dan arahan dari luar. Namun, apa benar demikian?

Sebenarnya, sumber kekhawatiran bagi orang-orang dengan kecenderungan karakter yang mudah bimbang dan ragu ini bukanlah seberapa banyak/deras dan kontradiktifnya pendapat-pendapat yang mereka terima. Coba pikirkan sejenak. Situasi dengan beberapa kelompok orang secara hampir bersamaan memberikan pendapat yang berbeda-beda mengenai satu topik yang sama dapat menimpa siapa saja, tetapi sebagian orang tetap dapat mengambil keputusan dengan tenang tanpa perasaan terhambat apa pun. Sebaliknya, sebagian orang merasa terhimpit hampir setiap kali hal itu terjadi, tertarik-tarik di tengah-tengah berbagai kepentingan dan pendapat sehingga mengalami konflik secara internal di dalam dirinya dalam proses mengambil keputusan.

Kami menemukan bahwa sumber kekhawatiran sebenarnya bagi orang-orang dengan kecenderungan karakter seperti ini adalah karena mereka memiliki rasa empati atau kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Rasa empati dan kepedulian sendiri sebenarnya bukanlah hal yang buruk. Namun, kepedulian menjadi masalah ketika kadarnya berlebihan sehingga berubah menjadi ketakutan akan konflik. Ketika menghadapi beberapa pendapat yang saling berkontradiksi, orang-orang dengan kecenderungan karakter seperti ini menganggap bahwa menolak atau tidak sepakat dengan pendapat orang lain akan rawan menimbulkan konflik atau ketegangan di dalam relasi mereka. Kekhawatiran akan timbulnya konflik relasi antara dirinya dengan orang yang berbeda pendapat dengannya inilah yang menjadi sumber kekhawatiran. Alhasil, orang-orang seperti ini selalu merasa bimbang dan ragu serta menunda-nunda mengambil keputusan, karena takut keputusannya menimbulkan konflik yang melukai perasaan orang lain. Lalu, bagaimana mengatasinya?

Perbedaan tidak harus menimbulkan konflik relasi

Alkitab mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan unik; dan itu berarti setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain (1 Kor. 12). Dalam pelayanan pelatihan karakter, keunikan manusia terbukti bukan hanya terjadi secara fisik, melainkan juga terjadi dalam hal pola pikir, pola rasa, pola perilaku, pola tindakan, serta bahkan pola pengambilan keputusan. Apakah perbedaan ini bisa menghasilkan konflik? Tentu saja. Namun, apakah perbedaan ini pasti akan selalu berdampak buruk? Tidak! Amsal 27:17 mengatakan bahwa manusia hanya dapat “ditajamkan” melalui sesamanya. Bagaimana manusia dapat “menajamkan” sesamanya? Melalui perbedaan yang dikelola dengan baik. Kelola perbedaan dengan baik dan saling perlengkapi dengan kekuatan masing-masing, agar kita justru saling menajamkan, bukan terjebak dalam kemandekan karena bimbang dalam mengambil keputusan akibat takut berkonflik.

Perlakukan pendapat lain hanya sebagai data pembanding

Pahami bahwa dalam hidup kita, kita sendirilah yang harus mengambil keputusan, bukan orang lain. Lagipula, Tuhan yang adalah sumber segala hikmat itu hidup dan tinggal di dalam diri kita. Gunakan hikmat Tuhan dan perlakukan pendapat orang lain hanya sebagai data tambahan/pertimbangan yang kita gunakan untuk mengambil keputusan yang terbaik. Karena kita menggunakan pendapat orang lain sebagai data pembanding saja, tentu sangat logis jika kita mengambil keputusan yang agak condong dengan salah satu pihak atau bahkan menciptakan pendapat atau jalan keluar baru. Tidak perlu membiarkan diri kita terhanyut sehingga mengikuti pendapat orang lain, siapa pun itu.

Hadapi konflik yang timbul dengan bijaksana

Pisahkan antara pendapat, perbuatan, dan pribadi seseorang. Orang yang kurang bijak cenderung menyamakan pendapat, perbuatan, dan pribadi seseorang. Dengan demikian, ketika tidak setuju dengan pendapat orang tersebut, ia akan cenderung melihat perbuatan-perbuatannya yang lain sebagai hal yang negatif dan berkata, “Aku tidak suka kepada orang itu.” Pola seperti ini akan membuat kita makin sulit melawan kekhawatiran yang timbul dari rasa takut akan konflik relasi, karena kita menjadi takut dinilai dengan cara demikian pula oleh orang lain.

Belajarlah untuk sekadar tidak menyetujui pendapat seseorang atau tidak menyetujui perbuatan seseorang, tanpa selalu atau serta-merta membenci pribadinya. Dengan demikian kita akan dapat lebih mudah mengambil keputusan kita sendiri; dengan menjadikan pendapat-pendapat orang lain sebagai data pembanding, dan tidak dikekang kekhawatiran atas konflik relasi yang mungkin terjadi di masa depan.

Peneguhan Tuhan

“(Orang benar) tidak takut menerima kabar buruk, hatinya teguh karena percaya kepada Tuhan. Ia tidak cemas atau takut, karena yakin musuhnya akan dikalahkan.”

(Mazmur 112: 6 – 8, versi BIS)

0

Karakter, Ragam

Kekhawatiran adalah jebakan sangat mematikan yang dapat dengan mudah disusupkan ke dalam diri setiap orang oleh iblis. Kristus mengatakan bahwa kekhawatiran akan menghambat kehidupan seseorang (Mat. 6:27-28).

Para dokter bahkan telah mengakui bahwa orang-orang yang sering dikuasai kekhawatiran akan cenderung mengalami masalah pada organ-organ perut atau pencernaannya. Namun, apa sebenarnya kekhawatiran itu?

Kita akan kesulitan mendefinisikan kekhawatiran dengan jelas dan spesifik, tetapi kita dapat melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekhawatiran. Orang-orang yang dikuasai kekhawatiran cenderung:

  1. Tidak dapat melangkah maju dan dikendalikan pengalaman masa lalu
  2. Tidak yakin dengan bakat dan potensi dirinya
  3. Sering merasa dikuasai kebimbangan
  4. Sulit benar-benar memercayai janji Tuhan
  5. Meski memiliki banyak bakat, tetap menjadi orang kebanyakan (average people)

Dalam seri artikel Menaklukkan Kekhawatiran ini, saya akan membongkar sumber kekuatan kekhawatiran sesuai dengan keunikan karakter setiap kelompok orang yang memengaruhi jenis/bentuk penyebab kekhawatirannya, serta menyajikan saran-saran praktis untuk menaklukkan kekhawatiran. Sama seperti sekelompok penjahat yang tinggal dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan, jika kita berhasil memutus aliran listrik dan air ke bangunan tersebut, para penjahat yang ada di dalam bangunan itu cepat atau lambat akan keluar dengan sendirinya. Demikian juga jika kita berhasil menguasai sumber kekuatan di dalam diri kita, kita akan lebih mudah menang atas kekhawatiran yang disusupkan iblis di dalam diri kita.

Kelompok 4: Terlalu gemar akan keteraturan dan keharmonisan
Berdasarkan temuan saya, setiap pola karakter cenderung memiliki sumber atau pemicu kekhawatiran alaminya masing-masing. Meski demikian, kita perlu tetap mewaspadai sumber-sumber kekhawatiran ini, lepas dari apa pun pola karakter kita.

Secara alami, ada kelompok orang yang cenderung memiliki pikiran yang tenang dan stabil. Orang-orang ini jauh lebih menyukai keteraturan dan keharmonisan daripada hal-hal yang bersifat dinamis, cepat berubah, dan tiba-tiba. Mereka biasanya lebih teliti dan hati-hati terhadap barang, situasi, maupun perasaan orang lain. Mereka gemar berpikir dengan sistematis dan terperinci (yang terkesan rumit dalam pendapat orang lain) di dalam diri mereka sendiri, dan mereka berusaha sedapat mungkin mengatur segala perilaku serta perkataan mereka agar tidak berisiko menyinggung perasaan orang lain, demi keteraturan dan keharmonisan itu tidak hilang.

Sumber kekhawatiran kelompok orang jenis ini adalah cara pandang yang salah terhadap risiko. Orang-orang yang memiliki pola karakter ini memandang risiko hanya sebagai hal buruk yang harus dihindari. Sebenarnya mereka tahu bahwa sering kali dan dalam berbagai konteks, ada hal-hal baik yang hanya dapat kita raih ketika kita berani mengambil risiko dan berusaha menaklukkan tantangan yang menjadi penghalang. Di dalam pemikiran mereka, mungkin sekian banyak rencana telah dipersiapkan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah, tetapi saat tiba saatnya untuk mengeksekusi rencana tersebut dan berhadapan langsung dengan risiko masalah atau tantangan itu, kekhawatiran biasanya mengambil alih kendali hidup mereka.

Orang-orang dengan pola karakter ini memiliki banyak rencana yang tampak sistematis untuk meraih sebuah peluang di masa depan. Bahkan sering kali, rencana ini jika dipaparkan kepada orang lain akan tampak rapi, jelas, dan hebat; sehingga potensi keberhasilannya tinggi. Sayangnya, sebagian besar dari rencana itu tidak tereksekusi dengan baik atau bahkan gagal di tengah jalan karena mereka hampir selalu membiarkan kekhawatiran mengambil alih kendali kehidupan mereka. Mereka mungkin sekali terbiasa berkali-kali mengambil komitmen untuk menjadi orang yang lebih berinisiatif dan berani mengembangkan hidup mereka, tetapi ketika berhadapan dengan risiko yang tampaknya sulit, kekhawatiran lagi-lagi mengambil alih kendali hidup mereka. Bagaimana cara menaklukkan kekhawatiran semacam ini?

Melihat risiko secara seimbang
Jika kita merasa memiliki pola karakter yang dibahas kali ini, sangat disarankan agar kita melatih diri menggunakan cara pandang yang lebih seimbang terhadap risiko. Risiko adalah seperti mobil mogok yang sedang berada di ujung atas sebuah jalan yang menurun. Untuk mencapai titik tujuan, kita harus melewati jalan yang menurun itu. Kita dapat menggunakan jalan menurun itu sebagai pendorong/penggerak yang memudahkan untuk menyalakan kembali mesin mobil itu, atau sebagai jalan liar yang membawa mobil kita pada kecepatan tanpa kendali hingga menabrak pohon besar atau terlempar ke jurang. Faktor yang membedakan hasil akhir ini adalah cara pandang kita sebagai pengemudi mobil. Pilihlah melihat kesempatan dan peluang yang baik, sambil memiliki kesiapan dan tekad yang matang, bukan diam saja karena khawatir terjadi kecelakaan akibat terlalu berfokus pada bahaya yang mengerikan.

Menjaga komitmen dengan disiplin diri
Dengan melakukan persiapan yang dilengkapi tekad yang matang untuk memanfaatkan jalan turun tadi sebagai penggerak yang positif, maka kita akan mengubah risiko menjadi sebuah kesempatan atau katalisator kemajuan. Lalu apa selanjutnya? Disiplin diri untuk tetap melakukan segala persiapan yang telah direncanakan dengan baik, diiringi dengan tekad kuat untuk menjaga komitmen, akan membawa kita menaklukkan risiko. Hadapi risiko sambil tetap menjaga komitmen dengan disiplin diri, jangan biarkan rencana kita yang hebat itu mogok karena rasa khawatir, maka kita akan menikmati peluang yang berhasil diraih sekaligus menemukan bahwa kita bertumbuh menjadi semakin mampu mengendalikan kekhawatiran.

0

Karakter, Ragam

Pernahkah kita merenungkan apa yang menjadi nilai terunggul Yusuf (tokoh utama dalam Kejadian pasal 37-50)?

Ia merupakan seseorang yang dianggap oleh saudara-saudaranya sebagai seorang laki-laki manja dan tidak berguna. Ia dijual sebagai seorang pekerja kasar ke luar negeri ketika masih remaja. Ia mendekam di penjara selama beberapa tahun di negeri itu karena tidak mengikuti konspirasi dari salah satu atasan kerjanya. Namun, pada akhirnya ia menjadi orang kedua yang paling berkuasa di negeri itu.

Bagi saya nilai terunggul yang dimiliki Yusuf adalah kemampuannya untuk memiliki, mempertahankan, dan menunjukkan keyakinannya. Dalam bahasa Inggris, hal ini disebut conviction. Ada perbedaan yang mencolok antara opini (opinion) dengan keyakinan (conviction). Anda dapat memperdebatkan sebuah opini, akan tetapi Anda tidak dapat memperdebatkan sebuah keyakinan. Anda dapat mengubah opini orang lain. Akan tetapi sulit sekali mengubah keyakinan orang lain. Opini dalam banyak hal bersifat temporer dan situasional, sedangkan keyakinan cenderung bersifat permanen. Keyakinan membuat seseorang rela mengorbankan segala-galanya demi mempertahankan atau mencapai apa yang diyakininya. Akan tetapi, jarang sekali, atau bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang rela melepaskan nyawanya demi sebuah opini. Keyakinan berfungsi sebagai kompas dalam membuat keputusan-keputusan dalam hidup sedangkan opini hanya berfungsi sebagai tambahan informasi dalam hal ini. Orang yang mempunyai keyakinan teguh akan cenderung sukses dalam meraih apa yang diyakininya. Sedangkan orang yang hanya mempunyai opini akan cenderung berputar-putar di tempat.

Orang yang mempunyai keyakinan yang benar, mampu mengoptimalkan hidupnya walaupun menghadapi rintangan sebesar dan sebanyak apapun sedangkan orang yang hanya mempunyai opini hanya sekadar ada atau exist. Mari kita kembali kepada Yusuf. Di dalam kenaifan masa mudanya ketika ia menceritakan mimpi-mimpinya kepada orang tua dan saudara-saudaranya, ia membuat mimpi itu menjadi sebuah keyakinan yang kuat.

Saya membayangkan sejak Yusuf mendapatkan mimpi-mimpi itu, ia mengatakan pada dirinya sendiri: “Suatu saat aku akan menjadi seorang raja!” Saya yakin ia tidak mengatakan: “Suatu saat aku akan menjadi raja yang dapat berlaku sewenang-wenang atas ayah, ibu, dan saudara-saudaraku yang lain.” Itulah sebabnya ketika ia telah menjadi orang kedua yang paling berkuasa di Mesir dan bertemu sekali lagi dengan saudara-saudaranya yang telah menjualnya sebagai pekerja kasar, ia tidak dikuasai kemarahan atau keinginan untuk membalas dendam. Saya yakin hal ini jugalah yang membuatnya dapat bertahan melawan rayuan istri Potifar. Yusuf yakin bahwa ia adalah bangsa pilihan Allah. Ia yakin bahwa standar hidup yang diatur oleh Allah adalah yang terbaik. Ia yakin bahwa Allah akan selalu memelihara hidupnya jika ia hidup taat pada-Nya. Itu sebabnya ia mampu menolak dengan tegas, hal- hal yang bertentangan dengan keyakinannya.

Lalu, bagaimana caranya membentuk keyakinan yang benar? Tanamkan dalam pikiran dan hati kita bahwa tuhan lebih tahu apa yang terbaik.

Salah satu sumber kebimbangan dan keraguan yang membuat keyakinan kita pada Tuhan menjadi hanya sekadar opini adalah bisikan iblis yang mengatakan bahwa kita lebih tahu apa yang terbaik daripada Tuhan. Ketika pekerjaan dan masa depan orang-orang yang kita kasihi menjadi taruhannya, iblis akan cenderung menggoda kita berpikir bahwa Tuhan tidak mengerti hal-hal yang sedetail dan serumit ini. Jangan dengarkan tipuan iblis itu! Tanamkan keyakinan bahwa Tuhan Yesus mengasihi dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita, setiap saat semakin jauh ke dalam hati dan pikiran kita.

Selain itu, belajarlah menjadi gigih. Memegang teguh keyakinan menuntut kita untuk tetap berfokus dan gigih dalam memperjuangkan atau berusaha meraih target kita. Latihlah kegigihan kita dengan membiasakan diri untuk memiliki target-target bulanan, tiga bulanan, enam bulanan, atau tahunan. Biasakan diri untuk tidak mencari alasan untuk membenarkan kegagalan kita mencapai target tersebut. Kejar dan kerjakan target-target yang telah kita susun bersama dengan Tuhan, maka kegigihan kita akan bertumbuh dan lama-kelamaan kita akan semakin kuat dalam prinsip-prinsip keyakinan yang benar.

Ketika kedua cara ini kita lakukan, pada akhirnya kita akan menuai hasilnya. Seperti Yusuf.

0

Karakter, Ragam

Percabulan adalah hal yang sangat serius. Percabulan bukan hanya akan menghancurkan pernikahan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa kecanduan pornografi memiliki efek yang lebih menjerat daripada kecanduan obat-obatan. Percabulan lebih dari merusak kualitas kehidupan seorang individu, dan bahkan dapat menghancurkan kehidupan sebuah bangsa (Yud. 1:7).

Alkitab memperingatkan bahwa berbeda dengan memerangi dosa-dosa yang lain, memerangi percabulan harus dilakukan dari dalam diri sendiri (1 Kor. 6:18). Karena itu, dalam seri artikel Menaklukkan Percabulan selama beberapa edisi ini, kita akan membahas bagaimana Anda dapat menang atau dapat menolong orang lain menang melawan jebakan-jebakan percabulan yang disusupkan iblis melalui keunikan karakter kita masing-masing.

Kelompok karakter 4: Peragu yang Suka Menunda
Apakah kita sering menghadapi pilihan-pilihan yang terasa dilematis? Apakah kita cenderung ragu-ragu dalam mengambil keputusan? Apakah kita cenderung “membiarkan waktu yang mengambil keputusan” bagi kita? Jika kita merasa sedang atau sering mengalami situasi-situasi seperti di atas, artikel kali ini akan sangat menolong kita dalam mengantisipasi jebakan percabulan yang dipasang oleh iblis.

Sumber percabulan: Menunda-nunda
Salah satu fungsi otak kita yang telah dirancang oleh Tuhan adalah sebagai “radar bahaya.” Umumnya, ketika otak mendeteksi sinyal bahaya yang ia tangkap dari salah satu dari pancaindra kita, ia akan mendorong munculnya emosi-emosi yang penuh kewaspadaan. Dalam situasi seperti itu, secara naluriah kita akan merasa, “Awas, bahaya! Jangan teruskan!” Saya sendiri menafsirkannya bahwa sering kali Roh Kudus juga bekerja melalui mekanisme ini untuk memperingatkan kita akan jebakan-jebakan iblis yang sedang terbuka lebar di hadapan kita.

Di momen-momen semacam ini, naluri dan emosi kita telah memberikan sinyal bahaya. Selanjutnya, otak logis kita akan mulai mencari-cari data untuk mendukung maupun membatalkan/menggagalkan sinyal bahaya dari naluri dan emosi kita tadi. Di sinilah kehendak bebas kita memiliki peran yang sangat vital. Otak logis kita akan selalu berusaha menyediakan data-data untuk mendukung maupun membatalkan/menggagalkan sinyal bahaya tadi; tetapi kitalah yang menentukan, data mana yang akan kita ambil, apakah kita akan lebih memercayai data-data yang mendukung atau membatalkan/menggagalkan tanda bahaya tadi.

Dalam berbagai kasus, sinyal bahaya tadi memang dapat menjadi sinyal yang tidak tepat karena dikaburkan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu yang bersifat traumatis, mitos, stereotipe, dan sebagainya. Namun dalam hal yang berhubungan dengan percabulan, sinyal-sinyal tanda bahaya itu cenderung akurat. Mengapa? Karena Tuhan telah menaruh radar yang sangat sensitif terhadap tanda-tanda percabulan di dalam roh kita. Itulah sebabnya, Kristus mengatakan: “Barang siapa memandang seorang (seseorang) dengan nafsu berahi, orang itu sudah berzina dengan (orang) itu di dalam hatinya,” (Mat. 5:28, BIS). Apakah hukum ini hanya berlaku sejak Kristus datang ke dunia? Tidak! Rasul Paulus pun mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mengenal Kristus telah memiliki hati nurani yang akan menjadi hakim bagi isi hati, pikiran, dan perilaku mereka (Roma 2:14-15).

Pada intinya, baik apakah orang itu mengenal Kristus atau tidak, pernah membaca Alkitab atau tidak, mereka akan selalu memiliki hati nurani yang akan memberikan sinyal tanda bahaya ketika sedang menuju ke jebakan percabulan. Saat sinyal bahaya dari hati nurani ini berbunyi, jika kita menunda-nunda untuk memperhatikan dan mengindahkannya, hati nurani kita akan makin mengeras dan tidak lagi peka merasakan tanda bahaya itu. Menunda-nunda untuk lari menjauh dari jebakan itu, dengan berbagai macam alasan apa pun yang terdengar logis, justru akan semakin menyulitkan kita untuk keluar dari jebakan itu.

Kunci kemenangan 1: Perhatikan sinyal tanda bahaya itu
Sinyal tanda bahaya ini biasanya mulai menyala ketika seseorang mulai “berzina secara emosi”. Ketika kita mulai merasa menikmati lebih diperhatikan oleh orang lain (terutama lawan jenis) yang bukan suami atau istri yang sah, itulah tanda-tanda bahwa kita mulai berzina secara emosi. Ketika kita mulai mencari-cari cara agar lebih sering berinteraksi dengan orang itu dan lebih jarang berinteraksi dengan suami atau istri yang sah, intulah tanda-tanda bahwa kita mulai berzina secara emosi.

Dalam situasi-situasi seperti itu, perhatikan sinyal tanda bahaya dari hati nurani kita. Iblis akan berusaha merasionalisasi dorongan zina itu dengan berbagai dalih yang terkesan fakta, “Sebenarnya suamimu (atau istrimu) memang tidak sepengertian dia. Bagaimanapun, dia lebih jelas tampak lebih mengasihi dan lebih memahamimu dibandingkan suamimu (atau istrimu). ‘Toh kamu tidak melakukan apa-apa secara fisik…” Mendengarkan dan meladeni pernyataan-pernyataan ini hanya akan mengaburkan sinyal bahaya di hati kita, sehingga kita mulai meyakini bahwa hal zina emosi itu adalah hal yang wajar.

Kunci kemenangan 2: Segera lari kepada Tuhan
“Lagi pula saya kan tidak berzina secara fisik,” kalimat pembelaan ini biasanya muncul di hati orang-orang yang sudah terjebak di dalam zina secara emosi. Mungkin secara “teknis” orang itu memang belum berzina. Ia tidak memandang perempuan (atau laki-laki) lain itu dengan nafsu berahi, tetapi mari saya gambarkan ke mana jalan yang orang itu akan tempuh.
Orang-orang yang berzina secara emosi akan mulai (atau bahkan sudah) membandingkan laki-laki atau perempuan itu dengan suami atau istrinya. Kemudian, hatinya akan lebih condong kepada laki-laki atau perempuan lain itu. Tahap berikutnya, ia akan berusaha makin mendekatkan diri kepada laki-laki atau perempuan lain itu, baik secara emosi maupun fisik; dan pada saat yang sama mulai makin sengaja menjauhkan diri dari istri atau suami sahnya, baik secara emosi maupun fisik. Akibatnya, hubungan pernikahan mereka menjadi semakin renggang, dipenuhi dengan konflik-konflik tajam yang dimulai dari hal-hal yang sepele, dan pada akhirnya membuat persepsi dan rasa percaya di antara suami dan istri itu pun semakin rusak. Di saat yang sama, perempuan atau laki-laki lain itu akan terkesan semakin baik dan semakin sempurna, semakin cocok dan tepat bagi si pelaku zina. Pada titik ini, hanya tinggal selangkah lagi untuk menuju ke zina yang sesungguhnya, entah secara fisik maupun seperti yang digambarkan Kristus di Matius 5:28.

Sebelum kita terjebak lebih jauh dalam jalan ini, SEGERALAH LARI! Jangan pernah merasa kuat! Zina adalah dosa yang sangat halus tetapi sangat kuat. Ia akan merusak dan menghancurkan kehidupan kita dan keluarga kita! Itu bukan kemungkinan. Itu adalah kepastian! Karena itu, segeralah lari meninggalkan segala interaksi dengan perempuan atau laki-laki lain itu dan berlarilah mendekati Tuhan. Jauh lebih baik hubungan kita dengan perempuan atau laki-laki lain itu menjadi rusak daripada pernikahan kita dengan suami atau istri yang sah menjadi hancur. Seberapa pun tidak harmonisnya kondisi pernikahan yang kita alami sekarang, zina bukanlah jalan keluarnya. Jangan menyerah untuk memperbaiki pernikahan kita. Carilah anak-anak Tuhan yang dapat membantu kita. Percayalah bahwa sungguh-sungguh tidak ada yang mustahil bagi Tuhan; dan Tuhan akan tetap menyertai dan menguatkan kita sampai akhir hidup kita.

Peneguhan Tuhan:
“Hendaklah kalian menjadi kuat dengan kekuatan yang kalian dapat dari kuasa Tuhan, karena kalian bersatu dengan Dia. Pakailah perlengkapan perang yang diberikan Allah kepadamu, supaya kalian dapat bertahan melawan siasat-siasat yang licik dari Iblis.” Efesus 6:10–11, BIMK

0

Karakter, Ragam

Percabulan adalah hal yang sangat serius. Percabulan bukan hanya akan menghancurkan pernikahan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa kecanduan pornografi memiliki efek yang lebih menjerat daripada kecanduan obat-obatan. Percabulan lebih dari merusak kualitas kehidupan seorang individu, dan bahkan dapat menghancurkan kehidupan sebuah bangsa (Yud. 1:7).

Alkitab memperingatkan bahwa berbeda dengan memerangi dosa-dosa yang lain, memerangi percabulan harus dilakukan dari dalam diri sendiri (1 Kor. 6:18). Karena itu, dalam seri artikel Menaklukkan Percabulan selama beberapa edisi ini, kita akan membahas bagaimana Anda dapat menang atau dapat menolong orang lain menang melawan jebakan-jebakan percabulan yang disusupkan iblis melalui keunikan karakter kita masing-masing.

Kelompok karakter 3: Pendiam yang memendam pendapat demi menjaga perasaan orang dan menghindari konflik Apakah kita sering merasa takut menyakiti perasaan orang lain? Apakah kita cenderung memilih untuk diam dalam menghadapi situasi-situasi yang dilematik? Apakah kita cenderung mengatur dengan sangat hati-hati perkataan kita, terutama dalam menghadapi situasi-situasi yang berpotensi menimbulkan konflik? Apakah kita cenderung berusaha mempertahankan keharmonisan relasi dengan orang-orang di sekitar kita dengan segala cara? Jika kita merasa memiliki kecenderungan seperti ini, saya yakin artikel kali ini akan dapat membukakan kita terhadap jebakan-jebakan percabulan yang dapat dipakai iblis untuk menyerang kita.

Sumber percabulan: Keengganan mengungkapkan ketidaksetujuan
Tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh menyukai konflik. Namun, kadang-kadang Tuhan mengizinkan kita menghadapi orang-orang yang memiliki perilaku atau niat yang tidak benar. Walaupun kita termasuk orang yang memiliki intuisi yang cukup tajam terhadap niat tidak baik seseorang, menegur atau mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap orang-orang yang telah kita izinkan cukup dekat kepada kita memang tidak pernah mudah.

Melalui pengalaman profesional saya sebagai seorang konselor, saya mendapati banyak orang yang seharusnya memiliki karakter yang setia ternyata dapat terjatuh ke dalam jebakan percabulan; bukan ketika mereka diperhadapkan pada godaan-godaan yang sangat frontal dan fantastis seperti melihat majalah atau film porno bersama-sama atau menyewa jasa pekerja seksual, dan sebagainya, tetapi justru dari orang-orang atau situasi yang sudah sangat akrab dengan mereka seperti teman sepelayanan, rekan kerja, saat-saat tenang dan sendirian di kamar pribadi, komputer atau gawai yang selama ini selalu dipakai untuk bekerja, dst. Jebakan-jebakan ini biasanya dimulai dengan orang tersebut digoda dengan “godaan-godaan kecil”, seperti: candaan-candaan kecil yang “sedikit tidak senonoh” tetapi terdengar lucu; sentuhan secara fisik yang “tidak berarti apa-apa” seperti menyentuh pundak, dan lain-lain; gambar-gambar atau video-video singkat yang “sedikit jorok” tetapi konyol, dan seterusnya.

Orang-orang dengan kelompok karakter seperti ini, secara alamiah tidak akan pernah melakukan hal-hal tadi dengan orang-orang yang ia anggap tidak dekat atau ketika sedang menggunakan gawai orang lain atau sedang berada di tempat yang bukan miliknya sendiri atau cukup asing baginya. Jebakan-jebakan halus ini justru mulai menyusup masuk ketika ia sedang berada di dalam “zona nyamannya”.

Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah godaan-godaan kecil tersebut. Bagaimanapun, sering kali bukan kitalah yang memulai atau menciptakan godaan-godaan kecil itu. Sayangnya, orang-orang dengan kelompok karakter ini cenderung enggan menetapkan batas kebenaran dan mengekspresikan ketidaksetujuan untuk terus melakukan “hal-hal kecil yang menggoda itu”. Orang-orang dengan kelompok karakter seperti ini cenderung “memelihara godaan-godaan kecil” itu dengan alasan-alasan yang terdengar rasional seperti, “Dia kan hanya rekan kerja/pelayananku. Masa aku tidak boleh bertemu dengan dia lagi, walaupun ia tidak berbuat kesalahan yang melanggar etika atau moral?” atau “Sungguh! Tidak ada apa-apa dan tidak akan ada apa-apa di antara kami!” atau “Video dan gambar itu muncul tiba-tiba. Aku hanya melihatnya sedikit. Lagi pula itu belum masuk dalam kategori pornografi kok.”

Keengganan untuk bertindak tegas terhadap diri sendiri dan mengekspresikan batas-batas kebenaran terhadap pihak lain yang terkait inilah yang membuat “godaan-godaan kecil” itu pada akhirnya (dan terasa tiba-tiba) sudah sedemikian kuat mengikat kebiasaan hati dan pikiran kita. Alhasil, kejatuhan di dalam dosa percabulan yang jeratnya semakin lama semakin mengikat menjadi sesuatu yang pasti.

Kunci kemenangan: Mencintai Tuhan lebih dari segalanya
Menghadapi jebakan yang satu ini, tidak ada cara “lembut”. Segala usaha untuk berargumentasi biasanya cenderung berujung pada usaha-usaha untuk membenarkan diri yang sudah terlanjur terikat dengan dosa itu. Cara yang paling efektif, menurut saran saya, adalah dengan berkomitmen mencintai Tuhan lebih dari segala hal yang lain. Putuskan untuk lebih baik kehilangan relasi, disalahpahami oleh orang lain, dan seterusnya, daripada menyakiti Tuhan dengan melakukan dosa percabulan.

Jangan lagi berdalih! Segeralah putuskan dan lakukan keputusan Anda! Apakah kita akan hidup hanya untuk Tuhan atau mencampurnya dengan hal-hal lain yang juga menyakiti hati Tuhan? Saya sungguh berharap dan berdoa agar Anda memutuskan untuk meninggalkan dosa dan godaan-godaan itu, sekarang juga!

Peneguhan Tuhan.
“Yesus menjawab, ‘Orang yang mengasihi Aku, akan menuruti ajaran-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia. Bapa dan Aku akan datang kepadanya dan tinggal bersama dia.’” (Yohanes 14:23 BIMK)

0

Karakter, Ragam


Kekhawatiran adalah jebakan sangat mematikan yang dapat dengan mudah disusupkan ke dalam diri setiap orang oleh iblis. Kristus mengatakan bahwa kekhawatiran akan menghambat kehidupan seseorang (Mat . 6:27-28).

Para dokter bahkan telah mengakui bahwa orang-orang yang sering dikuasai kekhawatiran akan cenderung mengalami masalah pada organ-organ perut atau pencernaannya. Namun, apa sebenarnya kekhawatiran itu?

Kita akan kesulitan mendefinisikan kekhawatiran dengan jelas dan spesifik, tetapi kita dapat melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekhawatiran. Orang-orang yang dikuasai kekhawatiran cenderung:

  1. Tidak dapat melangkah maju dan dikendalikan pengalaman masa lalu
  2. Tidak yakin dengan bakat dan potensi dirinya
  3. Sering merasa dikuasai kebimbangan
  4. Sulit benar-benar memercayai janji Tuhan
  5. Meski memiliki banyak bakat, tetap menjadi orang kebanyakan (average people)

Dalam seri artikel Menaklukkan Kekhawatiran ini, saya akan membongkar sumber kekuatan kekhawatiran sesuai dengan keunikan karakter setiap kelompok orang yang memengaruhi jenis/bentuk penyebab kekhawatirannya, serta menyajikan saran-saran praktis untuk menaklukkan kekhawatiran. Sama seperti sekelompok penjahat yang tinggal dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan, jika kita berhasil memutus aliran listrik dan air ke bangunan tersebut, para penjahat yang ada di dalam bangunan itu cepat atau lambat akan keluar dengan sendirinya. Demikian juga jika kita berhasil menguasai sumber kekuatan di dalam diri kita, kita akan lebih mudah menang atas kekhawatiran yang disusupkan iblis di dalam diri kita.


Kelompok 2: Cerdas dan teliti dalam menganalisis

Kami mendapati bahwa kekhawatiran tampaknya memiliki hubungan yang erat dengan tingkat iman atau kepercayaan seseorang kepada Tuhan dan/atau orang lain. Shannon L. Alder, seorang business woman dan anak dari ahli bela diri Bruce Lee, pernah berkata, “Ketakutan atau kekhawatiran adalah lem yang membuatmu terus terhambat atau berhenti. Iman adalah cairan pelarut yang akan membebaskanmu (dari hambatan lem itu).” Menurut temuan kami, sebagian orang cenderung sulit beriman kepada Tuhan atau memercayai rencana Tuhan karena kadang mereka berpikir, “Sepertinya Tuhan bekerja terlalu lambat. Aku belum melihat bukti dari apa yang dijanjikan,”; “Tuhan tidak pernah hadir di sini. Akulah yang menghadapi secara nyata kesulitan ini. Menurutku Tuhan tidak benar-benar mengerti apa yang harus dilakukan,”; “Pengalamanku membuktikan bahwa jika hal ini terus-menerus terjadi pasti akan terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan atau membahayakan diriku. Aku tidak bisa mengabaikan begitu saja pelajaran dari pengalamanku. Aku rasa Tuhan pun tidak akan melakukan hal yang berlainan dari pengalamanku selama ini.”


Orang-orang dengan karakter seperti ini cenderung memiliki kecerdasan dan ketelitian yang di atas rata-rata dalam hal kemampuan analisis, berpikir konseptual, perhitungan ketika mengambil risiko, serta kecekatan dan ketajaman berpikir kritis. Kemampuan kognitif mereka yang tinggi ini kadang membuat mereka lebih memercayai daya analisis dan logika berpikir tentang pengalaman mereka sendiri daripada memercayai Tuhan.


Alkitab memberikan contoh yang sangat baik mengenai hal ini di dalam kisah Musa. Ketika Tuhan memanggil Musa di Midian untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa menolak panggilan itu. Jika disimpulkan, sebenarnya dasar dari argumentasi penolakan Musa kira-kira artinya, “Aku telah mencoba melakukannya, Tuhan; dan pengalamanku membuktikan bahwa hal itu mustahil dilakukan. Lagi pula aku telah menganalisis kesulitan yang ada di dalam proyek ini dan tingkat kemampuanku sendiri; dan aku katakan sekali lagi, bahwa hal ini mustahil dilakukan. Setidaknya olehku. Utuslah orang lain saja yang lebih mampu dariku!”


Sumber kekhawatiran kelompok orang yang seperti Musa ini tidak terletak pada besarnya masalah yang sedang mereka hadapi. Sumber kekhawatiran yang sebenarnya adalah ketika mereka mendapati bahwa kemampuan berpikir dan pengalaman mereka “memaksa” mereka menyimpulkan bahwa “tidak ada jalan keluar”. Kecenderungan orang-orang ini untuk berpikir bahwa mereka telah mengetahui atau memahami segala kemungkinan yang ada membuat mereka cenderung dikuasai kekhawatiran ketika pikiran dan pengalaman mereka itu mengatakan, “Tidak ada jalan keluar bagimu”.


Belajarlah untuk jangan pernah menutup jendela pembelajaran

Jika kita memperhatikan kisah Musa tadi dengan baik, sungguh menarik apa yang dilakukan Tuhan. Setelah berdebat dengan Musa (Kej. 3), Tuhan memutuskan untuk berhenti berdebat dan memberikan beberapa bukti yang dapat dilihat (Kej. 4:1-9). Mengapa Tuhan melakukan hal ini? Karena Tuhan ingin memasukkan informasi baru yang positif ke dalam diri (pikiran dan kepercayaan) Musa.

Salah satu hal yang dapat membuat Anda terperangkap dalam kekhawatiran adalah jika Anda terus-menerus memasukkan informasi negatif yang sama ke dalam diri Anda. Selama 40 tahun di Midian, Musa terus menerus belajar bahwa dirinya adalah seorang yang tidak berguna, penakut, tidak kompeten, dan sebagainya. Selama 40 tahun, Musa terus belajar bahwa tampaknya Tuhan pun tidak akan dapat mengubah keterbatasan atau kelemahannya. Ia akan selamanya menjadi seorang yang gagal. Itulah sebabnya Tuhan berhenti berdebat dan mulai menunjukkan bukti. Tuhan ingin menunjukkan bahwa Ia memiliki kuasa yang besar dan Ia dapat menggunakan Musa untuk melakukan hal-hal yang besar. Ketika Anda merasa dihadang oleh kemustahilan yang mendatangkan kekhawatiran, jangan pernah menutup jendela pembelajaran. Jangan hanya memasukkan informasi atau berkutat dengan informasi yang hanya memusatkan perhatian Anda pada kemustahilan itu. Sebaliknya, lebih banyak masukkan informasi positif yang dapat membuat Anda menemukan solusi-solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.


Belajarlah memiliki team work yang sinergis

Langkah berikutnya yang Tuhan lakukan kepada Musa adalah memberikan tim kerja (Kej. 4:14-16) dan peralatan kerja (ay. 17). Hal ini menggaungkan kembali apa yang telah Tuhan katakan di kisah penciptaan bahwa tidak baik manusia hidup (termasuk bekerja) seorang diri saja. Tuhan mengetahui keterbatasan dan kekhawatiran setiap orang. Itulah sebabnya Ia menciptakan konsep kerja sama atau kesatuan tubuh yang bekerja bersama-sama untuk mencapai sebuah tujuan. Orang-orang dengan kecenderungan karakter yang sangat cerdas dan teliti dalam menganalisis cenderung hanya mau berelasi dengan orang-orang yang memiliki tingkat kemampuan setara dengan mereka. Sering kali, mereka bahkan cenderung enggan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki cara kerja yang berbeda, karakter yang berbeda, dsb. Hal ini cenderung membuat mereka berpikir dengan cara yang sama pula. Karena itu, ketika salah seorang di antara mereka menemukan kemustahilan, tidak ada orang lain yang dapat melihat dengan sudut pandang yang lain.


Dengan menciptakan kerja sama sinergis dengan orang yang berbeda-beda, Anda akan mendapatkan lebih banyak informasi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dengan memiliki tim kerja yang sinergis, ketika yang seorang merasa lemah, Anda masih memiliki orang lain yang dapat menghibur dan menolong. Pada akhirnya, perbedaan-perbedaan yang ada di dalam tim kerja yang sinergis itulah yang akan membantu Anda menyadari bahwa kekhawatiran pribadi Anda akan dapat diatasi jika Anda mengandalkan Tuhan dan mencari solusinya, bukan mengandalkan kemampuan berpikir dan pengalaman pribadi Anda saja.


Peneguhan Tuhan

“Tidak baik manusia hidup seorang diri saja. Aku harus membuat rekan kerja yang cocok baginya.” (Kej. 2:18, terjemahan bebas dari Alkitab versi Contemporary English Version)

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 4NO NEW POSTS
Skip to toolbar