06/2019 Juni, 2019 Toga, Daily Devotion, Minggu ke-2, RENUNGAN, TOGA

ISAAC – A HEART OF CHILD WHO BELIEVES

So Abraham took the wood of the burnt offering and laid it on Isaac his son; and he took the fire in his hand, and a knife, and the two of them went together
(Genesis 22:6 NKJV)

M1

MENERIMA FIRMAN

Berdoalah agar Roh Kudus menolong kita mengerti dan menerima insight serta kita memiliki hati yang lembut untuk menerima kebenaran Firman Tuhan lewat teladan Ishak.

M2

MERENUNGKAN FIRMAN

Kepercayaan Abraham diuji

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,

22:16 kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,

22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.

22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”

22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.

Kejadian 13: 1-18

REFLECTION

  1. Apakah yang hendak dilakukan Abraham terhadap Ishak? Bagaimana respon Ishak ketika mengetahui dirinya hendak dipersembahkan? (Ayat 6-10)

DEVOTION

Ishak menyadari bahwa dirinyalah yang akan dipersembahkan oleh Abraham. Sebab pada masa itu, mempersembahkan anak sendiri sebagai ritual agama kepada dewa-dewi adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Meskipun begitu, ia tetap ikut menyelesaikan perjalanan menuju gunung Moria selama tiga hari. Ishak percaya bahwa apa yang dikerjakan bapanya, Abraham, tidak akan membawa kecelakaan baginya. Ishak percaya kepada Abraham seperti Abraham percaya bahwa TUHAN mengerti hati dan menyediakan kebutuhannya. Kita seringkali sulit mempercayai arahan yang diberikan oleh bapa rohani kita. Kecurigaan dan rasa tidak percaya itulah yang akan berbuah menjadi tindakan memberontak atau bahkan lari dari TUHAN. Sebagai anak rohani kita perlu menyadari bahwa bapa rohani yang TUHAN tempatkan bagi kita adalah otoritas yang diurapi dan diperlengkapi dengan hikmat dari TUHAN. Kita perlu meneladani sikap hati Ishak yang tunduk dan taat sampai akhir, walaupun apa yang ia lihat dapat menjadi alasan yang kuat untuk tidak mempercayai Abraham. Agar mampu taat, setiap kita perlu mempercayai Roh Kudus yang ada di dalam pemimpin/ bapa rohani kita dalam menuntun kita. Ketaatan akan menjaga hidup kita dan membawa pertumbuhan. Tetapi untuk dapat mempercayai Roh Allah dan pimpinan yang ada di dalam bapa rohani kita, kita perlu terlebih dahulu terbiasa untuk terus membangun manusia Roh kita.

M3

MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN
  1. Ceritakan dalam jurnalmu hal apakah yang Tuhan nyatakan kepadamu hari ini! (rhema/ perintah/ dosa/ janji)
  2. Apakah dirimu sudah sepenuhnya mempercayai arahan yang bapa rohanimu berikan dalam hidupmu? Ceritakanlah!

M4

MEMBAGIKAN FIRMAN KRISTUS

Ceritakanlah insight yang kamu dapatkan dari perenungan hari ini kepada teman komselmu!

Author


Avatar