POSTS
16
September 2019
Berakar Dalam Dia
16
September 2019
Matius 26:69-70
16
September 2019
ENLIGHTEN IN PURITY
15
September 2019
Profil Peneliti Firman
15
September 2019
Matius 4:18-19
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 15:1-5
  Sekalipun telah diberikan pengertian tentang hadirat Allah, tetapi pada praktiknya terkadang kita masih saja terpola pada kebiasaan lama dan kebanyakan di antaranya masih berpikir perlu untuk melakukan beberapa usaha dengan hikmat manusia, guna menghadirkan Hadirat kerajaan-Nya di tengah-tengah persekutuan kita, kalau kita berpikir demikian, bahwa Tuhan tertarik dengan kemampuan serta kehebatan kita, apa bedanya kita, dengan para penyembah berhala? Penyembah Allah adalah pribadi- pribadi yang memahami persis bagaimana tinggal di Hadirat-Nya, seperti yang sudah dipelajari pada materi meditasi firman yang lalu, bahwa hadirat Allah adalah perjumpaan dengan pribadi Yesus, pengenalan awal yang membawa kita mengalami ʻpembenaranʼ lewat pengorbanan Kristus dikayu salib. Semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, Kristus datang untuk memperdamaikan kita dengan Allah Bapa, oleh iman supaya kita beroleh persekutuan dengan-Nya (Roma 3:23-25). Pemazmur katakan, Siapakah yang boleh berdiam di gunung Allah yang kudus? Adalah orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil serta mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.   Jadi ciri-ciri yang jelas terlihat dari pribadi yang tinggal di hadirat Allah : perubahan hidup, kehidupannya telah diperbaharui dan terus bertumbuh semakin serupa dengan gambaran Kristus (2 Korintus 3:18b).   Orang yang berdosa tentu, tidak akan betah ketika tinggal dalam hadirat Allah. Kekudusan dalam hadirat-Nya bukanlah tempat untuk dosa sekecil apa pun, itu sebabnya dalam Mazmur 24: 3-4 katakan,   ʼSiapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Sebuah syarat yang berlaku dan diletakkan di hadapan kita semua yang telah menerima anugerah-Nya, untuk menguji keberadaan kita, apakah kita didapati layak untuk berdiam di tempat Allah yang Maha Tinggi? adalah ʻOrang yang bersih tangannya dan yang murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan dan yang tidak bersumpah palsuʼ demikian tertulis dalam nas di atas. Di dalam doa dan pengakuan dosanya, Raja Daud berseru, ʻKasihanilah aku ya Allah, hapuskanlah pelanggaranku, bersihkanlah aku dari kesalahanku, sebab aku sadar akan kesalahanku, jadikan hatiku tahir dan perbaharuilah batinku, jangan membuang aku dari hadapanMu, bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari padaMu (Mazmur 51:1-15). Begitu mahal dan berharga keberadaan kita di hadirat Allah, seharga kematian Kristus di kayu salib, akankah kita menganggap rendah dan sepele semua pengorbanan yang telah dilakukan-Nya bagi kita?
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah sesungguhnya syarat orang yang tinggal dalam hadirat-Nya?
  2. Refleksikan diri saudara, bagaimanakah keadaan saudara dihadapan Allah.
  3. Sungguhkan saudara rindu menjadi pribadi yang selalu menyadari dan tinggal dalam hadirat Kerajaan-Nya? Katakanlah kepada Tuhan dan bagikan kepada keluarga, kompak/komunitas dan saling mengingatkan.
Topik Doa:
Jadikan Mazmur 15 ini sebagai doa saudara, dan kata ʻdiaʼ dapat saudara ganti dengan nama saudara.

0

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 51:1-21
  Dalam Yesaya 59:2 katakan, ʻtetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan ALLAH-mu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat DIA menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga IA tidak mendengar, ialah segala dosamu.ʼ Dosa manusia telah menjadi penghalang dan penyebab utama sehingga kita terpisah dari Hadirat Allah serta tidak mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Dalam dua hari ini kita sudah membahas sedikit banyak penghalang-penghalang tersebut, akan tetapi bagian terpenting dari semuanya adalah bagaimana kita hidup dan memiliki pengertian yang benar untuk tinggal di hadirat Allah terus menerus serta mendapatkan perkenanan-Nya. Perkenanan Tuhan pada hakikatnya didapat bukan dari jerih lelah dan usaha manusia, akan tetapi sebuah pemberian dari Allah melalui pengorbanan Kristus dan iman kita di dalam Kristus, siapa pun saudara dan dari latar belakang mana pun kita berasal. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).   Raja Daud sebagai pribadi yang mendapatkan perkenanan Tuhan, adalah nenek moyang dari Yesus, karenanya sering kali Yesus juga disebut sebagai ʻanak Daudʼ. Ketika ditegur oleh nabi Natan karena dosa perzinahan dengan Batsyeba, bahkan pembunuhan terhadap Uria, suami dari Batsyeba (2 Samuel 12:1-7), Daud menghampiri bait Allah, mengakui, menyesali dan tidak menyembunyikan perbuatannya yang jahat (Mazmur 51). Hatinya yang lembut, dan mudah bertobat, adalah respons hati yang selalu diinginkan Allah, setiap kita pun tidak luput dari banyak pelanggaran, tetapi sikap hati yang mau berubah dan tidak menjauh dari Hadirat-Nya adalah sikap yang Tuhan rindukan. Perjumpaan dengan Pribadi Allah yang Kudus di dalam hadirat-Nya secara otomatis akan menyucikan dan memperbaharui kehidupan kita, sehingga kita memperoleh kembali kelayakan serta perkenanan dari Tuhan.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang saudara lihat dari Daud terkait perkenan Allah? Sikap seperti apakah yang saudara pelajari dari hidup Daud?
  2. Masih adakah hal-hal yang saudara sembunyikan dalam hidup saudara? Masihkah saudara rindu perkenanan Allah? Seperti yang telah Daud lakukan, lakukanlah hal serupa bagi diri saudara kepada Allah dan terimalah perkenanan Allah.
  3. Bagikan apa yang saudara alami dalam hal perkenanan Allah ini kepada keluarga, kompak/komunitas. Dan berkomitmen untuk tetap tinggal dalam perkenanan dalam hadirat-Nya.
Topik Doa:
Lepaskan dengan iman berkat bagi tempat saudara berada, dan berdoalah agar setiap orang yang saudara jumpai merasakan perkenanan Allah melalui hidup saudara.

2

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 103:1-22
  PENGHALANG KEEMPAT adalah : PENGENALAN ALLAH YANG KELIRU (Yohanes 4:22-24). Seseorang yang tidak mengenal Allah sering kali menggambarkan Allah dengan gambaran yang keliru, padahal Allah telah mewahyukan diri-Nya sebagai Bapa yang penuh kasih seperti bapa jasmani yang baik yang kita kenal dalam keluarga kita. Sayangnya banyak didapati, bapak-bapak jasmani ternyata tidak memberikan figur yang penuh kasih dan perhatian seperti yang Allah Bapa inginkan. Oleh karenanya kita memerlukan pemulihan hati Bapa yang akan membuat kita semakin melekat dihati-Nya.   PENGHALANG KELIMA adalah : HATI YANG TERTUDUH (1 Yohanes 3:19-22). Seseorang yang merasa tidak layak berada di Hadirat Allah karena kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya bahkan tidak menyadari bahwa ada pengampunan yang diberikan Allah buat pribadinya ketika mengaku dosa. Perasaan bersalah dan tertuduh adalah tempat bagi iblis untuk melemahkan serta menjauhkan kita dari Hadirat Allah.   PENGHALANG KEENAM adalah : TIDAK MENGERTI KUNCI MASUK HADIRAT ALLAH (Ibrani 8:10). Seseorang yang tidak memahami kunci untuk masuk ke dalam Hadirat Allah, menganggap masuk ke hadirat-Nya karena sikap tubuh tertentu, ruangan tertentu, musik tertentu, lagu tertentu atau aturan pujian tertentu. Padahal kunci masuk ke dalam Hadirat Allah adalah oleh karena pengorbanan Yesus ketika disalibkan dan oleh karena darah Yesus yang memberikan kelayakan serta keberanian untuk kita menghampiri takhta kasih karunia Allah untuk menerima persekutuan dengan-Nya selamanya.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang disingkapkan Allah dalam mazmur 103 ini kepada saudara?
  2. Penghalang apakah yang masih menjadi penghalang saudara? Kembali ceritakan secara terbuka kepada keluarga, kompak/komunitas saudara dan saling mendoakan. Percayalah ketika saling terbuka dan mendoakan kebebasan akan terjadi, karena saat 2-3 orang berkumpul dalam nama-Nya, Tuhan hadir!
  3. Tuliskan komitmen saudara, dan berdoalah minta Roh-Nya memimpin hidup saudara dan hiduplah sebagai pribadi yang lebih dari pemenang karena kita telah senantiasa tinggal dalam hadirat Kerajaan-Nya.
Topik Doa:
Berdoalah agar kuasa kerajaan Allah terjadi dan nyata melalui hidup saudara.

0

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 50:1-23
Banyak penghalang baik dari dalam maupun dari luar ketika kita berupaya untuk tinggal dalam Hadirat Allah, penghalang-penghalang tersebut terkadang menghalangi pandangan dan ekspresi kasih kita kepada pribadi Allah serta berusaha untuk menjauhkan kita dari Hadirat-Nya, yang pada gilirannya membuat kita tidak memiliki lagi hubungan yang intim dan penuh kasih mesra dengan Allah. Menyingkirkan faktor-faktor penghalang, akan membuat kita bertumbuh maksimal didalam keintiman, dan pengenalan akan Allah yang benar, agar doa serta penyembahan yang kita naikkan, tidak lagi terhalang bahkan menjadi dupa yang semerbak dan harum di Hadirat-Nya. PENGHALANG PERTAMA, adalah : TIDAK MEMILIKI IMAN UNTUK PERCAYA (Ibrani 11 : 6). Seseorang yang tidak memiliki iman biasanya juga tidak memiliki kesadaran akan Hadirat-Nya dan tidak memahami keberadaan Allah yang “omni present”, dia baru akan percaya akan kehadiran Allah, jikalau melihat manifestasi-manifestasi yang terjadi, contoh: gemetar (dia berpikir di gereja kami kalau lawatan terjadi selalu dengan gemetar). Kita harus percaya dengan iman bahwa Allah ada, dan Allah memberi upah bagi orang sungguh-sungguh mencari Dia. PENGHALANG KEDUA adalah : TIDAK DATANG DENGAN SEGENAP HATI. Seseorang yang berkata bahwa ia mengasihi Allah dengan segenap hatinya tetapi dalam perbuatannya sama sekali tidak menunjukkan kasihnya kepada Tuhan, walaupun mungkin ia tetap hadir di dalam ibadah, tetapi hidupnya terus berkompromi dengan kedagingan dan keduniawiannya. Dalam 2 Tawarikh 25:2 mengatakan bahwa Raja Amazia telah melakukan apa yang benar di mata Tuhan tetapi tidak dengan segenap hati. Perbuatan setengah hati, artinya tidak sama sekali. Jikalau kita mengasihi Allah hendaklah kita mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan kita (Lukas 10:27). PENGHALANG KETIGA adalah : HATI YANG MENYEMBAH BERHALA (Lukas 16:13-14). Apa saja yang kita sayangi melebihi kasih kita kepada Kristus, itu berpotensi menjadi berhala. Sebut saja hal itu adalah: hobi, pekerjaan bahkan pelayanan atau bentuk-bentuk keterikatan lainnya (handphone, media sosial, televisi, makanan/minuman, dan lain-lain), apalagi sekali-sekali masih terlibat dengan praktik perdukunan/okultisme, hal ini jelas-jelas menjadi kejijikan di hadapan Allah, Allah ingin pribadi-Nya menjadi nomor satu dihidup kita dan tidak ada sesuatu apa pun yang boleh menggantikan-Nya. Dia adalah prioritas dalam hubungan kita melebihi siapa pun atau apa pun.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Hal apakah yang Allah katakan tentang Pribadi-Nya dalam firman Mazmur 50 ini? Tuliskan!
  2. Dari 3 penghalang ini, hal manakah yang masih menjadi penghalang saudara? Terbukalah kepada keluarga, kompak/komunitas saudara dan saling mendoakan. Ketika kita saling terbuka kerajaan Allah ditegakkan dalam hidup saudara!
  3. Bersediakah saudara menyerahkan diri saudara sepenuhnya kepada Allah? Datanglah kepada Allah, akuilah keberadaan saudara dan katakan komitmen saudara.
Topik Doa:
Berdoalah bagi lingkungan saudara, deklarasikan iman saudara bahwa di mana pun saudara berada kerajaan Allah hadir.

3

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 100:1-5
Masuk ke dalam Hadirat Allah memerlukan kunci untuk membuka serta menyingkapkan rahasia untuk tinggal didalamnya. Musik yang megah atau aturan pujian tertentu bukanlah kunci yang sesungguhnya. Mazmur 100:4 katakan ʻMasuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, kedalam pelataran-Nya dengan puji-pujian..!ʼ Kata ʻdenganʼ memiliki arti: beserta; bersama-sama. Jadi bibir yang dipenuhi dengan ucapan syukur, puji-pujian dengan alunan aransemen musik yang indah dalam ibadah, adalah bagian dari ekspresi penyembahan dan hadiah terbaik yang kita bawa masuk ʻbersama-samaʼ dalam hadirat-Nya. Sedangkan Kunci untuk masuk kedalam hadirat-Nya dapat ditemukan dalam Ibrani 10:19, ʻJadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.ʼ Dalam nas di atas, Kata ʻolehʼ adalah kata penghubung yang menandai pelaku, atau dengan kata lain merujuk kepada subjek, atau akses satu-satunya yang harus kita jalani menuju ke tempat kudus Tuhan. Jadi oleh darah Yesuslah yang memberikan kita keyakinan dan keberanian penuh untuk menghampiri takhta kasih karunia Tuhan (Ibrani 4:16), karena Kristus telah memberi ʻgaransiʼ, sebuah jaminan oleh diriNya sendiri, supaya kita dapat masuk dan memiliki persekutuan dengan Allah, lewat darah dan pengorbanan-Nya, sebagai kunci dan jalan yang baru, dan yang hidup bagi kita, menuju ke ruang maha kudusnya Tuhan.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Ketika kita menyadari bahwa oleh darah Yesus kita masuk hadirat-Nya, namun dengan ekspresi apakah yang harus kita lakukan ketika kita masuk hadirat-Nya?
  2. Apakah ekspresi saudara selama ini telah demikian (dimana saudara selalu tinggal di dalam hadirat-Nya)?
  3. Bagaimana komitmen ekspresi saudara saat ini setelah saudara menyadari bahwa selalu tinggal dalam hadirat-Nya? Sungguhkah saudara ingin selalu berekspresi sesuai dengan Firman Tuhan katakan? Bagikan komitmen saudara kepada keluarga, kompak/komunitas saudara.
Topik Doa:
Ucapkan dan ekspresikan penyembahan saudara dan penuhi tempat di mana saudara berada dengan hal penyembahan dan percayalah kerajaan Allah berdaulat di tempat tersebut.

5

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 33:1-22
Tidaklah mudah memang membangun “Kesadaran akan Hadirat Allah”. Kesadaran akan hadirat-Nya adalah sebuah situasi di mana kita menyadari bahwa Allah senantiasa ada, dan beserta dengan kita, ke mana dan di mana pun kita berada. 1 Korintus 3:16 mengatakan “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Allah yang “omni present” berdiam sepenuhnya di dalam hati dan memagari hidup kita di dalam anugerah-Nya yang besar. Kecenderungan hati manusia yang mudah berubah bahkan sering kali melupakan dan tidak menyadari akan keberadaan hadirat Allah, membuatnya mudah terjatuh di dalam pencobaan. Tetapi kesadaran akan keberadaan Allahlah yang akan memampukan kita berkata “tidak” ketika kita dicobai, kesadaran akan kehadiran Allahlah yang akan membuat kita tidak mudah untuk berkompromi dengan dosa. Mazmur 33:18 katakan, “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya”. Jikalau mata Tuhan terus berjaga atas kehidupan kita, dapatkah kita melupakan kehadiran-Nya, walau sejenak? Beberapa orang sering kali memiliki konsep yang salah dan kerap berpikir bahwa Hadirat Allah hanya ada di ruang gereja tertentu, di mana kita beribadah setiap minggu, atau termanifestasi lewat hamba-hamba Tuhan tertentu yang terkenal penuh pengurapan, bahkan melalui pola penyembahan tertentu saja, baru kita dapat merasakan kehadiran-Nya. Padahal memahami dan mengalami Hadirat Allah, sangat sederhana, yaitu ketika kita memiliki kesadaran yang terus menerus dibangun di dalam pikiran dan akal budi, bahwa Allah tinggal dan berdiam senantiasa di dasar hati setiap kita, dan ke mana pun kita bergerak, di mana pun kita akan pergi, kita akan selalu membawa Hadirat-Nya (Mazmur 139:7-8). Firman-Nya dalam Yeremia, katakan “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yeremia 31 : 33), Siapakah yang dapat membutakan mata hati kita, jikalau kehadiran firman-Nya telah menjadi terang yang menepis segala kegelapan?
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang saudara dapatkan tentang Pribadi Allah dalam Mazmur 33 ini?
  2. Seberapa besar kekaguman saudara selama ini kepada Allah? Seberapa besar kesadaran saudara pula kepada Allah yang nyata melalui hadirat-Nya? Berdiam dirilah sejenak sambil memejamkan mata, mulai ucapkan kekaguman saudara dan asakan hadirat-Nya.
  3. Ceritakan pengalaman yang saudara alami sewaktu berdiam diri dan merasakan hadirat-Nya ini kepada keluarga, kompak/komunitas dan saling membangunlah untuk tetap menyadari hadirat Kerajaan-Nya.
Topik Doa:
Ucapkanlah bahwa hadirat kerajaan Allah ada di sini, ada di tempat ini dan deklarasikan iman saudara.

6

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-2, RENUNGAN
Mazmur 139:1-12
Dalam bacaan hari ini, Daud menceritakan kepada kita pengalamannya bersama Allah. Hadirat Allah yang adalah anifestasi kehadiran Allah di tengah-tengah kita, ada dimana-mana, baik di surga, di bumi, diantara umat-Nya bahkan di seluruh alam semesta, karena Allah adalah pribadi yang “Omni Present”, Maha Hadir. Demikian pula Ia ada pada masa lalu, masa sekarang, bahkan sampai pada masa yang akan datang, dari kekal sampai kekal; Dia tidak terbatasi oleh waktu. Dalam Ibadah-ibadah korporat maupun penyembahan secara pribadi, kita sering kali terkecoh dengan suasana yang dramatis dan romantis dalam alunan musik yang mengalir begitu rupa, sehingga menggugah serta menyentuh emosi, dan sekilas mungkin kita berpikir bahwa kita sedang berada dalam suasana Hadirat Allah, padahal Hadirat Allah tidak melulu berbicara tentang suasana. Kehadiran Allah mestinya diyakini dengan iman, seperti janji-Nya bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Nya, di situ Allah ada di tengah-tengah kita (Matius 18:20). Dalam Perjanjian lama Allah telah berbicara lewat nabi-nabi-Nya, dan memanifestasikan kehadiran-Nya hanya pada tempat-tempat tertentu, contohnya: di ruang maha kudus pada tabernakel Musa, di Bait Allah, atau di atas tabut perjanjian. Tetapi pada era perjanjian baru hingga pada hari ini, tidak ada lagi batasan ruang dan waktu, di mana saja dan kapan saja, kita dapat merasakan Hadirat Allah, dan Allah akan selalu berbicara kepada kita dan menyatakan kehendak-Nya lewat Anaknya Yesus Kristus (Yohanes 1:14). Jadi pengertian secara sederhana tentang Hadirat Allah adalah perjumpaan atau pengenalan kita akan pribadi Yesus atau kehadiran Yesus di dalam kehidupan kita (Yohanes 17:21). Ketika kita merasakan kehadiran-Nya, sesungguhnya kita-pun sedang menyatakan Kerajaan Allah.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Hal tentang Allah apakah yang saudara dapatkan ketika membaca Mazmur 139? Dimanakan Allah berada?
  2. Kapankah terakhir saudara merasakan hadirat-Nya? Sadarkah saudara akan hadirat Allah selalu? Mengapa saudara dapat menyadari hadirat-Nya senantiasa?
  3. Apa yang akan saudara lakukan agar saudara lebih lagi menyadari hadirat-Nya dan menyatakan Kerajaan Allah di mana pun saudara berada? Ceritakan pengalaman saudara ketika ada dalam hadirat Allah kepada keluarga, kompak/komunitas saudara.
Topik Doa:
Deklarasikan iman saudara bahwa di mana pun saudara berada di situ hadirat Kerajaan Allah akan dinyatakan, memerintah dan berdaulat melalui hidup saudara.

7

Skip to toolbar