POSTS
17
November 2019
Hidup Di Dalam Kristus
17
November 2019
Amsal 21:23
17
November 2019
DIBALIK KUASA SALIB
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
Yohanes 13:12-20
 

“sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

(Yohanes 13:15)

  Kita mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun kita dapat melihat dan meneladani bagaimana Yesus sebagai manusia mempercayai dan mempercayakan diri-Nya tunduk kepada Bapa-Nya 100%. Percaya kepada semua perkataan Bapa-Nya, percaya bahwa Bapa tidak pernah meninggalkan-Nya. Bagaimana Yesus beriman adalah teladan kita.   Demikian juga dengan hati nurani Yesus yang murni. Andaikan Yesus memiliki hati nurani yang tidak murni, tentunya banyak hal yang terjadi. Seperti yang pernah disaksikan, seandainya Yesus membela diri-Nya agar bukan Dia yang disalib, bukan Dia yang memikul kayu salib, bukan Dia yang dicambuk.   Tetapi Yesus adalah teladan kita yang patut kita teladani sepenuhnya. Ia melakukan segala tugas yang harus diberikan kepadanya hingga selesai. Sepanjang 33 tahun, Yesus menjaga diri-Nya dengan terus percaya dan berserah kepada Bapa-Nya serta menjaga hati nurani-Nya tetap murni hingga seluruh kehendak Bapa melalui hidup-Nya selesai, digenapi dengan tuntas.   Bagaimana dengan kita? Yesus telah memberi teladan dengan sempurna dalam menyelesaikan segala sesuatu. Baik perkataan, perbuatan hingga iman dan hati nurani. Maukah kita mengikuti teladan-Nya?
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang Firman Tuhan ajarkan kepada saudara hari ini? Hal-hal apakah yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya termasuk kepada kita?
  2. Refleksikan hidup saudara, dalam hal apakah iman saudara belum dapat bertumbuh? Dalam hal apa juga saudara tidak dapat menuruti hati nurani saudara?
  3. Tuliskan keteladanan Yesus yang saudara mau ikuti, dan bawalah dalam doa. Tetap lakukan akuntabilitas dengan saling berbagi dan mengingatkan kepada keluarga, kompak/komunitas.
Topik Doa:
Bersyukurlah bahwa Yesus adalah teladan kita yang hidup.
3

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
Kolose 3: 12-17
  “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17)   Sebagai orang beriman yang hidup berkomunitas, tentunya kita rindu selalu bertumbuh dengan hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Karena Firman Tuhanlah yang menuntun iman kita dapat berjalan selaras dengan kehendak Allah. Dan melalui Firman Tuhanlah kita akan dapat hidup semakin hari semakin mengenal Allah dengan benar.   Dalam Firman Tuhan hari ini kita diajarkan gaya hidup berkomunitas yang akan terus menolong kita bertumbuh di dalam iman dan hati nurani yang murni. Kita tidak cukup bergaya hidup saling saja, untuk orang beriman gaya hidup bersyukur akan menjadi alat penolong untuk kita dapat memiliki hati nurani yang murni.   Ketika kita mengalami tantangan dalam melakukan hal yang benar, seberapa seringkah kita dapat bersyukur? Banyak hal yang tidak kita inginkan tentunya dapat terjadi, tetapi berapa seringkah kita dapat bersyukur atas semua yang terjadi?   Ingatlah, bahwa bersyukur akan menjadi ʻkekuatanʼ kita untuk tetap memiliki hati nurani yang murni. Walaupun bersyukur bukanlah hal yang mudah dapat dilakukan, tetapi kasih karunia Allah akan menolong kita untuk tetap dapat bersyukur jika kita mau.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang Firman Tuhan ingatkan dan nasehati kepada saudara melalui Firmannya? Renungkan kembali apa yang dikatakan oleh Firmannya.
  2. Hal apakah yang membuat saudara sulit untuk bersyukur? Apakah yang sering mengganggu hati nurani saudara? Refleksikan diri saudara.
  3. Maukah saudara membuat komitmen untuk dapat bersyukur dalam segala keadaan? Bagikan pengalaman saudara ketika saat saudara dapat bersyukur kepada keluarga, kompak/komunitas.
Topik Doa:
Berdoalah bagi gereja Tuhan, agar terus dapat memiliki iman di dalam Kristus dan hati nurani yang benar.

1

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
Lukas 5:1-11
  Dalam bacaan ini, Petrus telah mengenal Yesus, walaupun pada saat itu pengenalannya kepada Yesus baru dimulai. Tetapi melalui peristiwa yang terjadi, membuat Petrus semakin mengenal dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Bahwa apa pun yang Yesus katakan adalah benar dan berkuasa.   Peristiwa menjala ikan ini menjadi titik balik Petrus untuk semakin percaya kepada Yesus. Dalam peristiwa ini sebenarnya, Petrus tidak setuju untuk menebarkan jala lagi karena dia, yang memang pekerjaannya menangkap ikan, sudah semalam-malaman gagal menangkap ikan. Terlebih lagi Yesus bukanlah seorang nelayan, Yesus dari keluarga tukang kayu.   Tetapi yang menarik, Petrus kemudian menuruti perkataan Yesus. Mengapa ia menuruti perkataan Yesus? Karena hati nuraninya mendorong dia untuk taat kepada perkataan Yesus, Sang Guru. Ternyata lewat peristiwa ini dia melihat bahwa ketika dia menuruti perkataan Yesus, sesuatu yang menurut Petrus tidak mungkin, ternyata terjadi. Begitu banyak ikan yang dia tangkap, padahal dia yang ahli tidak berhasil semalam-malaman.   Ketika kita menuruti hati nurani yang benar, terlebih ketika hal itu sulit / tidak enak dilakukan, Tuhan akan membawa kita semakin mengenal Dia. Petrus mengalami pengalaman iman ketika dia belajar menuruti kata hati nuraninya; ketika dia taat pada Tuhan. Ketaatan membawa pertumbuhan iman dan pertumbuhan pengenalan kita akan Tuhan.   Rindukah saudara terus bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan? Dekatkanlah dirimu kepada Firman yang adalah Allah sendiri (Yohanes 1:1) dan tundukkan dirimu kepada Firman-Nya. Belajar peka dan taat kepada perintah-Nya yang Dia ingatkan; ketika hati nurani menegur kita, mari kita taati dan dengarkan; kita akan semakin peka dan semakin bertumbuh!
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang membuat Petrus tidak langsung merespons perkataan Yesus untuk menebarkan jala?
  2. Bagaimanakah jika saat ini atau suatu waktu Firman Tuhan berbicara kepada saudara, apakah saudara akan lakukan? Bagaimana dengan hati nurani saudara saat ini? Siapkah saudara mendengarkan dan menuruti kata hati nurani saudara?
  3. Apakah yang akan saudara lakukan untuk bertumbuh di dalam iman dan kepekaan pada hati nurani? Ceritakan kepada keluarga, kompak/komunitas saudara pengalaman saudara berjumpa Tuhan hari ini.
Topik Doa:
Berdoalah bagi komunitas-komunitas selain komunitas saudara.

1

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
1 Timotius 1:3-11 1 Yohanes 1:7-9
 

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni (good conscience) dan dari iman yang tulus ikhlas.”

1 Timotius 1:5

  Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menyebutkan adanya sejumlah orang yang mengajarkan pengajaran lain yang tidak sesuai dengan kebenaran. Paulus memberi pedoman bahwa Firman Tuhan harus memiliki tujuan kasih. Hal ini juga sejalan dengan yang dikatakan Yesus bahwa inti dari hukum Taurat adalah kasih kepada Allah dan kepada manusia.   Paulus juga menjelaskan bahwa salah satu syarat kita bisa memiliki kasih adalah hati nurani yang murni / baik (Bahasa Inggris). Hati nurani yang baik adalah yang bebas dari rasa bersalah.   Bagaimana kita menjaga agar kita bebas dari rasa bersalah dan tuduhan? Pertama adalah dengan belajar mengikuti perkataan hati nurani kita saat kita harus memilih antara yang benar dan yang salah. Tetapi pada praktiknya, karena jiwa kita yang masih harus terus diperbaharui, kita bisa mengalami kegagalan-kegagalan. Ketika kegagalan ini terjadi, hati nurani kita akan terus bersuara, mendorong kita untuk bertobat. Marilah kita segera bertobat ketika kita menyadari kesalahan yang kita lakukan. Dengan bertobat dan mengakui dosa kita satu sama lain; Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Darah Yesus yang sudah tertumpah bagi kita menjadi jaminan pengampunan bagi setiap kita.   Mari kita membangun gaya hidup yang saling terbuka dalam keluarga dan komunitas kita. Ketika kita saling terbuka, mari kita membangun sikap yang tidak menghakimi, tetapi minta hati Bapa yang menerima kita dengan empati dan tanpa syarat. Kita tidak kompromi terhadap dosa, tetapi saling mengampuni, saling mendorong dalam perbuatan baik, saling mendorong untuk kita bisa hidup kudus karena kita adalah manusia baru di dalam Kristus.   Dengan gaya hidup saling terbuka, saling menerima, saling mengampuni, kasih itu akan lahir dalam hidup keluarga dan komunitas kita, sehingga kita mampu mengalirkan kasih Allah kepada orang-orang yang membutuhkan. Hidup menjadi terang dan garam.   Bagaimana dengan kita selama ini sebagai orang beriman yang hidup didalam komunitas? Komunitas terdekat kita adalah keluarga kita; keluarga adalah tempat kita dapat mempraktikkan gaya hidup saling ini termasuk tempat melatih kita untuk terus menjadi orang yang beriman dan memiliki hati nurani yang murni.
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang Paulus ajarkan kepada Timotius di dalam 1 Timotius 1:5?
  2. Refleksikan diri saudara, bagaimana selama ini saudara sebagai orang yang beriman bergaya hidup? Apakah gaya hidup dalam keluarga / komunitas saudara sudah mendorong terbangunnya hati nurani yang baik dan hidup mengasihi?
  3. Hal apakah yang ingin saudara lakukan agar bertumbuh terus di dalam iman dan tetap memiliki hati nurani yang murni? Praktikkanlah gaya hidup berkomunitas dimulai dari keluarga, kompak/komunitas saudara.
Topik Doa:
Berdoalah bagi komunitas-komunitas selain komunitas saudara.

0

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
1 Samuel 24:1-7 1 Samuel 26:1-9
  Kita mengenal Daud sebagai pribadi yang berkenan kepada Allah. Sejak mudanya Daud telah membangun hidupnya dekat dengan Allah. Daud bukan hanya membangun hidupnya dekat dengan Allah, tetapi Daud hidup mengenal Allah-nya. Daud beriman kepada Allah yang Ia kenal.   Tetapi tidak hanya sampai pada titik ini. Daud juga memiliki hati nurani yang murni di hadapan Allah. Seperti pada bacaan yang kita baca, Daud mendengarkan hati nuraninya dalam dia bertindak. Secara manusiawi, Daud mau membela diri dari Saul, dan salah satu caranya adalah dengan membunuh Saul yang sedang berusaha membunuh dia. Kesempatan jelas terbuka, seakan Tuhan yang membuka kesempatan itu bagi dia. Tetapi dalam hatinya ada suara yang berseru bahwa dia tidak boleh berlaku tidak benar terhadap orang yang diurapi Tuhan. Raja Saul, walaupun sedang berusaha membunuh dia, tetap sedang memegang otoritas pemerintahan dan diurapi oleh Tuhan (melalui Samuel).   Kita membaca, “berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul” (1 Samuel 24:6. Dan selanjutnya Daud menjelaskan “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.”   Orang bisa saja berbuat jahat kepadanya, tetapi karena hati nuraninya berbicara kuat, maka tindakan yang dilakukan Daud tetaplah benar. Bagaimanakah dengan hati nurani kita sebagai orang yang beriman? Apakah kita memiliki hati nurani yang murni? Apakah kita mendengarkan hati nurani kita? Hati nurani yang berbicara kuat ketika kita melakukan dosa?
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang saudara dapat belajar dari hidup Daud? Menurut saudara, mengapa Daud dapat bersikap demikian?
  2. Refleksikan diri saudara, seandainya saudara menjadi Daud, bagaimanakah hati nurani saudara dan respons saudara? Mengapa saudara dapat memiliki respons yang demikian?
  3. Hal apa yang akan saudara lakukan agar memiliki iman dan hati nurani yang murni? Bagikan apa yang saudara alami kepada keluarga, kompak/komunitas saudara dan teruskan saling membangun.
Topik Doa:
Berdoalah bagi anggota komunitas saudara, agar bersama-sama dapat mempraktikkan gaya hidup saling.

0

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
Roma 2:12-16 Ibrani 9:14 Ibrani 10:22
 

“Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati (conscience – hati nurani) mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.”

Roma 2:15

  Dalam setiap manusia, karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah, terdapat suara hati / hati nurani yang memiliki cara penilaian moral atas hal yang benar atau hal yang salah. Ketika kita melakukan hal yang menurut hati nurani kita benar, hati nurani akan mendukung / meneguhkan kita. Ketika kita melakukan hal yang salah, hati nurani akan “menuduh” kita.   Sebelum kita bertobat, bisa saja hati nurani kita menjadi jahat (Ibrani 10:22) karena kita menanamkan hal yang jahat dan berulang-ulang melakukan hal yang jahat dan tidak bersedia mendengarkan hati nurani. Namun karena kemurahan Tuhan, dengan darah Yesus hati nurani kita disucikan ketika kita dilahirkan baru(Ibrani 9:14).   Kita sebagai manusia baru perlu mendengarkan/mengikuti hati nurani kita agar kita memiliki hidup yang benar. Paulus memberi teladan dengan menjaga hati nuraninya murni/benar dengan hidup benar di hadapan Allah dan di hadapan manusia (Kisah Para Rasul 24:16).   Seperti yang pernah kita pelajari, jiwa kita yang sering kali menjadi masalah dalam kehidupan orang yang sudah lahir baru. Pikiran, perasaan, dan kehendak kita harus terus diselaraskan dengan Firman Tuhan. Ketika jiwa kita selaras dengan Firman Tuhan, dan kita belajar terus mendengarkan dan menaati hati nurani kita, kita akan semakin bertumbuh. Karena ketika kita melakukan kebenaran, jiwa kita yang sudah selaras Firman Tuhan akan mendukung; demikian juga hati nurani kita akan meneguhkan. Dengan demikian, kita akan semakin mantap dan teguh dalam melakukan kebenaran. Kita bebas dari rasa tertuduh karena kita hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan hati nurani kita.   Sebagai contoh sederhana bagaimana hati nurani bekerja adalah ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk berkata jujur atau berbohong. Ketika kita berkata jujur, hati nurani akan meneguhkan kita dan menyatakan kita sudah melakukan hal yang benar. Sebaliknya, ketika kita memutuskan berbohong, hati nurani akan menuduh kita, menyatakan bahwa kita sudah melakukan kesalahan. Hati nurani lalu mendorong kita untuk memperbaikinya, mengakuinya. Kalau kita taat kepada dorongan hati nurani kita, kita membuat diri kita semakin peka terhadap suara hati nurani kita.   Bagaimanakah selama ini kita menjaga hati nurani kita? Bagaimanakah selama ini kita merespons hal-hal yang baik dan jahat? Bagaimanakah selama ini kita mempertanggung jawabkan hati nurani kita di hadapan Tuhan dan sesama?
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Dari bacaan hari ini, apakah hati nurani itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi hati nurani kita?
  2. Refleksikan diri saudara, bagaimana keadaan hati nurani saudara saat ini?
  3. Persembahkanlah tubuh saudara kepada Tuhan. Tetaplah melakukan akuntabilitas kepada keluarga, kompak/komunitas saudara dan salinglah mendoakan serta membangun.
Topik Doa:
Berdoalah dengan iman bahwa saudara bersama dengan keluarga dan komunitas rindu bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

3

10/2017 Oktober, 2017 - Meditasi Firman, Meditasi Firman, Minggu ke-4, RENUNGAN
Ibrani 11:1-9
  Dalam beberapa waktu terakhir kita terus belajar tentang iman. Kita sudah belajar bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan yaitu Kristus dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat; itu pun di dalam Kristus.   Dari beberapa contoh tokoh iman dalam Ibrani 11, kita dapat melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang mengenal Allah. Iman adalah percaya kepada Allah yang kita kenal. Dengan bertumbuhnya pengenalan kita yang benar akan Allah, percaya kita akan juga bertumbuh. Yang berbahaya adalah ketika kita berpikir tentang Allah berdasarkan cara pikir kita sendiri. Sering kali kita hanya puas mengerti pribadi Allah hanya dari satu sisi saja dan tidak mengerti sepenuhnya. Karena itu ketika kita membaca Alkitab, kita perlu membuka diri, membuka cara pandang kita, supaya diperbaiki dan sesuai dengan apa yang Firman Tuhan katakan dalam Alkitab.   Kita perlu sungguh-sungguh menyadari hal ini, kita perlu sungguh-sungguh mengenal Allah – Pribadi yang kepada-Nya kita menaruh pengharapan kita. Karena pengenalan akan Allah dengan benar akan membawa kita memiliki tujuan iman yang benar. Mari kita merenungkan kembali seberapa kita mengenal Allah dan minta anugerah-Nya supaya kita dapat mengenal Dia.   Apakah kita menyadari bahwa Allah baik dan Maha Pengampun? Tetapi apakah kita pun menyadari bahwa Allah pun menghajar dan mendidik kita? Bahkan Alkitab mencatat berbagai peristiwa bagaimana Allah menurunkan murka-Nya atas orang berdosa. Seperti Ibrani 11 yang kita baca, bagaimana Nuh diselamatkan karena imannya yang sungguh-sungguh mengenal dan menuruti siapa yang ia kenal. Tetapi Allah pun tidak berkompromi dengan dosa, hingga ia memusnahkan begitu banyak manusia.   Mengapa semua itu terjadi? Kalau kita mengenal Allah kita, kita bisa mengerti; tetapi dalam hal inilah kita dapat berefleksi diri tentang iman kita. Seberapa jauh kita mengenal Allah sesuai dengan Alkitab? Apakah sungguh kita memiliki tujuan iman yang benar di dalam Kristus? Apakah iman kita benar-benar sudah berdasar kepada Kristus?
Pertanyaan :
(Tuliskan jawaban saudara dalam bentuk “jurnal”)
  1. Apakah yang saudara dapatkan tentang pengertian iman melalui Ibrani 11:1-9? Renungkan sejenak, seberapa pentingkah iman menurut saudara?
  2. Mari kita berefleksi, apakah dasar iman saudara? Seberapakah saudara mengenal Allah saudara? Apakah saudara mengenal dari apa kata orang atau dari mana saudara mengenal Dia? Kalau saudara diminta menggambarkan Allah dengan kata-kata saudara sendiri, bagaimana saudara menggambarkan Dia? Apakah iman saudara benar-benar hanya berdasarkan Kristus?
  3. Apakah yang akan saudara lakukan setelah saudara bermeditasi? Tuliskan komitmen saudara dan tetaplah setia hidup dalam akuntabilitas dengan saling membagikan, mengakui kepada keluarga, kompak/komunitas saudara.
Topik Doa:
Berdoalah agar Gereja Tuhan yang dipercayakan untuk mengelola keuangan yang dipersembahkan jemaat diberikan hikmat dan kebijaksanaan untuk mengaturnya demi Kerajaan Allah!

1

Skip to toolbar