POSTS
9
February 2020
ZAKHARIA
9
February 2020
SURGA DI BUMI (7)
8
February 2020
Setia dalam Iman
8
February 2020
SURGA DI BUMI (6)
PORTFOLIO
SEARCH
SHOP
  • Your Cart Is Empty!
Your address will show here +12 34 56 78
10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
Mazmur 33
  Taukah kamu apa yang menjadi bagian untuk lidah kita berucap? Ya, sorak sorai ucapan syukur dan puji-pujian kepada Allah adalah selamanya bagian kita. Ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan di tengah situasi yang baik dan menyenangkan. Tetapi bagaimana di tengah situasi yang menyakitkan?   Firman Allah tidak berubah, sorak sorai ucapan syukur dan puji-pujian kepada Allah tetap adalah selamanya bagian kita. Cobalah praktekkan hal tersebut; demikianlah kita mengajar jiwa kita, mendidik pikiran dan perasaan kita untuk tunduk di bawah kuasa Firman Allah. Dan kita akan melihat bagaimana Firman itu melepaskan hati kita dari perasaan dan pikiran yang merusak hati kita.   Firman Tuhan adalah benar, Firman Tuhan mengerjakan segala sesuatu dengan kesetiaan, dan Firman Tuhan senang kepada keadilan dan hukum. Penuhilah kehidupan kita dengan Firman Tuhan yang kita ijinkan menjadi penguasa pikiran, perasaan, dan kehendak kita, maka kita akan melihat bagaimana kehidupan kita akan dipenuhi dengan kasih setia Tuhan. Penuhilah pandangan mata dan lidah bibir kita dengan ucapan syukur dan puji-pujian terhadap Allah, dan kita akan melihat bahwa Firman Allah yang membawa keadilan akan menyatakan kebaikan bagi hidup kita!

“Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam Tuhan! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.”

Mazmur 33:1

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Tulislah di jurnalmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
Mazmur 121
  Pada zaman raja Daud menuliskan mazmur ini, gunung-gunung adalah lambang akan tempat perlindungan. Daud sendiri dalam masa pengejaran raja Saul, bersembunyi dari satu gunung ke gunung berikutnya. Sehingga ia berkata: Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Ya, Raja Daud sedang dalam keadaan gentar dan membutuhkan pertolongan.   Kita pun sering demikian, kita mencari pertolongan ke orang-orang tertentu yang kita pikir bisa membantu kita, atau mengandalkan barang tertentu untuk membantu kita melupakan kegelisahan hati kita. Mungkin kita bermain game, menonton drama korea, dan lain sebagainya. Tetapi Daud memberi jawaban mengenai obat yang tepat bagi hati yang gentar.   “Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu, di sebelah tangan kananmu.” (Mazmur 121:3-5).   Hari ini, dalam keadaan baik maupun gentar, katakanlah kepada jiwamu bahwa Tuhan pencipta langit dan bumi mengasihimu sedemikian rupa dan tidak pernah terlelap ketika memperhatikan kehidupanmu. Pertolongan selalu ada setiap waktu!

Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu, di sebelah tangan kananmu.

Mazmur 121:3-5

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Ceritakan kepada teman komunitas sepakatmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
Lukas 1:5-24
  Adalah sebuah aib bagi perempuan di masa itu jika ia tidak memiliki anak. Elizabeth adalah seseorang dari keturunan Harun, dan Zakharia adalah seorang imam. Alkitab mencatat: Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.   Apa yang paling diharapkan oleh sebuah pasangan yang tidak memiliki anak? Tentu kelahiran seorang anak adalah hal yang paling dinanti. Apa yang seringkali terucap dari bibir orang yang melayani bertahun-tahun tetapi harapannya tidak kunjung terjadi? Biasanya orang akan menjadi kecewa dan mungkin putus asa. Tetapi Zakharia dan Elizabeth, keduanya dikatakan benar di hadapan Tuhan. Artinya, mereka tetap menjaga kehidupan mereka untuk tidak dicemari oleh situasi kondisi maupun perilaku yang tidak disenangi Tuhan.   Bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi mungkin untuk dilakukan. Dan apa reward yang Tuhan berikan bagi mereka berdua? Bukan sekedar anak laki-laki, tetapi hamba Tuhan yang mempersiapkan kedatangan Yesus. Wow! What a privilege – adalah sebuah hak yang istimewa!   Biarkan masa penantian kita menjadi hak yang istimewa bagi kita untuk menantikan Tuhan, sebab tidaklah mengecewakan pengharapan di dalam Dia!

“Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”

Lukas 1:6

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Tulislah di jurnalmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
1 Korintus 13
  Jika kehidupan adalah roda, maka ada dua poros yang menggerakkannya: iman dan pengharapan. Jika roda sedang tidak berputar, asalkan salah satu dari poros tersebut berputar, maka hal itu sudah cukup. Sebab satu poros akan menolong poros yang lain untuk aktif. Dan jika dua poros berputar bersamaan, maka roda akan bergerak. Ya, demikian cara kerja iman dan pengharapan. Jika ada masa dimana pengharapan kita hanyut dalam kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan, minimal kita masih memiliki iman yang membawa kita dalam ketekunan doa kepada Tuhan. Maka dengan menunggu waktu, harapan kita akan muncul kembali. Jika iman kita yang hilang, minimal mata kita masih memandang harapan akan janji Tuhan yang telah kita terima.   Tetapi bagaimana jika keduanya hilang?   “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.” (1 Kor 13:13).   Ya, kasih adalah roda itu sendiri. Jika iman dan pengharapan tidak lagi mampu berputar, minimal kasih Allah tinggal di dalam hati kita, bahwa kita tahu kita adalah orang yang dikasihi oleh Pemilik Alam Semesta sehingga kita tidak perlu patah semangat dan tetap mampu melakukan kehidupan yang berdampak. Maka menunggu sedikit waktu, iman dan pengharapan akan kembali aktif dan kehidupan tetap berjalan maju.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.”

1 Korintus 13:13

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Ceritakan kepada teman komunitas sepakatmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
Amsal 18
Kehidupan bukanlah sesuatu yang mudah. Ada masa dimana pengharapan kita begitu kuat, kita menjalani dengan begitu yakin dan bersemangat, Tetapi, ada juga masa dimana iman kita seakan-akan hilang dan kita tidak melihat sedikitpun harapan yang membuat kita bersemangat. Ya, demikianlah kehidupan jika kita berpegang pada situasi dan kondisi. Sebentar naik, sebentar turun. Sebab kehidupan berputar seperti roda, jika kita sedang diatas, bersiaplah untuk kondisi dimana kita berada di bawah. Jika kita sedang di bawah, ketahuilah bahwa kita akan segera naik ke atas. Mengapa? Sebab kehidupan harus berjalan maju. Tanpa roda yang berputar, tidak ada kemajuan.   Apa kunci untuk tetap bertahan dan berjalan maju?   Amsal 18:21 berkata: “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Ya, perkataan kita adalah kunci kehidupan. Sebab dari mulanya, kita dijadikan oleh perkataan. Dari mulanya, bumi dijadikan oleh perkataan. Dari mulanya, hidup kita dijadikan oleh perkataan. Dan Sang Pencipta, memberikan perkataan yang baik, yang memberkati dan memberikan kehidupan untuk kita. Dan Ia berkata bahwa kita serupa dengan gambaran-Nya sehingga perkataan kita juga berkuasa, untuk mendatangkan kehidupan atau melemahkan kekuatan. Watch your words!

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”

Matius 6:25

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Tulislah di jurnalmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
Kejadian 39:1-23
Dibuang dan dijual oleh kakak-kakaknya, Yusuf menjadi pelayan di rumah Potifar. Penyertaan TUHAN membuat Yusuf berhasil dan dikasihi. Tentu saja, TUHAN memberkati dia from inner to outter looks! Everyone fell in love with him, bahkan istri Potifar tergoda melihat Yusuf. Berkali-kali istri Potifar membujuk Yusuf untuk tidur bersama dengannya, tetapi Yusuf menolak karena integritasnya untuk tidak berbuat dosa terhadap Allah. Namun istri Potifar tidak juga menyerah. Suatu hari ketika rumah itu kosong dan hanya ada mereka berdua, istri Potifar menggoda Yusuf kembali dan Yusuf memilih lari menjauh godaan.   Integritas terhadap komitmen yang kita pegang belaku di segala situasi dan kondisi, tidak peduli ada yang mengawasi atau tidak.   Yusuf tetap melakukan yang benar, bukan mencuri kesempatan untuk sesuatu yang menguntungkan. Pada akhirnya, Yusuf harus masuk ke penjara, namun kasih setia TUHAN tidak kurang dalam hidup Yusuf. Di tempat yang paling tidak enak sekalipun, yaitu di penjara, ia mendapatkan kasih dari kepala penjara.   Ketika kamu diperhadapkan pada situasi, baik yang menguntungkan ataupun tidak menguntungkan, apakah kamu tetap menjaga hati dan matamu?   Remember, commitment requires integrity and it’s not something cheap!

“May integrity and honesty protect me, for I put my hope in You.”

Psalm 25:21; NLT

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Ceritakan kepada teman komunitas sepakatmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA
Yosua 24:1-15
Telah begitu banyak penyertaan TUHAN yang dinyatakan kepada bangsa Israel. Bangsa yang keras hati dan tegar tengkuk, bangsa yang butuh 40 tahun waktu pemurnian di padang gurun, bangsa perjanjian yang dikasihi TUHAN. Tetapi hari itu, Yosua mengumpulkan pemimpin-pemimpin Israel untuk mengembalikan pilihan beribadah kepada TUHAN atau allah lain. Eventhough he’s the leader of Israel, Yosua tidak memaksa bangsanya untuk mengikuti pilihannya.   Dibutuhkan komitmen untuk setia beribadah kepada TUHAN. Komitmen bukanlah sesuatu yang murah. Komitmen berbicara tentang dirimu dan orang yang mengikat perjanjian bersamamu, sehingga tidak bijaksana untuk mengambil komitmen atas dasar ‘ikut-ikutan’. Komitmen membutuhkan integritas, begitu pula komitmen kita kepada TUHAN.   “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” (Yosua 24:15). Tidak peduli apa keputusan bangsanya, Yosua tetap berkomitmen beribadah kepada TUHAN karena ia telah merasakan bahwa Allah menyertainya dalam puluhan tahun kepemimpinannya, bahkan tahun-tahun saat ia masih menjadi asisten Musa. Yosua memilih apa yang benar, bukan apa yang menjadi pilihan banyak orang (popular choice). Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu akan tetap memegang komitmenmu walaupun yang lain memilih untuk meninggalkan TUHAN?

“But as for me and my house, we will serve the LORD.”

Joshua 24:15; NKJV

Reflection :
  1. Kebenaran apa yang kamu terima melalui perenungan hari ini?
  2. Apa komitmenmu yang ingin kamu lakukan setelah menerima kebenaran hari ini?
  3. Tulislah di jurnalmu!
0

10/2017 Oktober, 2017, Daily Devotion, Minggu ke-5, RENUNGAN, TOGA

“Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu, di sebelah tangan kananmu.”

Mazmur 121:3-5

  “Let my heart want for nothing, but You, just You. The riches of this world could never satisfy. Let my heart wants for only You.”   Tidak ada kata yang bisa menentang lirik lagu yang dinyanyikan oleh Brian Johnson. Lirik ini berkata: “Biarlah hati saya tidak menginginkan apapun kecuali Engkau, hanya Engkau. Kekayaan dunia tidak dapat memuaskan. Biarlah hati saya hanya menginginkan Engkau.”   Pada bulan ini ketika kita merenungkan Firman Tuhan, mari kita membawa sebuah spirit yang haus dan lapar akan Tuhan dan Firman-Nya. Tanpa sungguh-sungguh menginginkan Dia, kita tidak dapat sungguh-sungguh dipuaskan oleh-Nya. Jika hati kita belum “menginginkan Yesus saja”, kita tidak dapat benar-benar mengalami breakthrough, yaitu ketika jiwa kita dipuaskan hanya oleh kasih-Nya.   Tidak ada hal di dunia ini yang dapat mengisi hati kita. Orang dan barang tidak diciptakan untuk mengisi kekosongan hati kita. Itu sebabnya, sebaik apapun seseorang dan sebaik apapun sikap kita terhadap seseorang, kita akan menemukan kekecewaan di tengah perjalanan. Sebaik apapun sebuah barang, barang tersebut tidak dapat benar-benar memuaskan kita; sebab jiwa kita diciptakan bukan untuk dipuaskan oleh barang ataupun orang, melainkan hanya oleh Yesus sendiri, sang Kekasih Jiwa. Maka dari itu, jika kita belum dapat berkata, “For me, only Jesus”, jiwa kita pasti masih mencari-cari hal lain selain Yesus untuk memuaskannya. Dan kita tidak akan pernah benar-benar menjadi utuh atau content.   Amsal 30:15-16 berkata: “Si lintah mempunyai dua anak perempuan: “Untukku!” dan “Untukku!” Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: “Cukup!” Dunia orang mati, dan rahim yang mandul, dan bumi yang tidak pernah puas dengan air, dan api yang tidak pernah berkata: “Cukup!””   Kemudian pasal berikutnya, Amsal 31, berbicara mengenai tentang istri yang cakap. Sebenarnya perikop ini bukan berbicara mengenai istri yang cakap atau skillful, melainkan tentang perempuan yang takut akan Tuhan. Jadi ketika Amsal 30 berbicara mengenai seseorang yang tidak pernah berkata cukup, Amsal 31 menceritakan betapa penuhnya hidup orang yang takut akan Tuhan. Kontras sekali bukan? Yang satu selalu mencari-cari dan tidak pernah menemukan ketenangan batin, yang satunya lagi penuh dengan ketentraman dan terus menerima kebaikan Tuhan yang memenuhi kehidupannya.   “Tapi, kak, mungkin Firman itu hanya untuk perempuan, sebab subyek yang digunakan disana adalah kata wanita.” Mungkin beberapa dari kita berpikir demikian. Tapi, bukankah Kristus menggambarkan dirinya sebagai mempelai laki-laki dan kita semua adalah mempelai perempuan? Ini bukan soal gender. Ini berbicara mengenai siapa kita di hadapan Kristus. Bukan mengenai laki-laki atau perempuan, tetapi mengenai Allah yang berfirman kepada kita, orang-orang yang takut akan Dia, dan yang akan berdiri menyambut kedatangannya dengan roh yang takut akan Tuhan dan kekaguman akan Tuhan. Dan tentu saja, Ia ingin hidup kita dipenuhi oleh-Nya dan bukan dengan ciptaan-Nya yang lain.   Tell your soul today: Let my heart wants for nothing, but Jesus. The riches of this world could never satisfy. Let my heart wants for only You!
0