POSTS
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
Marketplace, Ragam

Tim kerja yang mampu memahami visi dan misi perusahaan akan bekerja secara solid untuk mencapai target dan menghasilkan dampak. Namun, bagaimana agar perusahaan kita bisa memiliki tim kerja yang seperti ini? Kuncinya terletak pada kemampuan pemimpin di perusahaan untuk mendefiniskan dan mengkomunikasikan visi dan misi. Inilah tugas penting para pemimpin dalam suatu perusahaan atau tim kerja. Visi dan misi perusahaan bukan sekadar slogan pajangan dinding, pemanis website, atau kebanggaan dalam company profile. Visi dan misi yang meringkas strategi bisnis dan cita-cita perusahaan harus dapat dikomunikasikan dan dipahami dengan mudah oleh para pemangku kepentingan di seluruh tim dan setiap lini kerja dalam perusahaan, agar efektif membawa perusahaan beserta seluruh tim ke tujuan dan melahirkan dampak yang dicita-citakan bagi pihak-pihak yang dilayani.

Kesalahan umum pemimpin
Kesalahan yang banyak terjadi dalam perusahaan adalah pemimpin mengabaikan pentingnya visi dan misi. Dalam perencanaan bisnis sejak awal, sering kali visi dan misi hanya disusun “asal-asalan” sebagai kata-kata yang terkesan hebat/indah, tanpa ada kejelasan dalam implementasi atau strategi pencapaiannya. Kadang situasinya bahkan lebih parah lagi; perusahaan tidak punya visi dan misi. Ini kesalahan fatal, karena kegagalan untuk memahami visi dan misi dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk di semua tingkat kerja dan kepemimpinan organisasi.

Mari kita simak contoh dari visi dan misi Nokia, merek yang sempat sangat terkenal dan menguasai pasar selama periode waktu yang amat panjang. Sayangnya, Nokia bisa dikatakan bangkrut dan terpuruk. Pada bulan September 2010, CEO Nokia Stephen Elop mengumumkan harga saham Nokia yang merosot tajam. Hal ini membuat Microsoft kemudian membeli Nokia untuk menyelamatkan produsen ponsel terbesar pada masanya itu dari kebangkrutan. Berjayanya Apple dan Android semakin menghancurkan Nokia, karena ternyata Nokia tak mampu ikut “menumpang” dalam kejayaan kedua sistem utama itu. Nokia, yang sempat lama menyandang nama besar, terlambat mengenali teknologi terbaru yang sedang berkembang pesat. Berbeda dengan iPhone dan Samsung yang terus memperbaharui sistem operasinya sejalan dengan visi dan misi mereka sebagai produk teknologi yang ramah pengguna, ponsel Nokia semakin mengecewakan konsumen karena tidak memiliki keistimewaan. Meski kini sedang berusaha bangkit kembali dari posisi yang lemah di antara merek-merek pesaingnya dengan mencoba tampil sebagai ponsel berkamera tercanggih, Nokia terpaksa menerima kenyataan bahwa semuanya sudah terlambat dan momentum sudah terlewat.

Prinsip utama dalam implementasi visi dan misi
Implementasi visi dan misi ialah sebuah proses perwujudan visi dan misi ke dalam strategi dan tindakan nyata oleh SDM yang terkait agar tujuan dan sasaran tercapai. Implementasi visi dan misi sama pentingnya dengan mencari strategi, atau bahkan lebih penting. Tidak ada pencapaian target atau perwujudan cita-cita perusahaan yang bisa terjadi tanpa implementasi visi dan misi.

Kegagalan pemimpin dalam menjalankan organisasi perusahaan banyak dipengaruhi oleh kegagalannya mengimplementasikan visi dan misi perusahaan. Banyak perusahaan memiliki visi dan misi yang terkesan bagus, tetapi tidak diaplikasikan saat penyusunan rencana bisnis atau dalam rencana tindakan yang nyata bagi seluruh tim kerja. Padahal, seharusnya rencana bisnis berfungsi sebagai perta perjalanan (roadmap) bagi perusahaan untuk mengejar tujuan dan menetapkan strategi kerja. Artinya, peta perjalanan tidak mungkin tidak mengacu pada visi dan misi. Peta perjalanan perusahaan yang dibuat tanpa berdasarkan acuan ke visi dan misi sama saja dengan peta yang tidak dilengkapi petunjuk arah dan titik tujuan akhir. Penggunanya tidak akan pernah sampai di tujuan.

Visi dan misi membahas tujuan, yaitu apa dan mengapa sebuah organisasi/perusahaan berjalan, tetapi implementasinya membahas siapa, di mana, kapan, dan bagaimana cara organisasi/perusahaan bergerak menuju tujuan itu. Pastikan perusahaan Anda berpegang pada prinsip utama ini: visi dan misi perusahaan harus dibarengi dengan implementasi yang jelas dan nyata sebagai gaya hidup dan napas perusahaan.

Kiat-kiat memiliki visi dan misi yang efektif serta berdampak
Untuk memulai, mari kita menyusun visi dan misi yang tepat. Selanjutnya, pastikan implementasinya berjalan terus-menerus di setiap lini kerja dan kepemimpinan seluruh SDM perusahaan. Nah, bagaimana memiliki visi dan misi yang tepat?

1. Perbaharui visi dan misi secara berkala
Perusahaan yang memiliki visi dan misi yang telah usang tidak akan mampu mengikuti perkembangan pasar. Perusahaan semacam ini juga tidak dapat meyakinkan klien atau konsumen mengapa produk atau layanannya merupakan pilihan terbaik. Tanpa visi dan misi yang sesuai dengan situasi terkini, klien atau konsumen mungkin tidak mampu melihat alasan mengapa harus memberi perhatian pada bisnis Anda. Seharusnya, visi dan misi sebuah perusahaan diperbaharui secara berkala, misalnya setiap tahun, terutama di saat perekonomian sedang berubah pesat (volatile) seperti sekarang. Ini bukan berarti visi dan misi diubah setiap tahunnya; namun, pastikan bahwa visi dan misi ini berpandangan jauh ke depan dan implementasinya senantiasa menjawab kebutuhan pasar. Faktanya, banyak perusahaan besar yang pernah mencapai kesuksesan atau telah menerapkan analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunity, Threats – Kekuatan, Kelemahan, Peluang, Ancaman) kemudian bangkrut saat berada di puncak karena malas memperbaharui visi dan misinya.

2. Pastikan visi dan misi itu jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh SDM
Visi dan misi adalah pernyataan lata-kata singkat yang memandu bisnis kita dalam pergerakan jangka panjang. Oleh karenanya, visi misi harus mudah dipahami agar mampu mengarahkan setiap orang untuk mencapai tujuan bersama. Tanpa visi dan misi, perusahaan seperti seperti kapal yang hanyut di laut lepas. Ingatlah pula bahwa SDM terdiri dari berbagai latar belakang intelektual dan daya pemahaman. Gunakan kata-kata yang jelas dan ringkas dalam menyusun atau memperbaharui visi dan misi perusahaan Anda, agar mudah dipahami dan diingat oleh seluruh SDM di perusahaan Anda.

3. Pastikan visi dan misi cukup spesifik dan konkret
Visi dan misi perusahaan harus dibuat spesifik, tajam, praktis, dan konkret. Dengan demikian, orang-orang di dalam perusahaan Anda mampu mengidentifikasi tindakan-tindakan terpenting yang perlu dilakukan sebagai implementasinya. Sering kali, visi dan misi sebuah perusahaan dibuat ringkas tetrapi “mengambang” dan tidak memberikan kejelasan apa pun, misalnya visi dan misi sebuah rumah makan cepat saji untuk “menjadi yang terbaik dan terbesar di Indonesia”. Tanpa fokus yang konkret dan spesifik, pegawai-pegawai di rumah makan ini sangat mungkin kesulitan mendefinisikan dan mengimplementasi tindakan yang perlu dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari. Visi dan misi seperti ini hanya menjadi slogan yang hebat atau cita-cita yang indah tanpa pernah tercapai. Untuk memperbaikinya, para pemimpin usaha rumah makan ini perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah yang dimaksud dengan terbaik itu merujuk pada jumlah karyawan, rekor penjualan, atau tingkat keuntungan, atau yang lainnya? Pemahaman dan kemampuan implementasi timbul dari visi dan misi yang diperjelas dan dipertajam. Dalam konteks visi dan misi rumah makan tadi, perbaikannya misalnya menjadi “resto cepat saji yang menyediakan makanan berkualitas bagi pelanggan dengan harga yang terjangkau”.

4. Tetaplah konsisten dengan visi dan misi yang telah disepakati
Setelah perusahaan Anda memiliki visi misi yang mudah dipahami, jelas dan tajam, serta cukup praktis untuk diimplementasikan, pastikan bahwa seluruh implementasinya itu tetap terfokus dan konsisten. Misalnya, untuk mencapai tujuan sebagai distributor bahan kimia terbesar ketiga di Indonesia, jangan sampai perusahaan Anda “melebar” pada implementasinya dengan menyusun rencana-rencana bisnis yang malah merambah dunia properti, perhotelan, dan lain sebagainya. Jika bisnis Anda pecah fokus sehingga tidak langsung terkait dengan visi dan misi yang sudah disepakati, bisa dikatakan perusahaan Anda sudah berjalan menuju kegagalan. Selalu sesuaikan rencana, sistem, dan proses kerja dengan visi dan misi perusahaan. Pastikan bahwa tolok ukur perusahaan senantiasa sesuai dengan visi dan misi, terutama yang berkaitan dengan pelayanan, loyalitas SDM, dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Nah, siapkan Anda sebagai pemimpin di perusahaan mengusahakan visi dan misi yang efektif dan berdampak? Selamat mempraktikkan dan menuai hasilnya!

0

Marketplace, Ragam

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18).

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12).

AL Ries berkata ”Kesuksesan sering disusul dengan keangkuhan. Sedang keangkuhan pasti berujung kehancuran”

Sama seperti rasa rendah diri atau minder, kesombongan juga memiliki efek sama merusaknya bagi kehidupan. Kesombongan berasal dari perasaan tinggi hati yang matikan. Sikap sombong menuntun orang pada hilangnya keinginan untuk belajar dan ketidakmampuan untuk berubah.

Kesombongan adalah sebuah halangan yang begitu besar bagi keberhasilan dan perkembangan kehidupan seseorang, untuk itu hal ini sangat penting untuk diwaspadai. Seringkali kesombongan mulai tumbuh tanpa kita sadari, dia seperti racun yang dikemas dalam tampilan yang sangat lezat. Ketika memakannya, sepertinya efek racun itu tidak begitu terasa, hingga suatu saat, tanpa disadari kesombongan sudah menghancurkan hidupnya.

Kejatuhan Lucifer menjadi Iblis dimulai dari perasaan “sombong”. Keinginan untuk bebas, terpisah dari lingkaran kasih ilahi. Salah satu kelakuan umat manusia di akhir zaman adalah “kesombongan” seperti yang tertulis didalam 2 Timotius 3:2, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama.”

Sudah barang tentu, tidak ada dari kita yang suka bergaul dengan orang sombong, kecuali jika kita memiliki sifat yang sama. Berikut ini adalah beberapa sikap kesombongan yang sering muncul pada orang-orang di dunia kerja atau dunia usaha:

1. SAYA BISA & SAYA TIDAK PERLU TUHAN
Kesombongan yang dimaksud ialah kesombongan diri sendiri yang merasa tidak memerlukan bantuan Tuhan dalam meraih apa yang kita inginkan. Banyak program pengembangan diri atau sukses yang mengajarkan kita cara menetapkan tujuan, membuat rencana, dan mengeksekusi rencana, namun mereka lupa melibatkan Allah. Saat kita lupa melibatkan Tuhan, ini adalah bentuk kesombongan kita. Kita merasa tidak memerlukan Allah, padahal tidak ada yang bisa terjadi jika Tuhan tidak menginginkannya. Semua yang terjadi di alam ini, termasuk jatuhnya selembar daun dari sebuah pohon adalah kehendak Allah.

2. SAYA SUDAH PINTAR & TIDAK PERLU BELAJAR LAGI
Ketika kita merasa sudah tahu segala-galanya, disitulah titik awal kita jatuh kedalam kegagalan. Padahal dunia berputar terus, teknologi berubah terus, persaingan dunia kerja semakin keras, lingkungan dimana kita hidup berubah sangat cepat. Contohnya 15 tahun yang lalu, kita tidak mengenal apa yang disebut internet, tetapi hari ini, internet menjadi kebutuhan pokok setiap orang di dunia ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita “dipaksa” harus belajar memakai internet untuk memudahkan pekerjaan kita, termasuk kita juga harus belajar terus menerus berbagai hal untuk menunjang bisnis atau karir.

Sebuah perusahaan yang berisikan para pemimpin yang merasa sudah pintar, lambat laun akan mengalami kejatuhan, akibat lambat didalam meresponi perubahan lingkungan dunia bisnis. Banyak contoh kasus tentang aspek ini. Misalnya Samsung kini menjadi raksasa produk elektronik dunia, meninggalkan Sony yang bertahun-tahun menjadi juara dibidang elektronik. Adapun produk Korea lainnya, Hyundai, kini menjadi produsen mobil keempat terbesar di dunia. Bayangkan, tujuh tahun silam siapa yang memandang Hyundai? Namun, kini produk raksasa ini menyusup jauh ke pedalaman raksasa-raksasa ekonomi dunia. Suka tidak suka, harus diakui, Hyundai sukses menerobos panggung elite otomotif dunia. Mereka unggul atas produsen mobil Italia, Inggris, Swedia, dan Perancis.

3. MENGABAIKAN TANDA-TANDA “KEJATUHAN”
Berakhirnya atau runtuhnya suatu bisnis, biasanya tidak terjadi seketika, pada umumnya ada gejala-gejala yang menyertainya. Seorang ahli manajemen kelas dunia, Jim Collins melalui bukunya yang berjudul How The Mighty Fall, menjelaskan bahwa ada lima tahapan kehancuran perusahaan yaitu : Sikap sombong baik para direksi maupun para manajernya yang sudah menutupi akal sehat pemimpin perusahaan itu.

Akibat kesombongan itu, pemimpin usaha tersebut menjadi tidak disiplin dalam mengambil kebijakan yang tepat dalam membesarkan perusahaannya. Lalai mencermati perubahan lingkungan yang terjadi, lengah didalam mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai arus perubahan yang deras.

Ketidakdisiplinan ini berlanjut ke tahap berikutnya yakni pengabaian resiko dan tanda-tanda bahaya yang ditunjukan oleh berbagai data-data laporan perusahaan, angka rasio-rasio analisa keuangan, dsb, dan bahkan masih yakin sekali, bahwa data negatif itu, hanya bersifat sementara (sikap “dont worry & be happy”). Tidak jarang si pemimpin juga mulai menyalahkan pihak lain, perusahaan lain, dan kondisi di luar perusahaan atas kondisi buruk akibat kebijakannya sendiri. Diskusi dengan tim kerja juga mulai berkurang bahkan menghilang di tahap ini, bahkan digantikan keputusan pemimpin yang merasa paling hebat. Akibat akumulasi berbagai hal ini, perusahaan mulai melangkah dan mengambil resiko yang besar, bahkan termasuk resiko yang berbahaya bagi masa depan perusahaan.

Akibat dari pengambilan resiko yang terlampau besar dan tidak terukur, kinerja perusahaan mulai tampak terjun bebas. Kebijakan saat perusahaan terjun bebas inilah, kehancuran atau kebangkitan perusahaan ditentukan. Kejadian inilah yang terjadi pada berbagai merk terkenal dimasa lalu dimana sudah tidak terdengar lagi, seperti Kodak, Fuji Film, Blaupunkt, dsb.

4. PRODUK SAYA TERBAIK & TIDAK PERLU INOVASI LAGI
Pada tahun 2008, blackberry, adalah sebuah perusahaan yang sangat mahal sekali, dengan berbagai macam hal yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. BlackBerry memiliki harga yang sangat tinggi untuk dijual. Perusahaan tersebut bernilai seharga sebesar US$84 miliar. Namun keterpurukan yang dialami oleh perusahaan yang memiliki basis di Canada tersebut sekarang telah jatuh dari masa keemasan. Harga jual dari perusahaan tersebut saat ini hanya 4,7 miliar dollar US saja.

Apa penyebabnya? Di tahun 2007, kedatangan iPhone memang seperti tidak memiliki arti dan memberi sedikit persaingan pada perusahaan yang masih bernama Research in Motion tersebut. Bahkan CEO dan co CEO dari BlackBerry menganggap iPhone adalah sebuah ponsel yang tidak bisa berbuat banyak. Selain kelemahan pada baterai yang tidak bertahan lama pada ponsel itu, iPhone juga dianggap sebagai ponsel dengan layar sentuh yang sulit sekali untuk digunakan.

Pada masa itu, memang kebanyakan orang tetap memilih menggunakan BlackBerry. Namun sayangnya BlackBerry dari tahun ke tahun tetap saja sama dan tidak mengembangkan apa yang telah mereka dapatkan. Hal ini berbeda sekali dengan Google ataupun Apple, meski belum begitu meledak pada saat itu, perusahaan tersebut memiliki misi yang sama yaitu akan membuat ponsel sebagai salah satu benda yang memiliki banyak kegunaaan termasuk juga untuk kegunaan hiburan.

BlackBerry yang hanya mengandalkan fitur BBM sebagai salah satu alat komunikasi yang paling banyak digunakan saat itu tidak berubah, sementara Google yang membuka kesempatan kepada setiap developer untuk bergabung terus maju dan membuat banyak perubahan. Blackberry merasa produknya yang terbaik, dan tidak bisa digusur oleh siapapun, dan kesombongan ini yang menyeretnya jauh tertinggal oleh para pesaing.

5 MERASA BISA MELAKUKAN SEMUANYA SENDIRI
Kesalahan terbesar yang dibuat oleh para pemimpin atau pengusaha adalah percaya bahwa mereka dapat melakukan segala hal sendiri. Sikap seperti ini memberikan sinyal bahwa orang lain tidak sepandai dia. Ia tidak butuh pendapat atau saran orang lain. Ialah satu-satunya yang punya solusi dan kapasitas untuk melakukan semuanya. Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (Sukses bisa membuat kita jadi arogan (sombong). Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal). Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Pengusaha besar Eka Tjipta Widjaja, pernah mengatakan “Engkau ingin berbisnis tetapi sombong?… sudah, pulang tidur saja, engkau tidak berbakat bisnis”. Eka, pendiri sekaligus generasi pertama Grup Sinar Mas, menyadari betul bahwa seorang usahawan memang harus punya sikap, jujur, dan reputasi tinggi. Namun, prinsip bisnis yang paling terutama adalah pengusaha dilarang sombong. Untuk memberi gambaran nyata, ia menyatakan, sombong, apalagi sok tahu, hanya akan mencelakakan si pengusaha.

6. TIDAK SENANG DIKRITIK & DIBERI MASUKAN
Salah satu sikap arogansi pemimpin adalah menginginkan orang lain harus setuju dengan keputusannya, harus setuju dengan kebijakannya dan harus setuju dengan cara berpikirnya. Pemimpin seperti ini alergi dalam menerima ide, saran atau masukan dari anak buahnya.

Liew Kee Sin, CEO SP Setia, perusahaan properti asal Malaysia menegaskan, “Kesalahan banyak orang adalah mempekerjakan terlalu banyak ‘yes man’.” Lebih suka mempekerjakan karyawan dengan mentalitas ‘asal bapak senang’. Kata kunci yang harus dipegang, kata Kee Sin, “Saya memiliki tim yang kuat yang mendukung bisnis saya”. Staf seharusnya juga berani untuk bisa mengatakan: “Pak, Anda salah. Keputusan ini akan berdampak negatif.” Karena seorang pemimpin bukan seorang “superman” yang tahu segala-galanya.

KItab Yesaya 2:11 menuliskan, “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu”. Firman Tuhan selalu mengingatkan kita, agar waspada terhadap kesombongan diri. Sudah banyak contoh orang-orang yang jatuh didalam dunia kerja akibat sikap kesombongan dirinya.

0

Marketplace, Ragam

“Life is a series of natural and spontaneous changes. Don’t resist them, (because) that only creates sorrow. Let reality be reality. Let things flow naturally forward in whatever way they like.” (Lao Tzu)

Selamat tahun baru 2016! Tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu dan kita semua sudah memasuki tahun 2016. Jika kita menengok sejenak kembali ke tahun 2015 yang baru berlalu, banyak sekali peristiwa dan perubahan yang terjadi dengan begitu cepat, bahkan tanpa terduga, di dunia ini. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi dan merek ponsel. Berbagai merek muncul silih berganti, dan yang lebih awal segera tersingkir lalu tergantikan oleh yang lebih baru. “Nokia” yang berjaya di puncak pasar belasan tahun yang lalu, digeser oleh “Blackberry”. “Blackberry” yang sempat menikmati masa-masa kejayaan sesaat pun tersalip oleh “Iphone” dan “Samsung”. Bahkan saat ini, kedua merek ini sedang was-was dengan hadirnya merek-merek sarat fitur dan berharga hemat seperti “Xiao Mi” dan “Asus”. Ini hanyalah contoh kecil tentang bagaimana perubahan berjalan dengan begitu cepat, penuh kejutan dan tidak terstruktur.

Mari kita lihat dengan lebih seksama. Di dalam dunia sekarang ini, struktur, isi, dan proses kerja telah berubah jauh dari puluhan tahun yang lalu. Dunia kerja saat ini:

  • lebih kompleks,
  • lebih berbasis pada tim dan kolaborasi,
  • lebih tergantung pada keterampilan sosial (people skill),
  • lebih tergantung pada kompetensi teknologi,
  • lebih banyak tekanan waktu (deadline),
  • lebih luwes dalam hal tempat (kurang bergantung pada lokasi geografis).

Dalam dunia sekarang ini, kebanyakan perusahaan pun mengalami transformasi yang sangat cepat dan sulit diprediksi, dan karenanya, perusahaan dituntut untuk menjadi lebih ramping agar lebih gesit; lebih berfokus pada nilai tambah dari perspektif pelanggan (added value); lebih kompetitif, dinamis dan strategis; kurang hirarkis dalam struktur organisasi dan dan dalam otoritas pengambilan keputusan.

Secara lebih terperinci, perubahan pada perusahaan meliputi hal-hal berikut:

  1. Berkurangnya hirarki struktur organisasi. Hirarki yang rumit dan tidak bisa merespons perubahan tuntutan pasar dengan cepat, misalnya gagal melakukan inovasi yang berkelanjutan, akan semakin memudar. Hirarki perusahaan digantikan oleh kerja sama tim secara lintas fungsi di dalam perusahaan, sehingga pengambilan keputusan lebih terdesentralisasi & cepat
  2. Batasan antar departemen yang semakin tipis. Batas antar departemen serta antar kategori pekerjaan (manajer, profesional, teknis) menjadi lebih fleksibel dan ada kebutuhan yang lebih besar untuk kerja sama dan berbagi pengetahuan. Semua pihak saling bersinergi, saling berkaitan dan semakin saling tergantung.
  3. Sinergi kerja yang menjadi semakin dominan. Perusahaan sekarang dituntut untuk bisa membuat keputusan yang cepat, memiliki budaya kerja yang semakin efisien, dan meningkatkan efektivitas dan produktivitas usaha.
  4. Munculnya perspektif manajemen yang baru. Karyawan tidak lagi hanya mematuhi peraturan dan perintah, melainkan juga harus berkomitmen untuk mengejar tujuan dan misi organisasi. Pengaburan batas-batas antar bagian juga mempengaruhi peran organisasi. Karyawan mendapatkan wewenang untuk mengambil keputusan yang lebih cepat dan para pimpinan dituntut untuk mendukung anggota timnya serta menjadi seorang pelatih bagi mereka.
  5. Aliran perubahan yang semakin deras. Perubahan akan mengalir semakin deras dan tidak bisa dibendung oleh kekuatan apapun. Perubahan merasuki segala jenis kehidupan manusia dan ini sangat mempengaruhi cara kerja berbagai perusahaan, sehingga dengan sendirinya mempengaruhi cara Anda mengelola pekerjaan dan tim kerja pula.

Selama dua dekade terakhir ini, berbagai perubahan ini telah mengakibatkan munculnya berbagai pola kerja yang baru, sekaligus perkembangan teknologi dan gaya hidup manusia. Setidaknya, tiga hal berikut adalah dampak yang ditimbulkan oleh fenomena ini di dalam pekerjaan dan cara kerja kita masing-masing:

  1. Tuntutan keterampilan kerja yang serba bisa dan serba simultan (multi talented dan multi tasking) Pimpinan dan karyawan kini dituntut untuk mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu yang bersamaan (secara simultan), dan bahkan tidak jarang dituntut untuk sanggup mengerjakan berbagai tugas yang lintas fungsi, misalnya, seorang Marketing Manager mampu menyusun laporan analisa keuangan di Departemen Marketing, Seorang General Affair Supervisor perlu mengerti tentang pengoperasian mesin di pabrik.
  2. Tuntutan penguasaan kemampuan berurusan dengan orang (interpersonal skill) Sifat dan gaya kerja karyawan di perusahaan semakin kompleks dan semakin mengalami tekanan yang kuat untuk mencapai target kerja yang lebih tinggi. Oleh karena itu, setiap orang dituntut memiliki kemampuan pengelolaan manusia, penanganan konflik, dan negosiasi.
  3. Tuntutan pergeseran fokus pengusaha Pengusaha saat ini perlu bergeser fokus kepada pengembangan kompetensi karyawan, pengembangan yang terus menerus, dan keseimbangan hidup para karyawan (misalnya, tidak sekadar menuntut jam kerja panjang tanpa menimbulkan kelelahan fisik serta mental yang akan mengakibatkan turunnya produktivitas). Pergeseran fokus ini dipengaruhi oleh adanya berbagai tuntutan tenaga kerja, demonstrasi para buruh dan berbagai perubahan peraturan ketenagakerjaan dari pemerintah, dan berbagai faktor lainnya.

Setelah Anda membaca ulasan mengenai arus perubahan di dunia kerja di atas, siapkah Anda menghadapinya? Siap yang dimaksud di sini adalah siap secara rohani, intelektual, maupun fisik, dalam menghadapi perubahan. Alkitab mengingatkan kita berkali-kali tentang perlunya bersikap waspada terhadap berbagai hal di dalam kehidupan. Agar menjadi siap dan waspada, kita perlu membangun manusia rohani kita sebagai prioritas pertama, agar kita memiliki ketahanan dan mampu “berenang” di dalam derasnya arus perubahan dunia kerja, bukan justru “terhanyut” dan “tenggelam”. Kekuatan di dalam (kualitas manusia rohani) akan membuat Anda siap menghadapi perubahan di luar, termasuk yang terjadi di dunia kerja. Selamat membangun manusia rohani dan sukses menghadapi perubahan!

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.” (1 Tes. 5:6)
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk. 21:36)

0

Marketplace, Ragam

Nama Bill Gates dan Paul Allen (Microsoft), Mark Zuckerberg (Facebook, WhatsApp, Instagram), Steve Jobs (Apple), Jeff Bezos (Amazon), atau Jack Ma (Alibaba) sudah menjadi amat populer di telinga kita saat ini karena kesuksesan mereka mengembangkan bisnis berbasis teknologi informasi. Selain itu, di pasar nasional ada juga nama-nama baru yang kini semakin berkibar mengembangkan bisnis berbasis aplikasi daring, misalnya Nadim Makariem (GoJek) dan William Tanuwijaya (Tokopedia). Kerajaan bisnis mereka memang belum sebesar milik pebisnis raksasa sukses lainnya yang telah menjadi konglemerat lintas generasi, tetapi mereka semua menjadi besar dengan cara yang sama; bekerja giat dari skala kecil, bahkan kebanyakan memulainya dari nol.

Orang-orang sukses itu mempraktikkan kesetiaan dalam perjuangan hidup dengan tekun menapaki keberhasilan setahap demi setahap, bukan mendadak menjadi besar dan meraksasa. Setiap hari mereka melangkah satu langkah ke depan, besok satu langkah lagi ke depan, dan demikian seterusnya dengan setia. Keberhasilan kecil di hari kemarin dipertahankan, diperbesar, dan dilipatgandakan pada hari-hari berikutnya. Kegagalan hari kemarin dijadikan pelajaran berharga untuk tidak dilakukan kembali pada hari ini dan besok. Intinya, mereka adalah orang-orang yang setia dengan setiap hal kecil pada proses meniti jalan kesuksesan; karena memang tidak ada sukses dalam karier atau bisnis yang terjadi secara instan. Semuanya perlu proses dan harus ditekuni dengan tekad yang kuat. Jika Anda sedang meniti jalan kesuksesan juga dalam bidang karier/pekerjaan atau bisnis, Anda perlu bertekun dan setia dengan segala hal kecil pada proses di tiga area berikut:

Mengembangkan diri hingga sukses di ketiga area ini, sekali lagi, tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Perlu waktu lebih dari sekadar beberapa bulan atau 1-2 tahun untuk Anda melewati proses yang tak berhenti dalam membangun dan melatih kompetensi yang unggul hingga siap bersaing. Karenanya, kunci utamanya ialah sikap setia dengan setiap hal kecil pada proses ini. Lalu, apa saja hal-hal praktis yang bisa kita praktikkan sebagai bentuk kesetiaan ini?

1. Setia menyusun perencanaan dan target yang jelas

  • Tidak ada pekerjaan yang tidak memerlukan target. Selalu tetapkan target pencapaian pada tiap pekerjaan Anda; jika perlu, susun strategi yang mendetail, matang, dan kreatif untuk pencapaiannya.
  • Sesuaikan target Anda dengan kemampuan diri, jangan sampai target dipasang terlalu tinggi sehingga Anda tidak mampu untuk mencapainya meskipun usaha yang sudah dilakukan maksimal dan cukup menguras tenaga serta pikiran. Sebaliknya, jangan pula memasang target yang terlalu rendah sehingga Anda tidak tertantang atau tidak perlu berusaha untuk mencapainya, sehingga Anda menjadi kehilangan motivasi/semangat.

2. Setia membuat jadwal yang jelas untuk segala aktivitas (dalam bekerja dan kehidupan pribadi)

  • Sebelum Anda memulai hari Anda dengan berbagai aktivitas, tulislah daftar hal yang akan Anda lakukan hari ini dan berikan urutan prioritas pelaksanaanya. Ini bisa juga dilakukan dan diperiksa kembali secara berkala, misalnya setiap minggu.
  • Selanjutnya, susunlah jadwal pelaksanaan masing-masing hal dari daftar itu, lalu lakukan berdasarkan jadwal yang telah disusun dan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

3. Setia mengelola waktu

  • Kelola waktu Anda dengan efektif. Kurangi aktivitas tak bermanfaat yang sifatnya membuang-buang waktu untuk hal yang tidak perlu. Hentikan berbagai kebiasaan yang tidak mendukung pencapaian target Anda, terutama yang sama sekali tidak membawa kebaikan bagi diri Anda sendiri. Belajarlah menolak dengan halus tetapi tegas ketika ada ajakan yang tak bermanfaat, dan kurangi waktu berlama-lama berkeliaran di media sosial atau internet tanpa manfaat jelas untuk target Anda.
  • Mulailah memilih dan melakukan aktivitas lainnya yang lebih bermanfaat sehingga waktu tidak terbuang dengan percuma saja, seperti belajar hal-hal baru, berlatih dalam keterampilan atau keahlian Anda.

4. Setia belajar hal baru senantiasa

  • Penting bagi Anda untuk mempelajari hal yang baru yang memberi kontribusi pada kesuksesan Anda. Temukan hal baru apa yang mendukung pencapaian target Anda yang masih perlu Anda pelajari, dan mulailah mempelajarinya.
  • Tentukan untuk setiap jangka waktu tertentu (misalnya, setiap minggu, setiap bulan, atau setiap tahun) apa yang mau Anda baca, yang mau Anda pelajari, yang mau Anda latih. Anda bisa mengikuti kegiatan webinar/e-learning atau berbagai ikut seminar/pelatihan yang sesuai pula. Investasikan dana, waktu, dan konsentrasi Anda untuk hal ini.

5. Setia mencatat ide-ide baru

  • Ide brilian di pikiran sering muncul tiba-tiba, misalnya dalam perjalanan berkendara, mengantre di restoran atau bioskop, bahkan di dalam kamar kecil. Mencatat setiap ide dan rencana tindakan yang muncul spontan sebelum Anda lupa bisa membuka berbagai peluang. Biasakan dan disiplinkan diri Anda untuk melakukan hal ini.
  • Untuk membantu memudahkan prosesnya, selalu sediakan alat-alat yang tepat: buku catatan kecil dan pulpen atau aplikasi catatan/jurnal/agenda di ponsel, misalnya. Dengan demikian, Anda tidak lagi terbiasa beralasan “lupa” karena tidak langsung mencatat.

6. Setia mengatur area kerja

  • Bekerja di area yang teratur akan membuat Anda lebih semangat dan membangun energi positif. Sebaliknya, area kerja yang berantakan justru membuat kita malas, sulit berkonsentrasi, dan cepat lelah. Tentukan pengaturan yang sesuai untuk konteks pekerjaan Anda dan rajinlah mengatur dan menjaga pengaturan ini tetap tidak terganggu di area kerja Anda.
  • Usahakan untuk membiasakan diri membereskan area kerja (meja, kubikel, ruangan, bengkel, dsb sesuai konteks pekerjaan Anda) menjelang waktu selesai bekerja. Ini membantu Anda untuk lebih siap mulai bekerja tanpa terganggu di awal waktu kerja berikutnya.

7. Setia membangun hubungan

  • Tidak ada orang yang sanggup sukses sendirian. Karena itu, jangan lupa dan jangan abaikan untuk membangun jejaring yang positif dengan siapa pun dalam konteks pekerjaan/usaha Anda. Setialah membangun hubungan di organisasi profesi, komunitas teman-teman alumni kuliah, dsb.
    Ingat, semakin luas jejaring Anda, semakin “kaya” pula pertemanan Anda.
  • Jika Anda berkepribadian introvert, latih diri Anda keluar dari zona nyaman secara bertahap, dan mulai perbesar jejaring Anda sambil memanfaatkan kekuatan Anda untuk memelihara hubungan berkualitas dengan orang-orang kunci dalam jejaring itu.

8. Setia berhubungan dengan Tuhan

  • Pastikan Anda selalu mengucap syukur dan berdoa sebelum memulai rutinitas atau aktivitas kerja dan usaha apa pun. Anda tidak mungkin bertumbuh dan sukses tanpa Tuhan; Anda membutuhkan tuntunan Tuhan untuk segala sesuatu.
  • Terbiasa berdoa dan mengucap syukur membangun hubungan persahabatan yang semakin akrab antara diri Anda dengan Tuhan. Ini akan membantu Anda lebih termotivasi, berenergi, serta terarah dalam bekerja dan berusaha.

Setia dengan hal-hal kecil melewati proses adalah bagaikan membangun sebuah bangunan, yaitu menyusun satu bata demi satu bata hingga bangunan sukses berdiri dan siap digunakan. Ini sesuai dengan Firman Tuhan di Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Mari kita mempraktikkan dan menuai hasilnya!

0

Marketplace, Ragam

Sekilas informasi saja, generasi di dunia kerja digolongkan menurut tahun kelahirannya masing-masing: baby boomers (mereka yang lahir pada tahun 1945–1960), generasi X (mereka yang lahir pada tahun 1961–1980), generasi Y (mereka yang lahir pada tahun 1981–1995), serta generasi Z (mereka yang lahir pada tahun 1995 atau setelahnya). Masing-masing generasi memiliki ciri-ciri perilaku yang khas di lingkungan kerja, dan perubahan-perubahan global turut memengaruhi hal ini. Generasi Y dan Z sering kali juga disebut sebagai kaum milenial. Apa saja ciri-cirinya?

1. Ingin perubahan yang cepat
Generasi milenial adalah generasi yang “tidak sabar” dalam hal menantikan waktu dan proses. Ini termasuk dalam meniti karier. Jika dalam waktu dua-tiga tahun tidak ada perubahan yang berarti bagi dirinya, generasi milenial cenderung meninggalkan pekerjaannya alias pindah ke perusahaan lain atau memulai sesuatu yang baru.

2. Butuh atasan/pemimpin yang bisa menjadi mentor
Mereka membutuhkan sosok pemimpin yang bukan saja menjadi “bos” (memberikan instruksi), tetapi juga bisa mendampingi dan melatih untuk mereka berkembang, baik dalam hal pengetahuan, keterampilan, meupun produktivitas

3. Suka dilibatkan dan diajak diskusi, bukan sekadar diperintah
Generasi milenial sudah terdidik untuk bekerja sama dalam tim, berdiskusi dalam kelompok, bahkan berargumentasi demi mempertajam pencapaian suatu target. Berdasarkan sebuah studi, 88% dari generasi milenial lebih memilih bekerja secara tim alias berkolaborasi. Itulah mengapa mereka lebih suka kantor dengan budaya kolaborasi, bukan gaya perintah yang “asal setiap orang bekerja dengan beres”.

4. Bekerja sambil beraktivitas di media sosial di jam kerja
Bagi mereka, beraktivitas dan berinteraksi di media-media sosial seperti Instagram, WhatsApp, atau Facebook, adalah bagian dari short-term refreshing saat bekerja. Dengan gaya bekerja seperti ini, mereka terhindar dari kejenuhan dan terbantu untuk tetap berkonsentrasi. Sayangnya, bagi generasi baby boomers dan generasi X (yang sering kali berada pada posisi atasan/pemimpin bagi generasi milenial di pekerjaan), perilaku seperti ini dianggap tabu dan “mencuri waktu kerja”.

5. Pekerjaan di perusahaan hanyalah sementara
Menjadi wirausaha adalah topik yang paling populer di kalangan generasi milenial. Saat ini, 38% dari generasi milenial berencana menjalankan bisnis mereka sendiri setidaknya dalam waktu tiga tahun ke depan (ini terutama terjadi pada generasi milenial yang berusia di bawah 30 tahun).

Lima ciri ini merupakan yang terpenting untuk kita kenali pada generasi milenial dalam situasi kerja. Karena kelima ciri ini, jelaslah apa latar belakang generasi milenial sering dinilai kurang loyal dalam pekerjaan, mudah berganti-ganti tempat kerja, dan tidak dapat diandalkan untuk jangka panjang. Lalu, bagaimana sebaiknya kita mempertahankan komitmen generasi milenial dalam bekerja? Kuncinya adalah membuat mereka betah, dan hal ini bisa dilakukan melalui beberapa kita berikut:

1. Ciptakan suasana/lingkungan kerja yang kondusif
Suasana kerja yang sifatnya kekeluargaan merupakan hal penting dalam bekerja. Ingat, generasi milenial suka berinteraksi dan berkolaborasi. Suasana kerja yang mendukung, kompak, bersahabat, dan menyenangkan menjadi salah satu pertimbangan bagi seorang karyawan generasi milenial untuk memilih tempat kerja dan bertahan di dalamnya.

2. Perbaiki gaya kepemimpinan para atasan
Saat ini, setiap atasan/pemimpin perlu beradaptasi mempraktikkan gaya kepemimpinan Leadership 4.0, yang beradaptasi terhadap gaya hidup generasi milenial. Jadilah mentor yang baik, komunikatif dan tidak kaku, selalu terbuka pada saran dan ide, serta team player yang menyenangkan dan bergaul dengan mereka. Buang gaya lama Anda yang hanya duduk seharian di balik batas ruangan atau meja kerja Anda sambil sesekali memberikan instruksi (dan memarahi mereka)!

3. Sediakan program pengembangan diri yang sistematis dan efektif
Memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan diri, dan mendapat bimbingan (mentoring) dari orang yang lebih senior ialah faktor pertimbangan posotof yang sangat penting bagi generasi milenial dalam pekerjaan. Karena itu, pastikan tim atau perusahaan Anda memiliki mekanisme atau system pengembangan diri yang sistematis dan efektif untuk semua karyawan, termasuk generasi milenial.

4. Berikan keleluasaan dalam hal cara/proses, asalkan target tetap tercapai (gunakan pendekatan yang berorientasi pada hasil)
Kebanyakan generasi milenial berjiwa bebas dan suka berinteraksi di media sosial, maka sebaiknya perusahaan menyesuaikan budaya kerjanya. Izinkan suasana santai yang memudahkan karyawan milenial untuk saling berinteraksi, misalnya dengan menyediakan open office atau kantor tanpa sekat-sekat tertutup. Selain itu, berikan keleluasaan untuk mereka melakukan cara dan prosesnya sendiri untuk mencapai target; Anda dan perusahaan tak perlu mendikte mereka secara terperinci. Misalnya, izinkan mereka bekerja sambil mendengarkan musik (menggunakan headset) atau sesekali bekerja diselingi menggunakan media sosial. Yang penting, pastikan target kerja selalu tetap tercapai. Cara dan proses mereka harus membuat mereka semakin efektif dan produktif dalam pekerjaan.

5. Berikan feedback secara berkala
Generai milenial akan mudah mengalami demotivasi dalam bekerja bila tidak mendapatkan feedback, pengakuan, dan apresiasi atas pencapaian mereka. Bahkan, mereka pun membutuhkan kritik yang mempertajam dan memperbaiki mereka, asalkan jelas dan tegas tanpa diwarnai sentiment pribadi atau terkait dengan ini-itu yang sebenarnya tidak relevan! Semua ini berguna dalam mememotivasi mereka untuk meningkatkan pencapaian di penugasan yang akan datang. Berikan feedback secara real-time dan berkala, sehingga mereka tahu apa yang perlu diperbaiki dan apa yang sudah berjalan dengan baik.

6. Ciptakan komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan
Generasi milenial butuh didengar, diperhatikan, dan dipakai ide-idenya (jika bagus dan cocok). Mereka tidak suka dinilai berdasarkan kriteria yang tidak relevan seperti usia, penampilan, masa kerja, apalagi latar belakang SARA! Atasan/pemimpin yang cenderung otoriter, pendiam, jarang mau mendengar ide-ide baru dari bawahan, hanya senang memberi instruksi, hanya percaya kepada yang senior, akan segera ditinggalkan oleh karyawan generasi milenial.

7. Ciptakan budaya kerja yang paperless
Generasi milenial paling tidak betah berurusan dengan banyak kertas. Mengisi banyak formulir, membuat laporan secara manual, menyiapkan presentasi yang harus melibatkan pekerjaan dan tulisan tangan; semua ini membuang-buang waktu dan fokus mereka. Generasi milenial sudah terlatih terampil menggunakan teknologi paperless: komputer, ponsel, dan berbagai perangkat modern lainnya menjadi fasilitas yang membantu mereka menjadi lebih efektif dan produktif. Komunikasi dalam bertukar ide atau berdiskusi pun menjadi lebih mudah dan cepat (sekaligus datanya tersimpan sebagai arsip) dilakukan secara non-verbal dengan teks.

Sebagai atasan atau pemimpin di pekerjaan, kita perlu hikmat Tuhan untuk menangani generasi milenial yang gaya kerja dan cara berpikirnya sudah sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Hikmat Tuhan didapat dari belajar setiap saat melalui sumber-sumber yang sejalan dengan Firman Tuhan. Lukas 6:31 mengingatkan kita, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Jika kita ingin generasi milenial betah bekerja bersama kita, perlakukan mereka sesuai yang kita sendiri ingin diperlakukan, yaitu dengan mengakomodasi gaya dan cara berpikir mereka serta maju bersama-sama dengan mereka. Keengganan atau keterlambatan melakukan perubahan yang baik akan membuat kepemimpinan dan lingkungan kerja Anda ditinggal oleh bibit-bibit bagus yang masih muda dan berpotensi cerah ini, sehingga akibatnya Anda hanya memiliki tenaga kerja yang berkualitas rendah.

0

Marketplace, Ragam

Artikel kali ini secara khusus saya tujukan kepada generasi Y (tahun kelahiran 1981–1995) dan generasi Z (tahun kelahiran setelah 1995). Di kalangan generasi Y dan Z, sering kali muncul diskusi tentang apa yang lebih baik dipilih setelah lulus kuliah; bekerja di perusahaan sebagai pegawai secara jangka panjang, atau bekerja untuk sementara saja sambil mencari pengalaman dan modal usaha, atau langsung merintis bisnis/usaha sendiri? Diskusi pada topik ini bisa panjang dan lama; dan kerap berakhir dengan keputusan “pilih aman” dengan bekerja saja di perusahaan walupun di hati ingin sekali punya bisnis sendiri atau justru tekad bulat untuk tidak bekerja sebagai pegawai sama sekali meskipun harus berhemat luar biasa karena hidup dari uang tabungan. Alasan masing-masing keputusan ekstrem ini kuat dan bermacam-macam.

Sebenarnya, tidak ada pilihan benar atau salah, lebih baik atau kurang baik, di antara keduanya. Semuanya tergantung pada pertimbangan apa saja yang menjadi prioritas. Berikut saya sajikan beberapa pertimbangan untuk generasi Y dan Z memilih berbisnis. Jika pertimbangan-pertimbangan ini menjadi prioritas, pilihan berbisnis tentu lebih tepat.

1. Saat ini terbuka berbagai peluang bisnis melalui kemajuan teknologi dan internet, sehingga kita semakin mudah untuk memulai bisnis baru (start up) dengan modal minim. Kini proses memasarkan dan memperkenalkan produk ke masyarakat bisa dilakukan dengan langkah-langkah sederhana dan dengan modal kecil, bahkan bisa dilakukan dari rumah saja tanpa perlu sewa tempat usaha khusus.

2. Media sosial semakin marak menawarkan inspirasi dan ide kreatif untuk berbisnis. Generasi Y dan Z adalah generasi internet yang sangat kreatif, mereka bisa memadukan berbagai hal yang dilihat di internet (misalnya, YouTube, Instagram, dsb.), lalu mengolahnya menjadi hal-hal atau produk baru yang diminati pasar.

3. Kecenderungan tekad mandiri semakin besar di kalangan masyarakat modern. Banyak sekali anak muda dari generasi Y dan Z yang bertekad untuk mengubah hidupnya serta tak takut menghadapi tantangan. Melalui usaha sendiri, mereka cukup yakin bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik, dan hal ini memang tak cukup cepat atau efektif terjawab dengan bekerja sebagai pegawai perusahaan. Tekad yang semacam ini sangat berguna dalam masa perintisan awal berbisnis serta ketika kesulitan datang dalam perjalanannya kemudian.

4. Kebebasan waktu dan gaya hidup semakin berharga di tengah-tengah laju kehidupan saat ini. Generasi Y dan Z suka hal-hal yang tidak terstruktur dan tidak terikat dengan peraturan serta komitmen atau keterbatasan waktu; mereka suka bereksplorasi dan beraktualisasi diri (apalagi, hal ini sudah dilatih sejak mereka sekolah dan kuliah). Bekerja di perusahaan cenderung berisiko menimbulkan ritme rutinitas yang monoton dan membelenggu kreativitas.

5. Pelatihan menjadi wirausaha telah lazim diterapkan sejak usia sekolah. Banyak sekolah dan universitas yang sudah melatih siswanya memiliki pola pikir wirausaha. Sejak usia muda bahkan dini, mereka sudah diperkenalkan kepada gagasan menjadi pengusaha dan dilatih bagaimana cara berbisnis (walau tekniknya masih sederhana). Pelatihan ini memunculkan bakat dan impian berbisnis di antara anak muda, dan layak ditindaklanjuti saat usia dewasa.

6. Pelajaran hidup dari orang tua menjadi kebijakan untuk kehidupan diri sendiri di masa depan. Generasi Y dan Z melihat contoh orang tua dan menyimpulkan sendiri apa yang mereka inginkan untuk kehidupan mereka nantinya. Bagi anak yang orang tuanya menjadi pegawai bergaji seumur hidup, mungkin sekali mereka tidak ingin bekerja keras banting tulang dan terikat segala komitmen yang kaku sampai usia tua, tanpa berhasil menyejahterakan keluarga sampai akhir hayat. Bagi anak yang lahir di keluarga pengusaha, mereka pun amat mungkin melihat dinamika kehidupan yang dinamis, kreatif, tidak terikat dengan waktu, tidak diperintah-perintah oleh orang lain, dan menghasilkan kesejahteraan serta kenyamanan hidup bagi keluarga.

7. Banyak program pelatihan pengembangan diri yang memotivasi diri untuk berwirausaha kini tersedia. Generasi Y dan Z kenyang disajikan berbagai program, acara, dan seminar yang membakar mimpi mereka untuk menjadi makmur melalui jalur bisnis. Begitu banyak para pembicara sukses di kelas nasional maupun internasional yang menjadi inspirasi kaum muda untuk berwirausaha, sehingga anggapan bahwa kemakmuran hanya efektif dan cepat tercapai melalui jalur bisnis menjadi anggapan yang semakin umum.

8. Lebih baik dan aman untuk mengambil risiko tinggi sebelum berkeluarga. Selagi belum punya anak dan harus menghidupi keluarga, generasi Y dan Z berani mengambil risiko lebih tinggi. Mereka umumnya berusia sekitar 20 tahun; belum menikah dan tentu saja tidak memiliki anak. Mereka tak harus memikirkan penghidupan orang lain kecuali dirinya sendiri. Sehingga, risiko yang ditanggung masih sangat kecil kalaupun terjadi kegagalan dalam berbisnis. Apalagi kalau orang tua mendukung pilihan berbisnis dan siap menolong saat terjadi kegagalan itu.

9. Budaya kolaborasi semakin kuat dan marak di bidang pekerjaan apa pun. Generasi Y dan Z dikenal sebagi generasi yang kuat dalam berkolaborasi satu sama lain. Mereka biasa mengerjakan hampir segala sesuatu bersama-sama dengan komunitas yang sebidang; membentuk berbagai start up bisnis, berdiskusi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, bahkan mendanai suatu proyek penting secara patungan. Semua ini sudah menjadi budaya sejak mereka masih bersekolah atau berkuliah, dan terus semakin kuat ketika mereka mulai menghasilkan uang. Kolaborasi banyak mendatangkan keuntungan dalam hal faktor resiko, pendanaan, ide kreatif, dan jejaring, apalagi dalam hal berbisnis.

Jika pertimbangan-pertimbangan ini juga Anda (atau anak Anda) yakini serta prioritaskan, jalur wirausaha patut menjadi pilihan.

Selain semua pertimbangan tadi, tentu ada faktor-faktor lain yang juga berperan. Contohnya: jenis kepribadian yang cenderung introvert (sehingga menyukai cara “aman” dan menggemari konsistensi rutinitas) atau cenderung ekstrovert (sehingga mudah bosan dan menyukai dinamika perubahan yang terus-menerus); bakat serta impian atau panggilan hati untuk berkarier di perusahaan daripada merintis bisnis/usaha sendiri; dan banyak lagi lainnya. Yang jelas, jalur berbisnis atau bekerja sebagai pegawai keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing; tidak ada yang lebih baik atau lebih unggul untuk semua orang dan semua situasi. Banyak juga orang yang berhasil di jalur karier atau profesi dan menanjak dari posisi pegawai pemulai hingga menjadi direktur perusahaan besar, selain banyak orang yang sukses makmur dengan bisnisnya. Apa pun pilihan yang akan diambil, hal yang paling penting supaya tidak salah jalan ialah meminta hikmat dan tuntunan Tuhan. Alhasil, pilihan itu memuliakan Tuhan yang kita percaya, kita selalu berjalan di jalan yang Tuhan tetapkan, dan kita akan mengalami umur panjang, kekayaan, dan kehormatan.

0

Marketplace, Ragam

Suka atau tidak suka, pekerja harus berhadapan dengan atasan langsung setiap hari, bahkan mungkin saja hampir 60% waktunya akan bersentuhan atau berinteraksi dengan sang atasan. Sayangnya, tidak semua orang bisa harmonis dan menikmati bekerja dengan atasan langsungnya.

Ada berbagai alasan orang tidak menyukai dan tidak bisa bekerja sama dengan atasannya, misalnya, atasannya cuek, atasan tidak bersikap adil, atasannya otoriter, dsb. Sering kali, alasan-alasan semacam ini membuat banyak orang menjadi tidak termotivasi dalam bekerja.

Dalam Perjanjian Lama, contoh yang serupa dialami oleh Daud. Daud diperlakukan tidak adil oleh atasannya, yaitu Saul. Menariknya, Daud memperoleh beberapa kali kesempatan untuk membalas kejahatan Saul dan dengan mudah dia dapat membunuh Saul, tetapi dia memilih untuk tetap menghormati atasannya. Bagi Daud, Saul tetaplah atasannya dan atasan adalah pemimpin yang Tuhan tetapkan atas dirinya. Selain itu, kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan atau dendam. Kejahatan hanya bisa dikalahkan oleh kebenaran, kebaikan, kelembutan dan kasih! “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” (Mat. 5:44).

Dalam Perjanjian Baru, Petrus mengajarkan juga untuk memiliki rasa hormat kepada atasan, “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis,” (1 Ptr. 2:18).

Bagi pekerja yang memiliki atasan, yang bisa kita sebut bawahan, ini berarti, tunduklah dan hormatilah atasanmu; bukan hanya atasan yang baik dan lemah lembut, tetapi juga atasan yang tidak adil, semaunya, bahkan kejam sekalipun. Berurusan dengan atasan-atasan yang demikian memang sangatlah tidak menyenangkan, tetapi daripada emosi Anda jengkel, kesal, dan Anda jadi kesulitan bekerja sama dengan sang atasan, sebenarnya ad acara-cara untuk Anda mengubah pola pikiran dan tindakan Anda sehingga Anda bisa bekerja sama lebih efektif dan berinteraksi dengan lebih bersahabat dengan atasan, tanpa rasa terpaksa. Mari kita simak satu per satu.

1. Amati mood atasan dan sesuaikan diri Anda
Bila dia sedang emosional dan berada dalam situasi tertekan, jangan terlalu banyak berkomunikasi dulu, apalagi untuk hal-hal yang sifatnya kurang serius. Jika perlu, jangan protes atau mengeluh dan jangan mengusulkan ide apa pun dalam situasi seperti ini, apalagi merengek-rengek minta naik gaji. Intinya, gunakan empati dan jangan menambah beban atasan.

2. Bantu kelola waktu dan prioritas atasan
Setiap pagi, ingatkan atasan tentang berbagai hal penting tentang tugas-tugas hari itu, termasuk usulkan jam berapa sebaiknya rapat atau harus bertemu dengan siapa dan untuk urusan apa. Dengan demikian, Anda menolong atasan mengelola waktunya, sekaligus menolong diri Anda sendiri menyelaraskan berbagai prioritas pada hari tersebut.

3. Tawarkan bantuan
Ketika Anda melihat atasan kelimpungan dengan berbagai beban tugas, tawarkan diri untuk membantu dia dengan tugas-tugas yang Anda sangat pahami/kuasai. Hal ini akan menciptakan penilaian positif dari atasan kepada Anda.

4. Tepati janji Anda
Jika Anda telah menyepakati deadline tertentu untuk menyelesaikan tugas dari atasan, berusahalah semaksimal mungkin untuk menepati janji Anda itu. Bila Anda menemui kesulitan yang membuat janji itu mungkin akan gagal, bertindaklah secara cepat untuk menemukan solusinya. Jika Anda tidak mendapatkan solusinya, secepatnya informasikan kesulitan yang tak terkendali ini pada atasan. Namun, sebelum mencari solusi pengganti dan/atau memberitahukan kegagalan Anda untuk menepati janji kepada atasan, pastikan bahwa ini adalah tingkat kesulitan yang tinggi dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.

5. Posisikan diri Anda sebagai problem solver
Hindari bolak-balik datang kepada atasan untuk mengabarkan setiap kesulitan Anda. Ingat, atasan adalah atasan dalam pekerjaan, bukan pengasuh Anda. Dalam seluruh pekerjaan Anda, Andalah yang harus menjadi problem solver, bukan atasan Anda. Setiap kali Anda menjumpai kesulitan, berusahalah untuk mengatasinya sendiri dulu. Bila Anda mengalami kebuntuan, carilah bantuan dari rekan kerja atau seseorang lain yang lebih berpengalaman. Kalau hal ini tetap tidak berhasil dan saat Anda membutuhkan keputusan atasan, barulah diskusikan masalahnya dengan atasan. Sebagai catatan, Anda perlu berdiskusi dengan membawa data, penjelasan masalah, dan ide solusi yang jelas, bukan asal bertanya dan meminta dicekoki atau didikte oleh atasan.

6. Berikan waktu Anda tanpa bersikap hitung-hitungan
Jika Anda tahu atasan akan datang jam 7.50, datanglah pada pukul 7.40. Datang 10 menit lebih awal menunjukan dedikasi Anda sebagai karyawan yang siap membantu. Demikian pula, di sore hari saat atasan meninggalkan kantor jam 17.30, tinggallah dulu sebentar dan barulah pulang sejenak setelahnya. Siapa tahu sang atasan membutuhkan bantuan tiba-tiba dari Anda di saat-saat Anda memberikan waktu lebih itu. Memberikan waktu tanpa hitung-hitungan sebenarnya adalah investasi poin positif tentang diri Anda sebagai pekerja, sehingga atasan melihat kualitas Anda yang bisa diandalkan.

7. Jangan lupakan status Anda
Mungkin Anda bingung, kadang-kadang sang atasan bisa tertawa terbahak-bahak, bersenda gurau dan terlihat sangat akrab, tetapi dalam hitungan menit dia bisa berubah menjadi tegas, marah-marah, atau bahkan menegur Anda dengan keras. Anda tidak perlu sakit hati atau bingung, karena atasan Anda pun manusia. Yang penting untuk Anda ingat adalah bahwa dia tetap atasan Anda, dan Anda adalah bawahannya. Dengan menyadari dan mengingat status ini, Anda tetap menjaga perilaku sebagai bawahan dan menghormati dia sebagai atasan yang berwenang. Jangan bertindak melewati garis wewenang, atau “ngelunjak”.

8. Belajarlah dari atasan
Jangan lupa, karena atasan Anda juga manusia, dia pun punya banyak kelemahan dan kekurangan. Jangan berfokus pada kekurangan dan kelemahan atasan, tetapi berfokuslah justru pada kekuatan dan kelebihannya, supaya Anda selalu bisa belajar darinya. Selain menguntungkan, hal ini juga akan mengurangi tingkat stres Anda.

9. Jangan berfokus pada atasan, tetapi pada prestasi Anda sendiri
Banyak orang menjadi patah semangat dan malas bekerja karena ulah atasan. Akibatnya, mereka gagal berprestasi. Orang-orang seperti ini biasanya punya prinsip, “Untuk apa saya bekerja keras dan berprestasi, toh atasan saya menyebalkan!” Padahal sebenarnya, sikap atau perilaku atasan dan kualitas kerja Anda adalah dua hal yang tidak perlu saling menentukan. Fokus dan urusan Anda haruslah bekerja dengan berprestasi, belajar berbagai keterampilan untuk masa depan Anda, dan terus melatih sikap kerja yang positif. Bila Anda memiliki fokus seperti ini, dalam jangka panjang daya saing Anda di pasar kerja akan semakin tinggi.

10. Jaga kredibilitas Anda di hadapan semua orang
Jaga kredibilitas Anda bukan hanya di hadapan atasan, tetapi juga di hadapan semua orang. Jika Anda mampu menjaga sikap, selalu jujur, selalu tepat janji, selalu bersikap positif, selalu berintegritas, memiliki disiplin diri yang kuat, dan lain-lain, bukan hanya atasan Anda yang melihat, tetapi semua orang di lingkungan kerja juga akan merasakannya. Dengan demikian, sebenarnya Anda sedang mengasah kualitas sebagai karyawan teladan, terlepas dari sikap atau perilaku atasan Anda. Alhasil, Anda akan tetap menjaga hubungan kerja yang positif dengan atasan.

Jadilah pekerja yang cerdas; jangan mudah terpancing dengan hal-hal negatif, dan kembangkan pola hubungan kerja sama yang positif dan efektif dengan atasan. Selamat mempraktikkan!

0

Marketplace, Ragam

Pada tahun 1871 di Wisconsin, Amerika Serikat, terjadi kebakaran hutan yang dahsyat. Api menyebar dengan cepat, membakar habis sekitar dua miliar pohon. Lebih dari 1.200 orang tewas. Di negara itu, sebelumnya tidak pernah ada kebakaran yang memakan korban sebanyak itu.

Penyebab kebakaran itu mengingatkan dan menunjukkan kebenaran dalam Alkitab. Kebakaran itu diduga awalnya tersulut oleh percikan api dari kereta-kereta yang melewati hutan; seperti yang digambarkan dalam salah satu ayat Alkitab: “Lihat! Betapa kecil api yang diperlukan untuk membakar hutan yang begitu besar!” (Yak. 3:5). Mengapa Yakobus berkata demikian?

Dalam penjelasannya, Yakobus mengibaratkan lidah dengan api yang percikan kecilnya mampu menghasilkan kerusakan dahsyat. “Lidah adalah api,” (Yak. 3:6). “Lidah” di sini artinya cara dan isi pembicaraan, atau perkataan yang keluar dari mulut manusia. Alkitab memberi tahu kita bahwa perkataan kita dapat berarti kehidupan atau kematian untuk orang lain (Ams. 18:21). Apakah itu berarti kita tidak usah berbicara sama sekali demi menghindari salah bicara dan kerusakan serius? Tentu saja tidak. Kita “hanya” perlu berhati-hati saat berkata-kata. Kita perlu mengerti kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Prinsip berhati-hati dengan perkataan ini berlaku di mana saja, termasuk di lingkungan kerja. Mari bayangkan beberapa situasi. Anda sedang marah besar. Karyawan yang baru mulai bekerja empat bulan lalu kini membuat sebuah kesalahan fatal. Akibatnya, salah satu klien penting Anda “ngamuk” dan hengkang dari bisnis Anda. Karyawan lain sering datang “beberapa” menit terlambat, bahkan kali ini selama enam hari berturut-turut. Karyawan yang lain lagi terus-menerus mengulangi berbagai kesalahan yang sama dan menjengkelkan setiap hari. Nah, apa sikap yang terbaik? Marah-marah atau sebaiknya diam saja?

Dari sisi sebaliknya, minggu lalu ketika atasan meminta pendapat Anda terhadap suatu masalah, Anda menyatakan setuju-setuju saja, padahal sebenarnya kepala Anda penuh dengan berbagai opini. Lalu, hari ini atasanAnda memutuskan menggunakan ide rekan kerja Anda, dan Anda menyesal tidak menyampaikan ide Anda (yang sepertinya lebih baik) kepada atasan saat ada kesempatan. Selain itu, seorang manajer datang kepada Anda dan “curhat” tentang seorang manajer lainnya yang akan dipecat oleh Direksi, sambil berkata bahwa “curhat” ini rahasia. Manajer lain yang akan dipecat itu sebenarnya masih terbilang kerabat Anda; dan siang itu ia makan siang bersama Anda sambil mengobrol. Ia mengeluhkan bahwa dirinya akhir-akhir ini sering dipersalahkan dalam pekerjaan. Sekali lagi, apa sikap Anda? Bagaimana Anda menyikapi situasi dengan atasan dan situasi dengan manajer yang adalah kerabat Anda itu? Lebih baik Anda diam atau berbicara?

Memang cukup sulit untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan kapan waktu yang tepat untuk diam. Kesadaran diri, persepsi, dan empati adalah pertimbangan kunci yang penting untuk membuat keputusan yang tepat. Secara umum, berikut ini adalah beberapa kiat yang akan membantu kita mengambil sikap yang tepat.

TETAPLAH DIAM, ketika :
1. Anda hanya sedang memecah keheningan. Kadang-kadang, orang berbicara hanya untuk memecahkan keheningan; dan ini kemudian memicu obrolan tak berarti atau bahkan gosip. Jangan merasa tidak enak ketika seseorang diam saja. Bisa jadi seseorang diam karena memang tidak ada sesuatu yang perlu dikatakan. Lakukan pembicaraan yang relevan dan bermanfaat, ini adalah kunci untuk mencapai kejujuran dan fokus.

2. Anda masih perlu waktu untuk memahami dan meyakini reaksi Anda. Dalam situasi yang emosional, seperti perdebatan dengan pasangan atau teman kerja, curahan isi hati yang penuh perasaan, dan sebagainya, selalu ada risiko Anda berespons dengan cara yang menyakitkan (agresif, menyinggung, disalahpahami, dll). Biasanya, kita perlu waktu lebih untuk memahami dan meyakini reaksi kita, demi mendapatkan perspektif yang benar. Karena itu, Anda mungkin perlu melangkah mundur dan mengamati sebelum bereaksi. Hal ini memungkinkan Anda mendengarkan intuisi dan menggunakan logika untuk menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dan memetakan reaksi Anda.

3. Tidak ada apa-apa yang relevan atau bermanfaat untuk dikatakan. Beberapa hal lebih baik tidak dikatakan. Hindari mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak relevan dan tidak bermanfaat. Misalnya, tidak perlu memberi tahu atasan bahwa menurut Anda penampilannya kurang fashionable dan selera makannya “aneh”, atau mengungkapkan pada orang lain informasi pribadi yang rekan Anda percayakan pada Anda. Berbicara dalam situasi-situasi semacam ini justru akan menjadikan Anda pribadi yang “banyak mulut”.

4. Orang lain jelas tidak mendengarkan. Kadang-kadang, seseorang sibuk dengan dirinya sendiri atau sekadar memang tidak mendengarkan kita. Tidak ada gunanya berbicara jika orang lain tidak mendengarkan Anda, karena pesan yang Anda coba sampaikan tidak akan didengar.

5. Masalah yang dihadapi berskala kecil, tidak penting, tidak akan terjadi lagi, dan tidak memiliki dampak yang signifikan. Dalam masalah-masalah seperti ini, sebaiknya Anda diam; berbicara justru akan cenderung merusak suasana dan hubungan.

6. Anda sekadar ingin membuktikan bahwa Anda-lah yang paling benar, padahal diskusi tidak mungkin terjadi. Yang terpenting dalam hampir setiap masalah adalah terjadi diskusi yang menyepakati solusi. Jika Anda menghadapi situasi ketika tidak ada peluang untuk diskusi seperti ini, sebaiknya Anda diam saja; tidak perlu memamerkan superioritas pendapat Anda demi membuktikan bahwa diri Anda benar. Percuma saja. Hal ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali menyulut pertengkaran yang tak perlu.

7. Anda tidak memiliki data atau bukti pendukung. Jangan berbicara mengenai suatu masalah atau kesalahan orang lain sampai Anda mengumpulkan semua informasi yang berguna untuk solusinya. Bila informasi dan data pendukungnya tidak lengkap, sebaiknya diam saja. Tak perlu berbicara.

BERBICARALAH, ketika:
1. Anda sedang melakukan “personal branding”. Penting sekali untuk Anda angkat bicara dan menunjukkan kualitas diri Anda secara sehat dan positif. Misalnya; dalam pertemuan dengan atasan, sampaikan berbagai usulan atau gagasan Anda yang brillian; saat ada kesempatan untuk menjadi panitia acara kantor, tampillah sesuai potensi Anda (jika perlu, jadilah ketua) dan sampaikan gagasan-gagasan Anda di hadapan banyak orang untuk “memasarkan” kekuatan dan kelebihan Anda.

2. Anda perlu mengungkapkan perasaan dan perasaan itu memang perlu diketahui orang lain. Untuk menjaga ketenangan, beberapa orang memendam emosi yang sebenarnya perlu diungkapkan. Misalnya, jika rekan Anda membuat komentar kurang enak mengenai diri Anda, ungkapkan keprihatinan tersebut; jangan memendam kesal diam-diam dalam kebencian. Perasaan buruk yang terus dipendam suatu saat dapat menjadi ledakan kemarahan tiba-tiba yang sulit dikendalikan.

3. Anda memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Jika kata-kata Anda dapat mengubah situasi menjadi lebih baik, Anda harus mengatakannya. Misalnya, jika rekan kerja Anda berkubang mengasihani diri sendiri setelah ia dimaki-maki atasan, Anda sebaiknya menunjukkan kepadanya sisi positif dari kehidupan untuk membantunya keluar dari depresi.

4. Sebuah peluang emas sedang mengetuk pintu. Kehilangan kesempatan emas akan sangat mengecewakan dan menjengkelkan, bahkan lebih parah lagi ketika sebenarnya Anda tahu Anda bisa mencegahnya. Kehilangan kesempatan bisa terjadi misalnya ketika Anda malu mengungkapkan ide-ide kepada atasan, dan kemudian atasan memilih ide rekan Anda yang tidak sebaik milik Anda atau rekan itu mendapat promosi karena ide-idenya yang mirip dengan ide-ide yang tidak pernah Anda ungkapkan. Ketika kesempatan datang, ambillah dengan berbicara.

5. Pendapat Anda diminta. Setiap orang memiliki pendapat. Jika seseorang meminta pendapat Anda, jangan takut menyampaikan hal itu dengan jujur dan bijak.

6. Tidak ada orang lain yang mau berbicara untuk mencapai solusi yang sudah jelas. Ini memang sedikit riskan, tetapi penting. Misalnya, salah satu rekan kerja memiliki masalah bau badan (atau terlalu sering terlambat, suka bergosip, dll) yang menganggu dan tidak ada rekan yang berani memberi tahu dia karena hal tersebut sensitif. Sebaiknya Andalah yang berbicara. Jadilah pihak yang memimpin dan mengerjakan solusi; jangan berdiam dalam kumpulan orang-orang yang menderita karena masalah dan tahu solusinya tetapi tidak mau mengerjakan solusi.

Diam adalah emas dalam situasi-situasi tertentu. Namun, ketika Anda harus berbicara dengan tegas dan jelas karena suatu situasi melibatkan hak atau perasaan yang diinjak-injak, dimintai pendapat penting, atau mengerjakan solusi; lakukanlah. Berbicaralah. Kemampuan untuk berbicara membutuhkan tingkat kepercayaan tinggi; tetapi seperti semua keterampilan lainnya, Anda hanya perlu berlatih untuk dapat menguasai keterampilan berbicara dengan lebih baik, lebih asertif, dan lebih efektif.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yak. 1:19)

“Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.” (Ams. 10:20-21)

“Ia yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, ia yang membuka lebar bibirnya, menuju kehancuran.” (Ams. 3:3)

0

Marketplace, Ragam

Jika jujur diakui, kebanyakan dari kita lebih cepat berkata-kata, lebih cepat menyampaikan maksud, lebih mudah berasumsi, ketimbang mencoba memahami orang lain. Kita lambat sekali dalam mendengar, dan lebih cepat dalam menghamburkan kata-kata yang belum tentu tepat atau benar. Hampir semua dari kita cenderung lemah dalam berkomunikasi.

Padahal, komunikasi yang efektif merupakan kunci terpenting dalam membangun hubungan baik antar setiap individu. Komunikasi yang efektif sangat bergantung pada keterampilan seseorang dalam mengirim maupun menerima pesan. Banyak proyek atau program perusahaan macet sebelum selesai karena masalah komunikasi yang kacau, dan kekacauan komunikasi ini paling sering muncul karena kurangnya keterampilan mendengarkan dalam berkomunikasi. Keterampilan mendengarkan seharusnya mengiringi keterampilan bertanya dalam komunikasi yang efektif. Sebaik apa pun keterampilan komunikasi seseorang, tanpa diiringi dengan kemampuan mendengarkan, keterampilan komunikasi itu tidak akan efektif.

Kemampuan mendengarkan secara efektif berarti proses menyimak dan memahami secara aktif untuk mendapatkan informasi dan pesan inti yang disampaikan secara objektif. Bagaimana melakukannya? Berikut ini delapan kiat praktis untuk melatih kemampuan mendengarkan secara efektif di lingkungan kerja.

1. Jaga kontak mata dan berkonsentrasilah sambil mendengarkan

Ketika menyimak perkataan orang lain, jangan lakukan berbagai aktivitas seperti memeriksa ponsel, menengok layar komputer, mencari dokumen di laci, atau melamun/memandang keluar jendela. Melakukan hal-hal ini berarti Anda tidak berfokus atau berkonsentrasi pada apa yang orang itu katakan. Sama seperti ketika berbicara kepada anak Anda, sebagai orang tua Anda mungkin sering mengajarkan, “Lihat Papa/Mama waktu Papa/Mama berbicara,” Anda sendiri pun perlu melakukan hal yang serupa. Kontak mata adalah bahan dasar komunikasi yang efektif. Saat terjadi kontak mata, Anda berkonsentrasi, menghormati, dan memperhatikan lawan bicara Anda.

2. Dengarkan dengan pikiran terbuka

Dengarkan tanpa menilai orang lain, berasumsi, atau menghakimi. Dengarkan tanpa terburu-buru menyimpulkan. Ingatlah bahwa lawan bicara Anda menggunakan bahasa untuk mewakili pikiran dan perasaan di dalam otaknya. Anda tidak tahu apa pikiran dan perasaan itu, dan satu-satunya cara Anda bisa mengetahuinya adalah dengan menyimak apa yang dia sampaikan. Lakukanlah self-talk yang positif, misalnya, “Saya ingin memahami apa sudut pandangnya,” “Saya penasaran apa yang ingin ia sampaikan,” atau “Pasti ada sesuatu yang saya bisa pelajari dari pembicaraan ini.”

3. Jangan menginterupsi

Anak-anak sejak kecil biasa diajarkan bahwa tidak sopan untuk menginterupsi ketika ada orang lain yang sedang berbicara. Pesan ini juga berlaku untuk kita terapkan di lingkungan kerja. Bila seseorang sedang menyampaikan ide-idenya, biarkan dia berbicara hingga selesai tanpa interupsi. Bagian Anda sebagai pendengar yang efektif adalah menyimak, bukan menginterupsi. Menginterupsi menyampaikan pesan yang negatif: “Saya dan ide saya lebih penting daripada Anda dan ide Anda,” “Apa yang harus saya katakan lebih menarik, akurat, atau relevan daripada ucapan Anda,” “Saya benar-benar tidak peduli apa yang Anda pikirkan,” atau “Saya tidak punya waktu untuk pendapat Anda.”
Jika lawan bicara Anda memiliki gaya komunikasi yang agak lambat, banyak berhenti atau jeda, atau berputar-putar sehingga sangat dibutuh waktu untuk mencerna pesannya, justru itulah kesempatan Anda melatih kesabaran dan empati Anda. Setiap orang memang punya kelemahan dan kekuatan, dan sama seperti diri Anda sendiri dengan segala kelemahan dan kekuatan Anda.

4. Jangan memaksakan “solusi” Anda

Ketika mendengarkan seseorang berbicara tentang suatu masalah, jangan langsung menyarankan solusi yang “menurut Anda”. Bila Anda ingin memenangkan atau memengaruhi seseorang untuk melakukan apa yang inginkan (dalam konteks positif), ajaklah orang itu berdialog menggunakan berbagai pertanyaan yang mendorongnya memikirkan beberapa opsi dan berbagai sudut pandang. Anda perlu berusaha “memenangkan hati” lawan bicara, bukan mendominasi pembicaraan dengan menggurui atau memaksa. Jika ternyata orang itu tidak melakukan opsi yang menurut Anda tepat dan merupakan solusi, jangan memaksakan solusi Anda. Biarkan lawan bicara Anda menentukan sendiri mana opsi yang terbaik menurut dirinya, karena solusi yang dipaksakan bukanlah solusi baginya.

5. Pastikan kembali pemahaman Anda

Pertanyaan klarifikasi dan parafrase merupakan dua teknik yang sangat berguna dalam hal ini. Kadang, pemahaman kita akan pesan yang disampaikan seseorang berbeda dengan pesan yang dimaksud orang itu. Maka, adalah bijak untuk Anda selalu memastikan kembali pemahaman Anda setelah mendengar lawan bicara. Ketika Anda tidak atau kurang memahami sesuatu, tentu saja Anda harus bertanya kembali. Sebaiknya tunggu sampai pembicara berhenti atau mengambil jeda dari berbicara, lalu ajukan pertanyaan dan lakukan klarifikasi, misalnya, “Maaf, saya belum mengerti apa yang baru saja Anda katakan tentang … Bolehkah Anda membantu saya menjelaskannya lagi?” atau “Saya coba ulangi ya, yang Anda maksud adalah… Apakah pemahaman saya ini sudah benar?” Pertanyaan klarifikasi semacam ini menunjukkan bahwa kita menghormati lawan bicara dan sungguh-sungguh ingin memahami pesannya. Selain itu, gunakan teknik parafrase, yaitu menyampaikan kembali maksud yang Anda tangkap menggunakan kata-kata Anda sendiri. Teknik-teknik ini sederhana tetapi sangat ampuh untuk memastikan kembali pemahaman Anda sekaligus menyamakan persepsi tentang pesan yang sednag dikomunikasikan.

6. Cobalah berempati dan gunakan sudut pandang lawan bicara

Sambil mendengarkan, cobalah tempatkan diri dan perasaan Anda pada sudut pandang lawan bicara Anda. Tangkap posisi dan situasi lawan bicara melalui berbagai ekspresinya, lalu ekspresikan hal-hal yang sama secara tulus melalui mimik muka dan bahasa tubuh serta kata-kata Anda ketika menanggapi. Dengan cara ini, Anda menunjukkan diri sebagai berada di pihak lawan bicara dan dia pun akan merasa aman dan dipahami. Alhasil, lawan bicara pun semakin terbuka mengungkapkan pesan yang sungguh-sungguh ingin disampaikannya dan Anda pun jadi semakin mudah memahaminya.

7. Perhatikan pesan yang tidak terkatakan

Selanjutnya, Anda tidak cukup hanya menyimak apa yang lawan bicara katakan dari mulutnya. Anda juga perlu memperhatikan ekspresi wajah (tegang, tersenyum, dingin, sedih, dsb.), intonasi suara (parau, meninggi, semakin lambat, semakin keras, dsb.), serta bahasa tubuhnya (sikap tubuh kaku, tiba-tiba berdiri, mengepalkan tangan, diam tanpa gerakan, dsb.). Secara statistik, komunikasi nonverbal mengandung hingga 60% makna pesan dalam komunikasi antarpribadi. Artinya, semua hal pada lawan bicara Anda menyampaikan pesan tertentu, meski tak terkatakan melalui ucapan. Kemampuan kita membaca dan memahami pesan-pesan yang tak terkatakan dalam berkomunikasi akan sangat bermanfaat dalam proses berkomunikasi, karena membuat kita semakin terampil mendengarkan dengan efektif.

8. Tutup percakapan dengan kesimpulan ringkas

Ketika saling berkomunikasi, sebaiknya Anda selalu menutup proses percakapan dengan kesimpulan yang meringkas seluruh inti pesan yang disampaikan. Hal ini secara khusus penting dalam percakapan-percakapan yang berujung pada keputusan, kebijakan, atau kesepakatan yang mengandung implikasi atau penerapan di waktu selanjutnya. Menyimpulkan dan meringkas kembali tidak hanya akan memastikan tindak lanjut yang akurat, tetapi juga memberikan keyakinan dan kepastian bagi kedua belah pihak bahwa pesan yang disampaikan telah dipahami.


“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Yak. 1:19-20
0

Marketplace, Ragam

Suatu hari kelak, mungkin Anda akan mendapatkan promosi jabatan dan diminta untuk memimpin karyawan lain yang usianya lebih tua atau pengalaman kerjanya lebih luas/panjang daripada Anda. Biasanya, situasi semacam ini memunculkan ketakutan, stres, kecemasan, khawatir, atau tegang.

Dalam budaya timur, termasuk di konteks pekerjaan, seorang pemimpin yang lebih muda dari karyawannya harus bekerja ekstra keras untuk membangun kepercayaan dari mereka karena senioritas sering kali masih dijunjung tinggi. Lalu, bagaimana cara menghadapi situasi ini?

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk selalu meminta hikmat-Nya, dan ini berlaku pula saat kita harus memimpin karyawan yang lebih senior. Galatia 6:10 secara khusus memperingatkan agar kita tidak jemu melakukan hal yang baik (termasuk kepada karyawan senior yang kita pimpin, meskipun mungkin dia/mereka menyebalkan dan “sok tahu”), supaya kita bisa menuai hasil yang baik pula di kemudian hari.

Berikut adalah beberapa kiat yang bisa Anda lakukan agar hubungan profesional Anda dengan karyawan Anda yang lebih senior tetap efektif dan bermanfaat maksimal bagi pekerjaan:

1. Ingat status dan posisi masing-masing

Pertama-tama, sadarilah bahwa ketika Anda dipromosikan menjadi seorang pemimpin, Anda sudah diberikan wewenang untuk mengatur atau mengelola siapa pun yang berada di bawah kepemimpinan Anda. Karena itu, jangan terjebak di dalam perasaan khas para pemimpin muda: inferior, tidak percaya diri, tidak mampu, sungkan, dsb. Tetapkan pikiran Anda:

  • Saya adalah pemimpin mereka.
  • Saya sudah diberikan wewenang penuh oleh perusahaan untuk memimpin mereka.
  • Saya harus menggunakan wewenang saya untuk memimpin mereka masing-masing, termasuk yang sulit dan tidak kooperatif.

2. Buang paradigma yang salah: “harus selalu menuruti perintah orang yang lebih tua”

Dalam budaya timur seperti di Indonesia, kita sejak kecil sudah diajarkan untuk menghormati orang tua yang lebih tua. Sayangnya, sering kali ajaran ini diterjemahkan menjadi “harus selalu menuruti perintah orang yang lebih tua”, tanpa peduli masing-masing pihak benar atau salah, yang lebih muda harus menghormati dan menaati yang lebih tua tanpa membantah sama sekali. Argumentasi apa pun di luar ini pun dianggap kurang ajar, termasuk di lingkungan atau situasi kerja. Buang paradigma ini dan gantikan dengan kebenaran:

  • Saya harus menghormati siapa pun di pekerjaan, baik muda maupun tua.
  • Menghormati orang lain bukan berarti saya harus menuruti dan tunduk kepada hal-hal negatif dari orang itu.
  • Saya harus menggunakan wewenang saya sebagai pemimpin untuk mengatur perilaku tidak kooperatif pada karyawan, baik yang lebih muda maupun lebih tua daripada saya.
  • Saya harus bersikap tegas (meskipun ini bukan berarti saya marah-marah) terhadap karyawan senior yang tidak mau mengikuti aturan pekerjaan atau yang tidak kooperatif dengan kepemimpinan saya.

3. Jangan percaya begitu saja kepada stereotipe

Sebagai pemimpin, mungkin Anda menilai bahwa karyawan senior cenderung tidak memiliki keahlian yang terbaru dan malas untuk mempelajari hal-hal yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun sesungguhnya, ini adalah stereotipe, yaitu pandangan umum (yang bisa saja salah). Banyak dari karyawan senior di berbagai perusahaan tetap bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru walaupun posisi mereka sudah “mentok”. Selain itu, biasanya karyawan senior juga memiliki segudang pengalaman yang berharga karena mereka telah melakukan pekerjaannya jauh lebih lama daripada Anda. Intinya, jangan terlalu cepat memercayai stereotipe; kenali masing-masing karyawan senior yang Anda pimpin dan maksimalkan potensi mereka untuk tim kerja.

4. Bersikaplah rendah hati selalu

Walaupun Anda lebih muda dan sudah menjadi seorang pemimpin, Anda tidak akan pernah bisa bekerja sendiri dan meraih target dengan maksimal tanpa bantuan tim; dan di dalam tim itu ada mereka, karyawan-karyawan senior. Lagipula, Anda juga tidak akan bisa meraih rasa hormat yang tulus dari mereka tanpa menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang rendah hati. Pastikan Anda selalu bersikap rendah hati dan jauhkan sikap sok pintar atau sok tahu yang sombong.

5. Sampaikan ekspektasi Anda dengan jelas

Sekali lagi, Anda adalah pemimpin, yang berhak bahkan punya wewenang untuk mengemudikan arah gerak tim kerja. Sampaikan ekspektasi Anda kepada tim dengan tegas, jelas, dan percaya diri; dengan merumuskan bagian masing-masing anggota tim serta alur kerja di dalam tim secara mendetail. Meskipun karyawan Anda lebih senior, hindari kata-kata “mohon maaf” atau “sebenarnya saya tak enak hati” atau semacamnya saat Anda menyampaikan ekspektasi itu. Ingat, Anda sedang melakukan tanggung jawab Anda memimpin mereka, maka Anda tidak perlu sungkan. Sampaikan berbagai ekspektasi Anda kepada karyawan senior, misalnya:

  • Saya akan memperlakukan siapa pun di bawah saya, baik yang muda atau yang senior, dengan perlakuan yang sama.
  • Saya minta semua anggota dalam tim kita ini saling menghormati. Saya menghormati Anda sebagai team player bersama saya, dan saya juga minta Anda menghormati saya sebagai koordinator tim.
  • Saya mengharapkan pengalaman dan pandangan Anda sebagai karyawan yang lebih senior, sebagai kontribusi yang bermanfaat bagi tim kita.

6. Terbukalah terhadap saran dan kritik

Kelola tim kerja Anda, termasuk karyawan-karyawan senior, dengan rasa percaya diri, tetapi tetap izinkan mereka menyampaikan ide, saran atau bahkan kritik terhadap tim dan terhadap Anda. Bersikaplah terbuka terhadap masukan. Jika ide, saran, dan kritik mereka itu baik dan membangun, terimalah dan terapkan ide/saran/kritik itu. Sebutkan nama mereka dan kontribusi masukan mereka itu di hadapan seluruh tim kerja sebagai suatu bentuk penghormatan dan pengakuan. Dengan cara ini, Anda meraih rasa hormat dan percaya dari mereka, sehingga mereka akan semakin kooperatif. Namun, Anda harus mempertimbangkan setiap masukan sebelum memutuskannya. Keputusan akhir tetap berada di tangan Anda sebagai pemimpin; Anda tidak wajib melakukan setiap masukan.

7. Budayakan saling membantu dalam tim

Pada umumnya, karyawan senior senang menceritakan pengalaman mereka dan memberikan sedikit nasihat kepada mereka yang lebih muda. Adopsi pandangan mereka jika cocok untuk tim, atau setidaknya pertimbangkan dan tampung saja jika ternyata tidak cocok. Di sisi lain, Anda sebagai pemimpin juga wajib menolong, melatih, dan memfasilitasi mereka agar tetap updated dalam keahlian dan wawasan. Perpaduan nasihat dan pengalaman mereka dengan keahlian dan wawasan Anda tentu akan menghasilkan manfaat yang amat positif bagi tim kerja. Sekali lagi, janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik. Selamat berbuat baik dan menuai hasilnya!

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 4NO NEW POSTS
Skip to toolbar