Karakter, Ragam

Role Model : Keteladanan

Sebuah perumpamaan berkata seorang bayi yang lahir bagaikan kertas yang putih; dan memang manusia tidak pernah terlahir punya pengalaman tentang hari esok. Namun, sebenarnya kita semua dapat belajar dari hari kemarin dan dari pengalaman orang lain. Kita meninggalkan jejak di belakang kita dan bisa menilai tapak kaki di depan dengan melihat kehidupan orang lain. Kehidupan seseorang dinilai bukan dari apa yang dimilikinya di tampilan luar, tetapi dari sikap dan nilai-nilai yang terpancar dari dalam dirinya.

“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” – (1 Timotius 4:12b)

Arti Keteladanan
Keteladanan adalah kesanggupan untuk memberi pengaruh dan dampak positif pada orang-orang sekitar melalui sikap, tingkah laku, tutur kata, kasih, loyalitas, dan komitmen. Keteladanan melibatkan kemampuan untuk memancarkan karisma dan menularkan karakter secara positif. Keteladanan juga merupakan kualitas hidup yang menunjukkan nilai-nilai universal, yang didasarkan atas kasih dan kebenaran. Menjadi teladan berarti memberi contoh yang patut diikuti, dengan meninggalkan petunjuk/rambu-rambu yang memudahkan orang lain untuk mencapai kondisi hasil yang serupa, atau bahkan lebih baik.

Mengapa Keteladanan Diperlukan?
Keteladanan diperlukan agar generasi selanjutnya, orang-orang yang dipimpin atau di sekitar kita dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keteladanan diperlukan demi terciptanya lingkungan jemaat dan masyarakat yang sehat, positif dan inovatif.

Bagaimana Caranya Menjadi Teladan?

Menjaga perkataan
Tutur kata yang baik menunjukan kedewasaan iman. Apa yang keluar dari mulut mencerminkan isi hati. Kalau hati kita baik, dari mulut kita akan keluar kata-kata yang baik; begitu juga sebaliknya, hati yang buruk akan menghasilkan perkataan yang buruk.

Bagaimana cara menjaga perkataan kita, supaya perkataan kita menjadi teladan?

Berdoa meminta pertolongan Tuhan (Mzm. 141:3); seperti pemazmur, yang meminta pertolongan Tuhan untuk menjaga mulut dan bibirnya. Tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara (Mzm. 39:2). Lidah seperti api yang dapat membakar, maka sebaiknya kita diam saja daripada berkata-kata yang sia-sia. Berpikir dahulu sebelum berbicara akan menolong kita terhindar dari perkataan yang tidak bermakna. Tidak menyebarkan gosip, berita hoaks, fitnah, dan tidak berkata kotor serta tidak berkata-kata yang membangkitkan kemarahan bagi orang lain (menjadi provokator).

Menjaga tingkah laku
Kita tidak hanya belajar pandai dalam memahami Firman Tuhan, tetapi juga wajib rajin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu diwujudkan dalam setiap tingkah laku yang menyerupai Yesus, mengampuni, tidak mendendam, rendah hati, tidak egois, selalu penuh sukacita, selalu menyapa orang lain dengan ramah, tidak merampas hak orang lain, dan hal-hal lain yang Yesus lakukan/hidupi. Ketika Firman Tuhan benar-benar menjadi gaya hidup kita, Firman itu akan menarik banyak orang untuk meneladani hidup kita.

Membangun kasih
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Meningkatkan kesetiaan
Kata “kesetiaan” dalam bahasa Yunani ialah “pistis”- yang berarti kepercayaan, iman, kesetiaan. Secara umum, kata ini menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepada-Nya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama, ”pistis”; iman kepada Tuhan memang selalu membawa kepada kesetiaan mengikut dan melayani Dia

Menjaga kesucian
Kesucian berasal dari kata “suci” yang berarti keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia atau tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hati yang suci terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, tetapi terutama kesucian batiniah. Ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang tampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan diri kita dan sesama kita itu tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14)

Author


Avatar