Marketplace, Ragam

Lebih Baik Berbisnis atau Bekerja sebagai Karyawan?

Artikel kali ini secara khusus saya tujukan kepada generasi Y (tahun kelahiran 1981–1995) dan generasi Z (tahun kelahiran setelah 1995). Di kalangan generasi Y dan Z, sering kali muncul diskusi tentang apa yang lebih baik dipilih setelah lulus kuliah; bekerja di perusahaan sebagai pegawai secara jangka panjang, atau bekerja untuk sementara saja sambil mencari pengalaman dan modal usaha, atau langsung merintis bisnis/usaha sendiri? Diskusi pada topik ini bisa panjang dan lama; dan kerap berakhir dengan keputusan “pilih aman” dengan bekerja saja di perusahaan walupun di hati ingin sekali punya bisnis sendiri atau justru tekad bulat untuk tidak bekerja sebagai pegawai sama sekali meskipun harus berhemat luar biasa karena hidup dari uang tabungan. Alasan masing-masing keputusan ekstrem ini kuat dan bermacam-macam.

Sebenarnya, tidak ada pilihan benar atau salah, lebih baik atau kurang baik, di antara keduanya. Semuanya tergantung pada pertimbangan apa saja yang menjadi prioritas. Berikut saya sajikan beberapa pertimbangan untuk generasi Y dan Z memilih berbisnis. Jika pertimbangan-pertimbangan ini menjadi prioritas, pilihan berbisnis tentu lebih tepat.

1. Saat ini terbuka berbagai peluang bisnis melalui kemajuan teknologi dan internet, sehingga kita semakin mudah untuk memulai bisnis baru (start up) dengan modal minim. Kini proses memasarkan dan memperkenalkan produk ke masyarakat bisa dilakukan dengan langkah-langkah sederhana dan dengan modal kecil, bahkan bisa dilakukan dari rumah saja tanpa perlu sewa tempat usaha khusus.

2. Media sosial semakin marak menawarkan inspirasi dan ide kreatif untuk berbisnis. Generasi Y dan Z adalah generasi internet yang sangat kreatif, mereka bisa memadukan berbagai hal yang dilihat di internet (misalnya, YouTube, Instagram, dsb.), lalu mengolahnya menjadi hal-hal atau produk baru yang diminati pasar.

3. Kecenderungan tekad mandiri semakin besar di kalangan masyarakat modern. Banyak sekali anak muda dari generasi Y dan Z yang bertekad untuk mengubah hidupnya serta tak takut menghadapi tantangan. Melalui usaha sendiri, mereka cukup yakin bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik, dan hal ini memang tak cukup cepat atau efektif terjawab dengan bekerja sebagai pegawai perusahaan. Tekad yang semacam ini sangat berguna dalam masa perintisan awal berbisnis serta ketika kesulitan datang dalam perjalanannya kemudian.

4. Kebebasan waktu dan gaya hidup semakin berharga di tengah-tengah laju kehidupan saat ini. Generasi Y dan Z suka hal-hal yang tidak terstruktur dan tidak terikat dengan peraturan serta komitmen atau keterbatasan waktu; mereka suka bereksplorasi dan beraktualisasi diri (apalagi, hal ini sudah dilatih sejak mereka sekolah dan kuliah). Bekerja di perusahaan cenderung berisiko menimbulkan ritme rutinitas yang monoton dan membelenggu kreativitas.

5. Pelatihan menjadi wirausaha telah lazim diterapkan sejak usia sekolah. Banyak sekolah dan universitas yang sudah melatih siswanya memiliki pola pikir wirausaha. Sejak usia muda bahkan dini, mereka sudah diperkenalkan kepada gagasan menjadi pengusaha dan dilatih bagaimana cara berbisnis (walau tekniknya masih sederhana). Pelatihan ini memunculkan bakat dan impian berbisnis di antara anak muda, dan layak ditindaklanjuti saat usia dewasa.

6. Pelajaran hidup dari orang tua menjadi kebijakan untuk kehidupan diri sendiri di masa depan. Generasi Y dan Z melihat contoh orang tua dan menyimpulkan sendiri apa yang mereka inginkan untuk kehidupan mereka nantinya. Bagi anak yang orang tuanya menjadi pegawai bergaji seumur hidup, mungkin sekali mereka tidak ingin bekerja keras banting tulang dan terikat segala komitmen yang kaku sampai usia tua, tanpa berhasil menyejahterakan keluarga sampai akhir hayat. Bagi anak yang lahir di keluarga pengusaha, mereka pun amat mungkin melihat dinamika kehidupan yang dinamis, kreatif, tidak terikat dengan waktu, tidak diperintah-perintah oleh orang lain, dan menghasilkan kesejahteraan serta kenyamanan hidup bagi keluarga.

7. Banyak program pelatihan pengembangan diri yang memotivasi diri untuk berwirausaha kini tersedia. Generasi Y dan Z kenyang disajikan berbagai program, acara, dan seminar yang membakar mimpi mereka untuk menjadi makmur melalui jalur bisnis. Begitu banyak para pembicara sukses di kelas nasional maupun internasional yang menjadi inspirasi kaum muda untuk berwirausaha, sehingga anggapan bahwa kemakmuran hanya efektif dan cepat tercapai melalui jalur bisnis menjadi anggapan yang semakin umum.

8. Lebih baik dan aman untuk mengambil risiko tinggi sebelum berkeluarga. Selagi belum punya anak dan harus menghidupi keluarga, generasi Y dan Z berani mengambil risiko lebih tinggi. Mereka umumnya berusia sekitar 20 tahun; belum menikah dan tentu saja tidak memiliki anak. Mereka tak harus memikirkan penghidupan orang lain kecuali dirinya sendiri. Sehingga, risiko yang ditanggung masih sangat kecil kalaupun terjadi kegagalan dalam berbisnis. Apalagi kalau orang tua mendukung pilihan berbisnis dan siap menolong saat terjadi kegagalan itu.

9. Budaya kolaborasi semakin kuat dan marak di bidang pekerjaan apa pun. Generasi Y dan Z dikenal sebagi generasi yang kuat dalam berkolaborasi satu sama lain. Mereka biasa mengerjakan hampir segala sesuatu bersama-sama dengan komunitas yang sebidang; membentuk berbagai start up bisnis, berdiskusi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, bahkan mendanai suatu proyek penting secara patungan. Semua ini sudah menjadi budaya sejak mereka masih bersekolah atau berkuliah, dan terus semakin kuat ketika mereka mulai menghasilkan uang. Kolaborasi banyak mendatangkan keuntungan dalam hal faktor resiko, pendanaan, ide kreatif, dan jejaring, apalagi dalam hal berbisnis.

Jika pertimbangan-pertimbangan ini juga Anda (atau anak Anda) yakini serta prioritaskan, jalur wirausaha patut menjadi pilihan.

Selain semua pertimbangan tadi, tentu ada faktor-faktor lain yang juga berperan. Contohnya: jenis kepribadian yang cenderung introvert (sehingga menyukai cara “aman” dan menggemari konsistensi rutinitas) atau cenderung ekstrovert (sehingga mudah bosan dan menyukai dinamika perubahan yang terus-menerus); bakat serta impian atau panggilan hati untuk berkarier di perusahaan daripada merintis bisnis/usaha sendiri; dan banyak lagi lainnya. Yang jelas, jalur berbisnis atau bekerja sebagai pegawai keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing; tidak ada yang lebih baik atau lebih unggul untuk semua orang dan semua situasi. Banyak juga orang yang berhasil di jalur karier atau profesi dan menanjak dari posisi pegawai pemulai hingga menjadi direktur perusahaan besar, selain banyak orang yang sukses makmur dengan bisnisnya. Apa pun pilihan yang akan diambil, hal yang paling penting supaya tidak salah jalan ialah meminta hikmat dan tuntunan Tuhan. Alhasil, pilihan itu memuliakan Tuhan yang kita percaya, kita selalu berjalan di jalan yang Tuhan tetapkan, dan kita akan mengalami umur panjang, kekayaan, dan kehormatan.

Author


Avatar