Karakter, Ragam

Menjadi pribadi yang mau memperbaiki kesalahan

Malam kelam mencekam. Suasana itu tak seperti biasanya di Taman Getsemani. Nyala api obor menari-nari di tengah kegaduhan banyak orang. Mereka membawa pedang dan pentung mencari-cari Yesus, hendak menangkapNya. Lalu tampaklah Yudas menciumNya. Yudas, murid yang telah menyerahkan Dia. Serentak orang banyak mengepung dan menangkap Yesus. Akhirnya tragis. Yudas mati menggantung diri, bahkan sebelum Yesus disalibkan. Yudas menyesali kesalahannya, tetapi sayang responsnya sangat keliru. Ia menghakimi dan menghukum dirinya sendiri.

Kisah lain terjadi pada Petrus, seorang murid yang selalu bersama dengan Yesus. Petrus yang heroik dengan lantang berjanji bahwa ia tak akan mengkhianati guru yang dikasihinya. Tetapi apa daya, demi menyelamatkan diri ia tega mengutuk dan bersumpah menyangkali gurunya. Pada dini hari itu, kokok ayam segera mengingatkannya akan kata-kata Yesus. Dengan lunglai laki-laki dewasa itu menangis dengan pilu. Hancur semua yang dibanggakannya. Ia menyadari kesalahan besar yang telah dibuatnya. Namun kemudian pada hari setelah kebangkitanNya, di Danau Tiberias Yesus secara khusus berdialog dengan Petrus. Yesus mengetahui penyesalan hati Petrus. Ia memulihkan hati Petrus dan sekali lagi mengucapkan kata-kata yang dulu juga pernah diucapkanNya, “Ikutlah Aku!” Yesus mempercayakan jemaatNya kepada para rasul dan menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Akhir yang mulia.

Respons yang benar selalu mampu mengubah kesalahan menjadi sebuah pembelajaran untuk meraih kemenangan. Bagaimana dengan kita sendiri? Apa respons kita saat menghadapi kesalahan?

Respons yang tepat untuk memperbaiki kesalahan

Kesalahan bisa terjadi baik karena kelalaian diri sendiri ataupun karena faktor lain di luar diri pribadi, namun kesalahan selalu mendatangkan kerugian dan konsekuensi. Mungkin kita tidak punya pilihan lain ketika terlanjur melakukan kesalahan, tetapi selalu tersedia banyak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Sebenarnya, banyak hal yang fatal terjadi bukan ketika kesalahan dilakukan, tetapi justru karena respons kita yang keliru. Panik, takut, bingung, mencari kambing hitam atau berusaha untuk membela diri dan menutup-nutupi kesalahan, semuanya itu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, respons yang keliru membuat situasi menjadi lebih buruk lagi.

Diperlukan titik balik untuk mengubah pandangan kita terhadap sebuah kesalahan. Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan mungkin bisa menjadi suatu pijakan untuk permulaan yang baru. Kuncinya adalah kebesaran jiwa untuk mengakui kesalahan dan kerendahan hati untuk memperbaikinya. Bagaimana mengembangkan sikap seperti ini?

1. Mengakui kesalahan
Tak seorangpun yang luput dari sikap khilaf dan alpa. Kita pasti pernah membuat kesalahan. Sayangnya, tidak semua orang mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Padahal, menutupi kesalahan sama seperti menyimpan bara dalam sekam. Suatu ketika pasti terbakar. Menutupi kesalahan didorong oleh kepercayaan akan banyak mitos yang keliru tentang kesalahan. Ada orang yang menganggapnya sebagai aib, maka tabu jika ketahuan salah. Sebagian lain merasa takut dihukum atau dihakimi karena kesalahan itu. Sesungguhnya jika diakui secara terbuka dan obyektif, kesalahan dapat menjadi pembelajaran dan proses pengembangan karakter yang efektif.

2. Menerima koreksi
Kita mempunyai sepasang mata untuk melihat diri sendiri, tetapi semua tatapan orang lain pun tertuju pada diri kita, dan mereka akan melihat dengan lebih baik. Artinya, koreksi yang efektif berasal dari orang lain. Koreksi memang tidak selalu menyenangkan. Sering kali muka kita jadi merah saat dikoreksi. Namun seharusnya kita bersyukur karena ada orang yang mau peduli dan memberi masukan. Tiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda saat memberi koreksi atau masukan. Sebaiknya, koreksi atau masukan itu diterima dengan hati lapang, sambil kita juga tetap menyaring masing-masingnya, apakah benar relevan dan bermanfaat.

3. Menemukan titik kritis
Banyak pemicu yang membuat sebuah kesalahan bisa terjadi. Titik sering terjadinya kesalahan disebut sebagai titik kritis. Inilah titik tempat orang bisa berasumsi, seakan-akan seluruh situasinya serupa padahal tak sama. Banyak keputusan keliru atau kesalahpahaman terjadi karena asumsi. Titik kritis juga berarti kelemahan pribadi atau hal-hal yang perlu diwaspadai. Titik kritis setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Ada yang pelupa, suka nekat, ragu-ragu, kuatir, apatis, mudah bosan, kurang inisiatif, perfeksionis, ceroboh, dan lain-lain. Dengan menemukan titik kritis, kita bisa melakukan antisipasi untuk menghindari kesalahan.

4. Berkomitmen untuk perbaikan.
Pepatah berkata bahwa langkah terakhirlah yang menentukan. Tetapi sebenarnya, perbaikan perlu dilakukan sesegera mungkin, maka jangan tunggu saat terakhir baru mau berubah. Mungkin saja, kesempatan sudah berlalu tanpa menunggu kita.
Langkah perbaikan membutuhkan komitmen, karena kita cenderung mengulang kesalahan yang sama. Jika kita bisa belajar dan memperbaiki kekurangan yang ada, kita memiliki pengalaman untuk tidak jatuh pada kegagalan yang sama.

5. Melakukan restitusi
Restitusi biasanya kurang lazim dilakukan, meskipun sebenarnya ada proses pemulihan yang membutuhkan penggantian kerugian baik moral maupun material. Jika ada pihak-pihak yang telah dirugikan karena kesalahan yang terjadi, kita perlu melakukan restitusi. Namun, restitusi bukan berarti segalanya telah impas. Restitusi tidak menghapus kesalahan yang telah dibuat. Sebaliknya, restitusi merupakan penggantian kerugian yang sepatutnya sebagai konsekuensi atas sebuah kesalahan.

Word of Wisdom : Ketelitian menghindarkan kesalahan. Koreksi mencegah kesalahan-kesalahan berikutnya.

Author


Avatar